
"Kamu kenal sama aku? " tanya Tari bingung.
"Bisa kita bicara sebentar" ajak Viona menarik tangan Tari.
"Eh.. kamu siapa kok main tarik aja" ucap Tari risih.
"Aku punya penawaran menarik buat kamu" ucap Viona menyeringai.
"Penawaran apa? " tanya Tari bingung.
"Kamu pingin jadi model kan? " jawab Viona tersenyum semirk.
"Aku bakalan bantu kamu tapi sebelumnya kamu harus bantuin aku" ucap Viona.
"Bantuin apa? " tanya Tari curiga.
Viona mendekat dan membisikkan sesuatu pada Tari sehingga membuat Tari mendelik karena kaget.
"Gimana? " tanya Viona.
"Gak mau.. aku takut, Kak Dea adalah orang yang bantuin aku selama ini jadi aku gak mau menyakiti hatinya.
__ADS_1
" Kamu hanya perlu ajak Dea ke tempat yang sudah aku sebutkan, urusan Sean biar jadi urusan aku, setelah itu kamu bakalan jadi model terkenal sesuai mimpi kamu, gak usah jadi pembantu kayak gini" jelas Viona sedikit memaksa.
"Kak Dea lagi hamil besar, aku takut kenapa-napa dengan kandungannya" lirih Tari.
"Udahlah semua keputusan ada sama kamu, aku tunggu kabar kamu sampai besok, ini kartu nama aku.." ucap Viona sebelum beranjak.
Sepulang dari minimarket Tari terlihat gelisah dan itupun tidak lepas dari pandangan Dea yang saat itu sedang menonton televisi.
"Kamu kenapa Tari? " tanya Dea mengagetkan Tari.
"Gak apa-apa Kak, aku cuma sedikit capek aja" jawab Tari canggung.
"Kamu sakit, kalau sakit istirahat aja jangan dipaksain buat kerja" ucap Dea memperingati.
"Duh gimana ya.. masak iya aku tega khianatin Kak Dea yang sudah baik banget mau nerima aku di keluarganya, gak.. gak.. siapa tau Viona itu musuh nya Kak Dea atau mungkin orang yang ingin rebut Kak Sean.. aku harus lebih hati-hati sama tuh orang" yakin Tari dalam hati.
Sementara itu Viona yang sudah menunggu lama kabar dari Tari saat ini sedang uring-uringan karena Tari sama sekali gak merespon tawarannya.
"Brengsek.. aku harus bergerak sendiri kalau gini, Sean aku sudah tak sabar lagi ingin memilikimu selamanya" tawa Viona menggelegar di apartemennya.
*****
__ADS_1
Malam itu Sean yang sedang melakukan meeting dengan klien barunya mendadak dibuat bingung karena meeting itu diagendakan di sebuah villa dikota bandung.
"Ken apa tidak salah meetingnya disini? " tanya Sean mulai ragu.
"Benar Bos, ini Tuan Andre sudah menghubungi saya dan beliau sudah menunggu di dalam" jawab Ken kemudian keluar membuka pintu untuk Bosnya. Mereka berdua masuk disambut oleh asisten Andre yang mengantarkan mereka ke sebuah ruangan dimana meeting itu diadakan.
"Selamat Malam Tuan Sean, maaf kalau saya terpaksa mengadakan pertemuan kita disini" ucap Andre ramah.
"Tidak apa-apa Tuan Andre, bisa kita mulai meetingnya" jawab Sean.
"Bos saya tunggu diluar" pamit Ken yang di angguk i oleh Sean.
Andre menuangkan minuman ke gelas Sean sebelum memulai meetingnya.
"Silahkan Tuan Sean " ucap Andre mengarahkan gelasnya ke arah Sean.
"Terima kasih Tuan Andre" tanpa curiga Sean meminum begitu saja minuman tersebut.
Di tengah-tengah meetingnya tiba-tiba Sean merasa pusing dan mencoba menghubungi Ken tapi sayangnya mata Sea terasa berkunang-kunang sehingga ia tidak sanggup untuk menghubungi Ken.
"Tuan Sean anda baik-baik saja? " tanya Andre mendekati Sean.
__ADS_1
"Tuan Andre bisa tolong panggilkan Ken, kepala saya pusing sekali" jawab Sean lirih.
"Baiklah, tunggu sebentar" Andre berbalik dengan senyum semirknya penuh rencana jahat.