Sahabat Sejati

Sahabat Sejati
BAB 66.


__ADS_3

Dea memasuki ruang rawat Mario dengan tatapan sendu.


"Yo bangun dong.. jangan bikin gue takut lihat keadaan lo kayak gini" lirih Dea melihat sahabatnya itu masih betah memejamkan matanya. Dea menggenggam jemari Mario dengan lembut berharap memberikan kekuatan agar sahabatnya itu lekas sadar.


Hingga pagi menyingsing Dea masih menemukan Mario belum juga membuka mata sehingga ia berinisiatif untuk menghubungi Sean sebentar. Berkali-kali menghubungi tapi panggilannya tidak juga diangkat sehingga Dea beralih menghubungi Ken.


"Sementara itu Sean yang pagi itu dalam perjalanan menuju bandara sengaja mematikan ponselnya.


" Bos apa tidak sebaiknya kita menghubungi Nona terlebih dahulu? " tanya Ken untuk kesekian kalinya.


"Tidak usah Ken.. kalau dia menghawatirkan aku biar dia sendiri yang nenghungiku nanti" ucap Sean menarik nafas dalam-dalam.


"Bagaimana dia bisa menghubungi kalau Bos mematikan ponselnya" kesal Ken dalam hati tapi setelah itu dia mendengar ponselnya berdering.


"Bos.. Nona menghungiku" ucap Ken.


"Kau angkat saja.." perintah Sean.


"Ya Nona.. " Ken mengangkat telpon dan menghidupkan loudspeaker nya.


"Pak Ken apa Bos bersamamu? " tanya Dea dengan suara sedikit khawatir. Ken melihat kearah Sean dan Sean pun menggelengkan kepalanya.


"Tidak Nona.. " jawab Ken.


"kalau begitu kemana dia, apa dia sudah baik-baik saja? " tanya Dea kemudian.

__ADS_1


"Bos sedang ada dinas keluar kota Nona.." jawab Ken.


"Apa..? bukankah semalam dia sedang sakit, kenapa kau membiarkan dia pergi sendiri" umpat Dea pada Ken.


"Kalau anda menghawatirkan dia kena anda semalam meninggalkannya? " tanya Ken menohok.


"Aku.. semalam aku ada keperluan yang mendesak Pak.. " ucap Dea membela diri.


" Keperluan apa yang lebih penting darinya Nona? " ucap Ken lagi, hening sesaat setelah itu Dea mengakhiri telponnya.


"Emm baiklah aku tutup dudu ponselnya ya, aku mau bersiap dulu..terima kasih Pak Ken, tolong bilang pada Bos untuk menjaga dirinya. " pamit Dea.


"Siap Nona.. " Ken menutup ponselnya.


"Kau mendengarnya kan Bos, dia sangat menghawatirkanmu" ucap Ken.


"Oke baiklah, terserah padamu Bos.. semoga ini keputusan yang tepat" lirih Ken


*****


Sementara pagi itu Dea bersiap pergi ke kantor dengan perasaan gundah.


"Kenapa dia tidak bilang padaku kalau akan ada dinas ke luar kota, apa dia benar-benar marah padaku karena aku telah meninggalkannya malam itu" batin Dea galau.


Seminggu berjalan mereka terpisah tanpa saling menghubungi, sungguh Dea merasa ada yang kurang dalam hidupnya.

__ADS_1


"Hfff.. gini banget rasanya hidup tanpa kamu" sedih Dea.


"Hidup tanpa siapa maksud kamu? " tanya teman Dea yang tiba-tiba datang.


"Eh gak ada, cuma iseng aja kok" kikuk Dea.


"Kamu lagi patah hati ya..? " tanya temen kantornya.


"Gak tau bingung gue" keluh Dea.


"Kenapa Sih, cerita aja siapa tau gue bisa kasih solusi" imbuh temannya membuat Dea terpaksa menceritakan semua masalahnya.


"Kalau menurut gue sih seperti dia cemburu sama lo De.. " ucap temannya.


"Cemburu.. kan mereka cuma sahabat gue "


"Iya tapi kamu juga harus lebih peka dong, dia kan cowok kamu jadi wajar kalau dia lebih minta di prioritaskan dari yang lain, apalagi kata kamu dia sedang sakit" ucap temannya.


"Terus gue harus gimana sekarang? " bingung Dea.


"Ya kamu harus minta maaf ke dia, jelasin ke dia kalau kamu tidak bermaksud buat mentingin sahabat kamu" ucap temannya memberi solusi.


"Tapi nomernya masih belum bisa dihubungi sampai sekarang" sedih Dea.


"Kalau gitu coba kamu tanya ke orang terdekat dia, kamu bicara aja dari ponsel sahabatnya itu.

__ADS_1


" Iya deh nanti gue coba.. "


__ADS_2