
Seminggu sudah waktu berlalu Amara dan Fauzan tak berkomunikasi karena Delia masih menjadi sekretaris pria yang berhasil membuat jantungnya selalu berdebar.
Amara merasa Fauzan lebih memilih mempertahankan Delia sebagai sekretarisnya daripada mengabulkan permintaannya. Demi kebaikan Fauzan dan dirinya sehingga ia merasa harus menjauh sementara waktu. Semua akses Fauzan ia tutup bukan karena tak ingin berhubungan lagi hanya saja Amara memiliki pemikiran sendiri bahwa jika pria itu memang ingin membangun komunikasi yang baik dengannya maka mereka harus bertemu dan berbicara dari hati ke hati bukan by phone.
Amara bukanlah tipe wanita yang cengeng dan akan mengurung diri berhari-hari hanya karena pertengkarannya dengan sang kekasih. Masih banyak yang harus ia capai di usianya yang masih muda, pengalaman hidupnya masih jauh dari kata cukup. Bagaikan gayung bersambut, kedatangan adik sepupunya bisa ia manfaatkan untuk melanglang buana dan bersenang-senang sedikit sekaligus mencari pengalaman.
Keluarga besar Arya dan Queen kini sedang berkumpul merayakan kepulangan Dika putra sulung pasangan Kiandra dan Steven yang berarti cucu kedua dalam trah keluarga. Amara segera memanfaatkan kesempatan untuk menyerahkan perusahaan keluarga ke tangan cucu laki-laki yang memang seharusnya lebih berhak. Amara ingin menjauh sejenak dari rutinitasnya dan mencari suasana baru.
"Opa, oma dan semuanya, Ara ingin mengundurkan diri dari perusahaan biarlah Dika yang mengurus perusahaan. " ucap Amara tanpa basa basi
"Lho sayang, tidak boleh seperti itu, kalian berdua harus terlibat. Perusahaan itu sangat besar dan akan lebih baik kalau kalian generasi muda bekerjasama melanjutkan perusahaan. " balas Arya
"Bener kata opa sayang, beberapa bukan lagi twins A pun akan kembali dan berkumpul bareng kita, kalian berempat akan bersama memajukan perusahaan. " Queen ikut menimpali ucapan suaminya
"Interupsi mom, Anggara dan Anggita gak akan ikut ambil bagian di perusahaan daddy. Perusahaanku dan perusahaan papa membutuhkan mereka berdua. Aku dan Sea juga perlahan ingin mundur dan menikmati hari-hari kami. " ucap Kiano serius.
" Lantas perusahaan milikku dan milik Kiandra siapa yang urus ?" celetuk Steven tanpa sadar.
"Buat lagi anak yang banyak, Yah ,,," balas Dika tanpa dosa.
Semua tertawa mendengar usulan tak berakhlak pria muda nan tampan jiplakan Steven dan Kiandra, kecuali Amara. Ia serius dengan ucapannya. Apapun keadaannya ia harus mencari cara agar bisa melaksanakan niatnya.
"Ara serius opa ,,, aku ingin melanjutkan pendidikan. " Amara sengaja mengambil alasan pendidikannya karena pasti semua akan setuju.
"Kamu sudah terlalu cerdas, sayang. Wanita akan sulit menemukan jodoh jika terlalu cerdas3." balas Queen tak setuju.
"Ok, papi setuju tapi di negara mana rencananya sayang." Keanu sangat antusias mendengar penuturan putri tunggalnya.
__ADS_1
"Belum tahu pi, makanya Ara harus mengunjungi beberapa negara untuk melihat langsung agar busa memutuskan dan tidak salah pilih. " balas Amara tersenyum manis.
"Ya sudah, opa juga setuju. " Arya akhirnya memberikan persetujuan.
Tak ada yang mengetahui alasan sebenarnya tiba-tiba Amara meminta Dika menggantikannya dan beralasan melanjutkan pendidikannya. Semua menyepakati keinginan Amara yang akan berangkat besok lusa. Artinya Amara terlalu natural sehingga tak ada yang menyadarinya.
Selesai acara penyambutan Dika ala keluarga besar Arya, satu per satu mereka masuk kedalam kamar masing-masing dengan perasaan bahagia kecuali Dika yang lebih memilih masuk ke kamar Amara.
"Kak, besok ajari aku tentang perusahaan Jewellery Design. " ucap Dika saat telah berada di dalam kamar Amara.
