
Dengan wajah sedih, Shinta menghampiri putra bungsunya yang sedang meringis kesakitan, beruntung fisiknya kuat sehingga hanya merasakan sedikit nyeri pada lengannya dan punggungnya yang menabrak tiang berikut manekin mamanya.
"Fer ,,, Mama mohon hentikan. " ucap Shinta memeluk lembut putra bungsunya.
"Tapi, ma ,,, belum tentu tantangan berikutnya gadis itu bisa menang. Aku akui dia jago berkelahi tapi biasanya gadis seperti itu otaknya kosong." balas Ferdy semakin penasaran dengan Amara.
"Kamu salah jika pikiranmu seperti itu, dia gadis yang sangat cerdas cucu bapak Arya sang legendaris dunia bisnis keturunan langsung salah satu triple K yang terkenal dengan kecerdasannya. " timpa,dan Fauzan gemas dengan keteledoran adiknya.
"Ck, kakak jangan mengada-ada." balas Ferdy tak percaya.
"Terserah jika kamu ingin kehilangan perusahaanmu. " ucap Fauzan kesal kemudian meninggalkan mama dan adiknya.
Melihat Ferdy kesakitan membuat Amara tak enak hati pada pak Santoso dan istrinya yang begitu baik namun sikap putranya itu yang membuatnya merasa harus memberikan pelajaran agar sadar bahwa wanita harus dihargai dan dihormati karena merekapun terlahir dari rahim seeorang wanita.
"Aku ingin menantangmu di bidang IT." ucap Ferdy lantang disertai dengan ringisan pada sudut bibirnya.
"Apa anda yakin ?" tanya Amara datar. Bukan ia bermaksud memprovokasi pria muda itu hanya saja wajah Amara memang seperti itu apalagi jika sedang kesal.
Peresmian butik Nyonya Shinta berubah jadi arena pertarungan, pak Santoso tak bisa berkutik, ia tak ingin ikut campur. Sebagai orang tua pak Santoso berharap setelah ini putra bungsunya itu akan semakin dewasa dan merubah sifatnya yang suka gegabah dan merasa paling pintar.
"Kita memakai laptop yang baru agar tak ada kecurangan. " tandas Ferdy memberi kode pada asisten papanya. Kebetulan mamanya memang sudah menyiapkan laptop untuk kepentingan butiknya karena mereka akan bekerja sama dengan beberapa desainer luar.
"Terserah anda saja, silahkan dimulai dan katakan jenis tantangannya agar tak membuang-buang waktu. " balas Amara dingin.
"Aku ingin anda membuka sistem keamanan data perusahaanku dalam waktu kurang dari lima menit. " ucap Ferdy angkuh. Ia sangat yakin dengan kemampuannya dan nama besarnya di dunia Cyber.
"Apa nama perusahaan anda ?" tanya Amara tersenyum manis bahkan lebih manis dari gula.
"PT. Glo_Tech" balas Ferdy masih dengan nada yang sama.
__ADS_1
"Apakah perusahaan ini yang akan jadi milikku ?" tanya Amara dengan jari-jarinya yang lincah menari diatas keyboard.
"Jika nona berhasil membuka sistemnya. " balas Ferdy tersenyum mengejek.
"Silahkan anda mengecek data perusahaan anda." ucap Amara tersenyum lebar.
"Kurang dari lima menit." lanjut Amara mengakhiri aksi jari-jarinya.
"Kau !!!" Ferdy tak melanjutkan ucapannya, wajahnya memucat, ia tak menyangka gadis ini bisa lebih unggul darinya padahal di dunia Cyber namanya cukup diperhitungkan.
'Mungkinkah gadis ini adalah salah satu cyber yang jadi perbincangan di kalangan cyber di tempatnya menuntut ilmu ?' batin Ferdy menatap Amara tak percaya.
"Saya harap tantangan anda cukup sampai disini karena saya tidak ingin hidup anda melarat hingga tak seorang gadispun yang akan melirik anda. "ucap Amara menepuk-nepuk pundak pria muda yang ia perkirakan umur ,ereksi sepantaran.
Amara kemudian mendekati pak Santoso dan istrinya untuk meminta maaf atas kekacauan yang sebenarnya bukan dirinya yang melakukannya akan tetapi bagaimanapun ceritanya tetap dirinya ikut terlibat.
"Om, bu ,,, maafkan Ara atas kekacauan ini. " ucap Amara tulus.
"Bukan salah ibu tapi putra ibu yang gegabah dan tidak memperhitungkan kemampuan lawannya. " ucap Amara tersenyum manis pada Shinta.
"Ini adalah salah satu bentuk kegagalan kami sebagai orang tua, nak. " timpal pak Santoso merasa bersalah pada gadis muda yang cantik dan sopan dihadapannya.
"Tidak om, buktinya putra sulung om sangat baik dan tenang walaupun sedikit menjengkelkan. " balas Amara memuji dan mencerca Fauzan dalam waktu yang bersamaan.
Mendengar gadis kecilnya memujinya membuat hati Fauzan berbunga-bunga namun sebelum bunganya bertebaran tiba-tiba kembali gugur saat mendengar ucapan terakhir gadis yang membuat dunianya jungkir balik.
"Apa om tak salah dengar ? nak Amara baru saja memuji anak sulung om ?" tanya pak Santoso serius
"Memang begitulah adanya." balas Amara apa adanya karena para hadirin pun akan berpendapat sama dengan dirinya.
__ADS_1
Amara kemudian mendekati Ferdy dan mengajaknya bersalaman, ia tak ingin ada dendam di hati Ferdy, bukan karena ia takut akan tetapi perusahaan pak Santoso baru beberapa bulan yang lalu mereka kembali menandatangani kerjasama yang baru. Mengenai perusahaan Ferdy, suatu saat ia akan mengembalikannya biarlah sementara waktu Ferdy belajar untuk lebih dewasa lagi.
"Namaku Amara ,,," ucap Amara mengulurkan tangannya pada Ferdy.
"Kalau sejak tadi kamu sebutkan nama maka aku gak akan kesakitan begini dan perusahaan pun hilang. " balas Ferdy menyambut uluran tangan Amara.
"Jangan khawatir perusahaanmu aman ditanganku, jika kamu bisa lebih menghargai orang lain mungkin saja perusahaanmu akan kembali menjadi milikmu. " ucap Amara tulus.
Queen dan Arya serta anak-anaknya kemudian mendekati pak Santoso dan Shinta untuk berpamitan.
"Terima kasih pak, bu ,,, butiknya sungguh luar biasa. " ucap Queen jujur
"Maafkan kelakuan putra kami bu, pak ,,," balas pak Santoso merasa tak enak karena telah menyinggung Arya sekeluarga.
"Gak apa-apa pak, anak muda memang seperti itu, gak ada yang mau mengalah. " Arya ikut menimpali.
"Maaf bu Queen, apa kami boleh berkunjung ke rumah kalian suatu saat nanti ?" tanya Shinta tak dapat lagi menahan diri.
" Tentu saja bu, pintu rumah kami selalu terbuka bagi siapa saja. " balas Queen antusias.
"Baiklah bu, kami pamit. " lanjut Queen kemudian bersalaman dengan pak Santoso dan Shinta istrinya, hal yang sama diikuti oleh anak-anaknya kecuali Kalista yang sedang menemani Seno melakukan perjalanan dinas.
🎶🎶🎶🎶
Selamat pagi readers yang baik hati
Bentar lagi lebaran semoga puasanya masih lancar bagi yang menjalankan ibadah puasa
Terima kasih atas dukungannya
__ADS_1
Salam hangat dari dunia halu