RUSUK SANG BILLIONAIRE

RUSUK SANG BILLIONAIRE
PART 106


__ADS_3

Pesta berubah kacau sesaat setelah Amara dengan tanpa perasaan menarik semua sahamnya pada perusahaan PT. Ramoes teriakan histeris Tia tak busa mengubah keadaan. Para tamu undangan bergidik ngeri melihat wajah dingin Amara sedangkan gadis yang sempat ikut-ikutan menghinanya entah kemana.


Karena kesombongan wanita paruh baya itu maka para tamu hanya prihatin sesaat dan kemudian mereka kembali menikmati pesta. Amara dan Anggita pun kembali duduk manis seolah tak pernah m3nghempaskan seseorang ke jurang kemiskinan.


"Ara ?? kamu kan gadis kecil itu ??" Fauzan semakin mendekat hingga berjarak yang lumayan dekat. Sungguh ia tak menyangka akan bertemu dengan gadis kecil yang memiliki hatinya sejak itu.


"Maaf, mungkin anda salah orang." balas Amara dingin. Amara tak ingin dimanfaatkan oleh pria muda itu.


Pak Santoso memberi kode pada putranya kembali ke panggung untuk melanjutkan acara setelah tertunda sesaat karena insiden adiknya.


"Aku ingin bicara dengan, Ra ,,," ucap Fauzan sebelum meninggalkan meja Amara dan Anggita.


Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Amara, hanya tatapan datar tanpa ekspresi yang senantiasa ia perlihatkan.


"Kak Ara pernah bertemu dengan putra mahkota pak Santoso ??" tanya Anggita penasaran.


"Liat dia aja hanya ketika di pesantren pak Kiyai Mustofa. Biasalah akal-akalan pria jika ingin kenalan. " jawab Amara cuek.


"Waktu di pesantren aja mukanya datar setelah tahu siapa kita, barulah sok akrab. Dasar laki-laki. " lanjut Amara mendumel


" Jangan gitu, kak ,,, manatau Sang Pemilik Takdir mengirimkan dia sebagai pendamping hidup kakak. " ucap Anggita tersenyum manis

__ADS_1


"Ck, gaklah. Aku akan berdoa disepertiga malam agar bukan dia jodohku. " balas Amara asal padahal kata-kata itu ia jiplak dari novel yang pernah ia baca. Ingatkan ia jika bangun tahajjud hanya dilakukannya jika di pesantren pasalnya dirinya sangat susah bangun tengah malam.


Sementara dari atas panggung, mata Fauzan sesekali melirik Amara sambil tersenyum membuat sang mama menyenggol lengannya.


"Mama dukung kamu jika ingin melamar gadis itu. " bisik Shinta tersenyum lebar.


Sejak pulang ke tanah air, sudah berkali-kali Shinta meminta putra sulungnya itu agar menikah dengan gadis mana saja yang ia pilih namun putranya itu tak pernah menanggapinya dengan serius pun begitu jika Shinta ingin mengenalkan seorang gadis padanya tak pernah ada tanggapan.


"Aku menyukainya sejak dia masih kecil, ma tapi sepertinya agak susah karena tante Tia sudah menyinggungnya biar bagaimanapun tante Tia adalah keluarga kita. Gadis mana yang akan menerima perasaan dari keluarga yang menghinanya. " balas Fauzan tak mengalihkan pandangannya pada Amara.


Shinta menatap intens putranya saat mendengar ucapan Fuazan, bukankah sejak SD putranya itu ia kirim ke pesantren ?? lalu dimana mereka bertemu ?? Shinta ingin mengetahui lebih banyak namun bukan waktu yang tepat untuk menginterogasi putranya.


"Usaha dong ,,, belum juga berperang sudah pesimis duluan. " ucap Shinta menyemangati putranya.


Setelah pak Santoso mengucapkan terima kasihnya pada para tamu undangan yang turut hadir dalam acara ulang tahun perusahaannya dan permintaan maafnya pada keluarga Arya dan Keanu Dewananda atas ketidaknyamanannya, acara kembali dilanjutkan dengan alunan musik yang mengiringi pak Santoso dan istrinya berdansa kemudian diikuti oleh para tamu undangan yang datang bersama pasangan mereka masing-masing.


Gadis-gadis yang sengaja dibawa oleh orang tua mereka berharap akan menjadi pasangan putra sulung pak Santoso agar mereka bisa lebih mempererat kerjasama perusahaan mereka.


Anggita dan Gavin telah turun dikarenakan dansa sedangkan Amara lebih memilih sibuk dengan ponselnya dan mengabaikan ajakan pria yang ingin mengajaknya berdansa. Bukan tanpa sebab Amara menolak mereka, Amara tak ingin menjadi bahan pembicaraan media yang pasti akan melibatkan nama besar keluarga besarnya.


"Gak ikutan dansa, Ra ??" tanya Seno

__ADS_1


"Gak deh om, nunggu Anggi aja senang-senang. Mau pulang tapi gak enak sama pak Santoso nanti dikiranya kurang sopan." balas Amara tersenyum manis


Seno hanya bisa manggut-manggut mendengar penuturan ponakan istrinya, ia sangat mengenal Amara jika moodnya jelek malas untuk bergerak.


"Boleh berdansa denganmu ??!!" sebuah suara mengalihkan perhatian Amara dari ponselnya.


"Gak minat, terima kasih. " balas Amara datar.


"Kalau begitu boleh aku ikut duduk sambil melihat mereka berdansa. " ucap Fauzan seraya menarik kursi disebelah Seno.


"Tentu saja boleh, dimanapun anda ingin duduk gak masalah toh yang punya hajatan adalah keluarga anda. " balas Amara formal.


Kembali Amara menarik perhatian para gadis-gadis yang sejak tadi berharap akan berdansa dengan pewaris perusahaan PT Dwi_Zan. Mereka hanya bisa menatap iri pada Amara namun takut berkomentar karena tak ingin mengalami nasib yang sama dengan adik pak Santoso. Sungguh gadis yang sangat kejam dengan terang-terangan tanpa rasa takut sedikitpun membalas perbuatan adik pak Santoso.


Sementara di lantai dansa pak Santoso dan istrinya menatap putranya sambil tersenyum penuh arti.


Malam semakin larut, acara pun berakhir. Seno dan Gavin mengiringi mobil yang dikendarai oleh Amara. Mereka tak ingin sesuatu terjadi pada kedua gadis kesayangan keluarga besar walaupun Amara dan Anggita bisa menjaga diri namun hati mereka tak akan tenang jika tak bersama-sama sampai di rumah utama.


🎶🎶🎶🎶


Selamat pagi readers

__ADS_1


Jangan lupa VOTE, LIKE dan KOMEN, ya.


__ADS_2