Sahabat Sejati

Sahabat Sejati
BAB 58


__ADS_3

"Tidak ada, dia hanya ingin melihatmu saja" jelas Mama Mario.


"Yo bagaimana kabarmu hari ini? " Dea mendekati ranjang Mario dan duduk di sampingnya. Sayup-sayup mendengar suara, Mario mulai membuka matanya.


"De..kau sudah datang? " tanya Mario lirih.


"Iya.. apa kau sudah sarapan? " tanya Dea lagi.


"Aku menunggumu datang" jawab Sean mencoba duduk dan Dea pun membantunya.


"Sekarang aku sudah datang jadi kamu harus makan ya.. " ucap Dea mengambil nasi diatas nakas.


"Iya.. " Sean mengangguk dan tersenyum.


"Makanlah tepat waktu jangan menungguku, aku sekarang sudah bekerja jadi tidak bisa sering-sering menemuimu.. apa kau mengerti? " jelas Dea.


"Kau sudah bekerja.. maaf aku tidak tau" senyum Mario mengembang.


"Hari ini aku libur, aku bisa menjagamu sampai siang nanti" ucap Dea lagi.


"Nanti sore Mario sudah boleh pulang Nak" jelas Mama.


"Benarkah.. perhatikan makan mu setelah ini ya.. " pesan Dea.


"Iya.. iya bawel, aku bukan anak kecil lagi" cebik Mario. Mereka tertawa bersama hingga tanpa terasa sudah jam satu siang, Sean dari tadi sudah berkali-kali menghubunginya agar Dea segera datang.


******


Sementara itu di apartemennya Sean mulai kesal menunggu Dea, ia bahkan belum makan siang karena menunggu gadisnya datang.


"Sedang apa sih dia.. lama banget, gak tau apa aku sampai kelaparan karena menunggunya" kesal Sean.


Dea sudah dalam perjalanan menuju apartemen Sean, ia berinisiatif untuk membelikan makan siang untuk Sean karena ia yakin Bos manja nya itu pasti belum makan. Sesampainya di apartemen Dea langsung menaruh makanan di meja makan dan berjalan naik ke kamar Sean.


"Maaf aku terlambat.. " ucap Dea setelah membuka kamar Sean dan terlihat laki-laki itu duduk bersandar di ranjang dengan tatapan dinginnya. Dean mendekat dan duduk disampingnya.


"Apa kau sudah makan? " tanya Dea lirih, Sean tidak menjawab.


"Tolong maafkan aku" mohon Dea.


"Ya Allah.. ngambek lagi dia, aku harus bisa bujuk dia" batin Dea.


"Baiklah, ayo kita makan siang! " ajak Dea sambil beranjak.


"Dah kenyang" jawab Sean datar.


"Bohong,emangnya makan apa? " ucap Dea sambil menarik tangan Sean.


"Gak.. " kekeh Sean, dan Dea meninggalkan nya keluar untuk turun menyiapkan makanannya untuk dibawa ke kamar.

__ADS_1


"Bukannya dirayu malah ninggalin" kesel Sean beranjak menuju balkon untuk menghubungi seseorang.


Dea masuk ke kamar dan mencari keberadaan Sean, ia menoleh ke balkon setelah mendengar suara Sean yang sedang berbicara lewat ponselnya. Dea menunggunya di sofa sambil menyalakan televisi.


"Ayo makan dulu" ucap Dea saat Sean sudah masuk kembali ke kama. Sean hanya melirik nya kemudian berjalan masuk ke kamar mandi, beberapa menit membersihkan tubuhnya kemudian ia keluar dari ruang ganti dalam keadaan rapi.


"Apa kau mau pergi ke kantor? " tanya Dea membuat Sean mengangguk.


"Tapi kau masih sakit" larang Dea.


"Aku ada meeting penting siang ini, lagi pula apa perduli mu..kau lebih mementingkan orang lain daripada aku.." jawab Sean datar sambil menghadap ke cermin untuk memasang dasinya sendiri membuat Dea menghembuskan nafasnya kasar dan berjalan mendekat.


"Maafkan aku" lirih Dea sambil mendekap Sean dari belakang.


"Kalau aku tidak perduli untuk apa aku menjagamu semalaman dan untuk apa aku kembali kesini setelah dari rumah sakit" sendu Dea membalik tubuh Sean dan melanjutkan memasang dasinya.


