RUSUK SANG BILLIONAIRE

RUSUK SANG BILLIONAIRE
PART 125


__ADS_3

Tiba diperusahaan, Fauzan dan Ferdy berjalan berdampingan memanjakan mata para karyawan yang berjenis kelamin perempuan. Sebuah pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Dua pemuda tampan nan tajir impian para gadis sedang melintas di depan mereka dengan gaya coolnya meruntuhkan iman kaum hawa. Ferdy yang apda dasarnya penyuka gadis-gadis memperlihatkan senyuman mautnya sedangkan Fauzan menyeret adiknya agar tak terlibat dengan karyawannya.


"Apaan sih, kak ,,, gak mau melihatku bersenang-senang sedikit saja." dumel Ferdy terpaksa mengikuti langkah panjang Fauzan memasuki lift


"Jangan lupakan tujuanmu kesini. " tegas Fauzan saat mereka telah berada di dalam lift.


"Tentu saja, demi membalas kebaikan Amara yang telah mengembalikan perusahaanku bersama semua keuntungan perusahaan selama ia mengambil alih. " ucap Ferdy dengan senyum merekah


ting


Lift berhenti bersamaan dengan pintunya terbuka lebar. Dengan langkah pasti kedua pemuda itu keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan yang bertuliskan CEO dengan huruf kapital.


"Buatkan aku kopi panas !" perintah Ferdy pada Delia.


"Baik pak." balas Delia memamerkan senyum manisnya


"Cepat, aku gak butuh senyuman jelek itu. " sarkas Ferdy membuat Delia buru-buru meninggalkan mejanya menuju dapur.


Melihat Delia menghilang di balik dapur, dengan cekatan Ferdy membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah kamera kecil bahkan teramat kecil dan menempelkannya pada pilar sehingga mampu menjangkau pergerakan Delia. Pekerjaan yang sangat gampang bagi Ferdy yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk berjaga-jaga Ferdy pun meretas ponsel Delia yang tergeletak bebas di meja kerjanya.


"Beres. " sudut bibir Ferdy tertarik kemudian menyusul Fauzan ke dalam ruangannya.


Braakkk


"Sudah selesai ?" tanya Fauzan tak kaget saat pintu ruangannya terbuka secara kasar, siapa lagi yang berani kurang ajar kalau bukan adiknya sendiri.


"Beres ,,, berikan laptop kakak, aku akan menyambungnya agar mata kakak terbuka lebar. " ucap Ferdy langsung mengambil alih laptop Fauzan.


"Sekalian kita retas ponselnya agar bisa mengetahui apa saja kelakuan sekretarismu itu. " lanjut Ferdy dengan tangan terus menari-nari diatas laptop Fauzan.


tok


tok


tok


"Masuk. " ucap Fauzan mempersilahkan masuk

__ADS_1


"Permisi pak, minuman anda sudah siap. " Delia sedikit menundukkan kepalanya pada kedua pria muda itu.


"Simpan saja disitu dan Cepat keluar, jangan mengganggu kami. " tukas Ferdy datar


Delia terbeliak kaget mendengar suara Ferdy yang selalu ketus menyerahkan jika adik bosnya itu tak menyukai dirinya. Dengan cepat Delia keluar dari ruangan tersebut, ia tak ingin lagi mendengar suara ketus dari pria tampan itu.


"Mulai sekarang kakak harus lebih tegas dan menunjukkan posisi Delia yang sebenarnya. " ucap Ferdy terkesan menggurui Fauzan.


"Tapi dek, gadis itu juga manusia yang punya hati dan perasaan. Kasihan jika kita berkata kasar sementara dia bekerja untuk kita." balas Fauzan pelan.


"Kak, kita ini bukan berada di lingkungan pesantren Kiyai Mustofa yang belajar ilmu agama akan tetapi kita sedang berada di perusahaan yang mau tidak mau , siap tidak siap kita berhubungan dengan berbagai karakter dan kebetulan sekretaris kakak adalah karakter yang bisa merugikan kehidupan asmara kakak. " Ferdy gemes mendengar kata-kata kakaknya yang kelewat polos.


"Atau gini aja, selama kakak belum mengganti sekretaris genit itu, aku akan jadi asisten pribadi kakak yang akan selalau ikut kemanapun agar pekerjaan Riko sedikit lebih ringan. " lanjut Ferdy serius.


"Tapi gimana perusahaanmu ,,," Fauzan bukannya tidak mau akan tetapi bagaimanapun perusahaan adiknya juga lebih penting.


"Ada asisten dan sekretarisku yang bisa dipercaya dan mereka juga gak akan berani macam-macam. Mereka terlalu takut dan tahu akibat jika berani menggangguku. " balas Ferdy apa adanya.


