
Jam tujuh kurang 10 menit Dea dan Jimmy sampai di tempat meeting, Dea keluar dari mobilnya dengan sedikit takut kalau-kalau benar perusahaan Sean ikut andil dalam proyek ini.
"Apa anda baik-baik saja, wajah anda pucat sekali" ucap Jimmy khawatir.
"Tidak apa-apa aku hanya sedikit lelah saja" jawab Dea mencoba profesional.
Saat tiba di ruangan Dea sudah harap-harap cemas dan berdo'a semoga dugaannya salah. Dea masuk dengan santai dan duduk di kursinya tanpa menatap orang didepannya. Sementara itu Ken yang menyadari keberadaan Nona nya begitu kaget tapi bahagia. Sean yang saat itu sedang berada di toilet belum menyadari keberadaan istrinya diantara para relasinya.
"Maaf saya terlambat.. " ucap seseorang yang tiba-tiba masuk membuat atensi semua orang yang berada disitu teralihkan, Begitu juga Dea yang merasa sangat mengenal suara tersebut.
"Deg.. " tubuh Dea berdesir seketika mendengar suara orang yang hampir 3 tahun yang lalu tidak pernah ia dengar lagi, apalagi saat ini orang tersebut duduk tepat dihadapannya membuat mata mereka tidak sengaja terpaut.
"Bisa kita mulai meeting nya? " tanya salah satu rekasi Sean.
"Silahkan.. " jawab Sean tanpa mengalihkan pandangannya dari seseorang yang hampir 3 tahun ini ia rindukan. Meeting berjalan lancar hingga 2 jam berlalu dan setelah itu para relasi memohon pamit satu persatu.
__ADS_1
"Pak Sean kami permisi dulu.. senang bekerja sama dengan anda" pamit Jimmy pada Sean.
"Sama-sama Tuan Jimmy" jawab Sean kemudian melirik ke arah Ken.
Jimmy keluar diikuti oleh Dea yang berusaha profesional tanpa terbawa suasana hatinya yang sedang kacau. Sean terlihat kurusan dimata Dea, apa karena laki-laki itu kurang terurus sejak ia memutuskan untuk meninggalkannya. Dea terus berspekulasi dengan hatinya hingga ia tidak menyadari kalau sudah tiba di apartemen nya.
"Sudah sampai Bu" ucap Jimmy mengagetkan Dea.
"Oh iya, Terima kasih Jimmy.. " pamit Dea membuka pintu mobil.
"Siapa sih.. " lirih Dea berbalik membuka pintunya.
"Iya cari sia..? " tanya Dea terhenti saat tau siapa yang ada didepannya. Dea mencoba menutup pintu itu kembali tapi ada tangan yang menahannya.
"Sayang.. aku mau bicara sama kamu, tolong kasih aku waktu" mohon Sean dengan mata berembun membuat Dea tidak tega dan memutus kontak matanya.
__ADS_1
"Gak ada yang harus kita bicarakan, kamu pulang aja.. jangan ganggu aku lagi" kesal Dea.
"Mana anak aku..? " tanya Sean mencoba mengintip ke dalam barangkali ada tanda-tanda keberadaan anak yang ia rindukan selama ini.
"Gak ada siapa-siapa di dalam, aku sendirian dirumah" ucap Dea menatap sengit.
"Bohon.. kamu hamil besar saat kamu ninggalin aku, tolong pertemukan aku dengan dia, aku kangen Yang.. " mohon Sean.
"Gak usah sayang-sayang, kita udah gak ada hubungan apa-apa" ucap Dea.
"Kata siapa.. kamu masih istri aku, kita belum bercerai.. " jawab Sean penuh penekanan.
"Terserah kamu yang jelas aku gak mau ngomong sama kamu, pulanglah" pinta Dea.
"Kalau kamu gak mau kasih tau, aku bakalan cari tau sendiri" ancam Sean.
__ADS_1
"Silahkan.. " ketus Dea kemudian menutup pintunya membuat Sean menyugar rambutnya kesal, istrinya bener-benar keras kepala.