"Besok aku mungkin agak telat karena harus mengurus sesuatu, tapi jangan khawatir om Satria akan menjelaskan semuanya secara rinci. Persiapkan dirimu karena besok juga kakak secara resmi akan menyerahkan perusahaan padamu. " jelas Amara tersenyum lebar.
"Aku gak mau kalau kakak menyerahkan perusahaan secara resmi padaku, itu artinya kak Ara berencana untuk tidak akan kembali terlibat. " tolak Dika tegas.
"Memang harus seperti itu, dek karena kakak akan pergi, bagaimana jika tiba-tiba ada yang membutuhkan tanda tangan pimpinan perusahaan. " Amara berusaha meyakinkan adik sepupunya itu.
"Baiklah, apapun keinginanmu. Sekarang lebih baik kamu keluar, kakak ingin istrinya karena besok akan sedikit sibuk. " usir Amara halus.
Setelah Dika keluar dan pintu tertutup rapat, Amara tersenyum lebar seraya membuang tubuhnya diatas kasur empuk miliknya. Ia memiliki berbagai rencana dalam kepalanya. Amara hanya memerlukan ijin dari keluarganya mengenai kehidupannya dimanapun ia berada tak akan menjadi persoalan. Bermodalkan kecerdasan yang ia miliki membuat dirinya selalu optimis.
Saat ingin mengarungi dunia mimpi, ingatan Amara tiba-tiba terhenti pada sosok pria tampan yang sempat membuatnya selalu tersenyum.
'Apa kabarmu, kak ? tidakkah kamu melihat itikad baikku ? semoga setelah aku pergi otak polosmu bisa bekerja dengan baik sehingga kamu menyadari siapa sekretarismu sebenarnya. ' batin Amara masih dengan mata tertutup.
'Ya Tuhan, hindarkan kak Fauzan dari bahaya dalam hidupnya. ' doa Amara tulus sebelum beralih kedunia mimpi yang indah.
ππππ
__ADS_1
Langit tampak begitu cerah, nyanyian merdu burung-burung saling bersahutan terbang kesana kemari meramaikan langit menyambut pagi. Penduduk bumi pun perlahan menyibak selimutnya dan meninggalkan tempat tidur yang begitu nyaman. Waktunya untuk beraktifitas dan melakukan rutinitas masing-masing.
Amara masih setia dengan selimutnya yang hangat. Hari ini ia bisa sedikit bersantai karena Dika akan menggantikannya di perusahaan. Ingatkan Amara yang harus berterima kasih pada adiknya itu.
Jam menunjukkan pukul 08.30 saat Amara perlahan membuka matanya menyesuaikan cahaya matahari pagi yang sudah mulai menyengat kulit halusnya. Merasa nyawanya sudah terkumpul, Amara segera membersihkan diri kemudian bersiap menyelesaikan urusan perusahaan PT Glo_Tech, ia berencana mengembalikan perusahaan Ferdy. Amara tak ingin memiliki perusahaan hasil taruhan.
Empat puluh menit kemudian Amara tiba dikantor notaris keluarganya, ia langsung menemui om Beny pemilik kantor tersebut.
"Selamat siang om ,,," sapa Amara saat melihat pria yang dipanggil om Beny sedang duduk dikuasai kebesaran dalam ruangannya.
"Nak Ara ?? ayo masuk ,,, tumben mengunjungi om. " balas om Beny ramah.
Amara kemudian menyampaikan tujuan kedatangannya pada om Beny. Ia tak memiliki waktu yang banyak karena hanya hari ini kesempatannya untuk menyelesaikan semua urusannya sehingga tak akan mengganggu petualangannya.
"Ok, semua akan selesai tepat waktu. " ucap om Beny.
"Thanks om, Ara pamit. " balas Amara sekaligus pamit undur diri.
Waktu menunjukkan pukul 11.30, saat Amara kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan. Sejak tadi Dika mengirimkan banyak pesan agar ia segera ke perusahaan. Melirik jam tangan yang melingkar manis pada pergelangan tangannya, Amara menarik napas panjang mengingat saat mereka selalu makan siang bersama. Amara menggeleng-gelengkan kepalanya agar ingatan itu terpental keluar dari otaknya.
πΆπΆπΆπΆπΆ
selamat pagi readers kesayangan
maaf ya, upnya satu bab setiap hari soalnya othor ikut event yang akan diundang tanggal 2 mei.
Terima kasih atas dukungan dan pengertiannya
__ADS_1
Love you allπ€π€π€