Fauzan tak lagi menimpali Ferdy, ia segera meraih kembali laptop yang masih berada di depan adiknya. Seketika matanya melotot sempurna mendengar Delia berbicara dengan seseorang yang walaupun belum ia ketahui namun kata-katanya sangat mengejutkan Fauzan.


Ferdy tersenyum miring kemudian mengambil ponselnya dan melihat nomor yang ditelepon oleh Delia. Semua pembicaraan Delia terdengar tanpa disadari oleh gadis itu. Ferdy benar-benar patut diacungi jempol, keahliannya sungguh sangat luar biasa. Othor pun tak tahu bagaimana cara Ferdy melakukannya. (ngomel boleh tapi jangan protes ya, ini hanya dunia novel๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿคฃ).


"Belum sehari sudah terbukti kan ?? seandainya kakak mendengarkan Amara pasti saat ini kalian sedang mesra-mesraan, tapi sangat disayangkan Amara sudah pergi entah kemana. " lanjut Ferdy menatap sinis Fauzan yang terdiam dan hanya bisa menyugar rambutnya.


"Bantu kakak menemukan Amara. Gunakan keahlianmu. " pinta Fauzan dengan tatapan memohon.


"Pecat Delia sekarang juga jika ingin meminta bantuanku. " tandas Ferdy tak bisa ditawar lagi.


"Bagaimana caranya ?" tanya Fauzan bingung


"Panggil dia dan perlihatkan buktinya. Jika kakak tidak memiliki kata-kata-kata yang tepat, biarkan aku yang melakukannya." tegas Ferdy.


"Tapi pekerjaan hari ini banyak, bagaimanapun aku masih butuh tenaga Delia. " ucap Fauzan apa adanya.


"Aku yang akan mengerjakan pekerjaan Delia dan suruh bagian HRD membuka lowongan pekerjaan untuk sekretaris, aku yang akan menyeleksinya." balas Ferdy serius, ia tak ingin lagi kakaknya terlibat masalah.


"Baiklah, lakukan sesuai keinginanmu. " ucap Fauzan pada akhirnya. Ia dirundung penyesalan saat ini.

__ADS_1


Ferdy kemudian melongokkan kepalanya memanggil Delia yang baru saja menyelesaikan panggilan selulernya.


"Delia ! kemari !" panggil Ferdy dingin. Emosinya benar-benar tak dapat ia tahan mengetahui siapa Delia yang sebenarnya.


"Ya pak, ada yang bapak butuhkan ?" tanya Delia dengan senyum manisnya namun bagi Ferdy senyum itu sangat memuakkan.


"Bereskan barang-barangmu karena perusahaan ini tak membutuhkan sekretaris yang berkomplot dengan seseorang untuk menjebak CEO PT. Dwi_Zan. " sarkas Ferdy menuduh Delia terang-terangan.


"Apa maksud anda, pak ,,, saya tidak mungkin melakukan hal itu karena saya mencintai pak Fauzan. " ucap Delia terus terang.


"Karena itu kamu tega mengarang cerita yang memfitnah Amara ?" lagi-lagi Ferdy menuding Delia dengan sinis.


Delia terbelalak mendengar tuduhan Ferdy. Delia tak bisa lagi berkelit karena semua yang dikatakan oleh Ferdy adalah benar adanya.


flashback on


"Serbuk apa yang kamu berikan pada teh Amara ?" tanya Fauzan


"Itu hanya gula tropicana slim pak, nona Amara memang tidak menyukaiku entah apa sebabnya. " balas Delia dengan airmata buayanya


"Dan asal bapak tahu, baru saja nona Amara menamparku dan itu sudah sering ia lakukan tapi aku diam saja karena tak ingin kalian bertengkar karena diriku. " lanjut Delia disertai isakan sehingga membuat Fauzan merasa kasihan.


Tanpa berkata-kata lagi, Fauzan menghampiri Amara dan menyatakan kekecewaannya. Amara yang merasa tidak bersalah meminta agar Fauzan mengganti sekretarisnya namun Fauzan yang merasa kasihan pada Delia tak mendengar ucapan Amara.


flashback off


Karena tak ingin jika Delia melakukan sesuatu pada berkas-berkas yang sedang ia kerjakan maka Ferdy segera ke keluar mengamankan berkas dan laptop yang masih menyala di meja Delia sambil menunggu Delia mengawasi barang-barangnya.


๐ŸŽถ๐ŸŽถ๐ŸŽถ


Selamat membaca readers kesayangan ,,,,


Bentar lagi ramadhan akan meninggalkan kita semoga kita masih bertemu dengan ramadhan akan datang ,,,


Terima kasih atas segala dukungannya


salam hangat dari dunia halu.

__ADS_1


__ADS_2