"Entah kenapa aku tidak bisa mengacuhkanmu" ucap Dea lagi meletakkan kedua tangannya di dada Sean setelah dasi itu terpasang dengan sempurna kemudian memeluknya hangat.


Sebenarnya Sean hanya kesal saja pada gadisnya, ia hanya ingin di prioritaskan saja.


"Aku ikut ke kantor dan tolong makan dulu sebelum berangkat" pinta Dea kemudian menarik Sean duduk dan menyuapkan makanannya.


"Apa kau masih marah padaku? " tanya Dea di sela-sela suapan nya.


"Tidak.. "


"Kenapa kau diam saja, aku lebih suka dirimu yang cerewet" ledek Dea.


"Oke Bos galak ku.. sekali lagi tolong maafkan aku ya" rengek Dea sambil mengerlingkan matanya.


"Jangan menggodaku.." ucap Sean mengusap mulutnya dengan tisu setelah suapan terakhirnya.


"Aku tidak menggodamu, sebentar aku bersiap dulu ya" pamit Dea menuju kamar tamu karena Sean sudah menyiapkan beberapa baju ganti untuknya biar tidak repot kalau sewaktu-waktu dia berkunjung.


"Aku sudah siap.. ayo kita berangkat" ajak Dea pada Sean yang sedang menunggunya di ruang tamu. Mereka turun kebawah menuju area parkir untuk berangkat bersama.


Tidak ada obrolan penting, Sean hanya fokus ke depan dan Dea merasa canggung di sebelahnya.


"Apa kau sudah tidak marah padaku" tanya Dea membuka suara ditengah perjalanan.


"Aku tidak pernah marah padamu, hanya sedikit kesal padamu" jawab Sean.


"Maafkan telah membuatmu kesal" jawab Dea.


"Aku hanya ingin kau lebih memprioritaskan aku dari siapapun" pinta Sean.


"Iya aku mengerti.. tapi Mario adalah orang yang selalu ada buat aku sebelum aku bertemu denganmu, aku hanya ingin selalu ada untuknya disaat dia membutuhkan aku" jelas Dea membuat Sean menepikan mobilnya.


"Lalu bagaimana denganku? " tanya Sean dingin.

__ADS_1


"Kau dan dia beda.. aku juga bisa membedakan bagaimana perasaanku pada kalian, dia hanya sahabatku sedangkan kau.. " Dea tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ia beralih menatap Sean kemudian meraih tangannya dan mengecupnya.


"Kau adalah masa depanku, meskipun aku belum sepenuhnya yakin padamu tapi Terima kasih telah memilihku diantara banyaknya gadis diluar sana yang telah mengejarmu"


"Apa kau janji akan menjaga kepercayaan ku? "


"Aku tidak mau berjanji karena aku takut mengecewakanmu, biarkan hubungan kita ini mengalir apa adanya tanpa tekanan apapun" jawab Dea sendu.


"Dan satu lagi tolong turunkan aku sebelum tiba disini saja" pinta Dea.


"Kenapa.. ? "


"Aku hanya tidak mau orang kantor curiga dengan hubungan kita"


"Apa kau malu menjalin hubungan denganku? " kesal Sean.


"Tidak seperti itu.. tolong hargai privasi ku " ucap Dea memberi kecupan singkat di pipi Sean kemudian turun.


"Dasar gadis barbar" batin Sean kemudian melajukan mobilnya sampai ke depan loby dan memberikan kuncinya pada satpam untuk memarkirkan mobilnya.


"Selamat siang Bos" sapa Satpam kantornya selesai membukakan pintu mobilnya.


"Siang.. apa Ken ada dikantor? " tanya Sean memberikan kuncinya pada satpam tersebut.


"Tuan Ken sedang meeting diluar Bos, mungkin sebentar lagi kembali" jawab satpam tersebut.


"Baiklah"


Sean memasuki lift menuju lantai atas dimana ruangannya berada, begitu tiba diatas ia menyapa kekasihnya dulu yang berada di depan ruangannya dan Dea membalas dengan senyum manisnya.



"Sayang.. masuk keruanganku! " perintah Sean sambil tersenyum semirk dan sontak membuat Dea melotot mendengar panggilan untuknya, Dea clingak-cliguk berharap tidak ada orang yang mendengar ucapan Sean kemudia berjalan cepat mengikuti Sean.


"Apa yang kau lakukan" umpat Dea begitu memasuki ruangan Sean dan mengunci pintunya.


"Apa.. aku tidak melakukan apa-apa" jawab Sean berlagak bodoh.


"Kenapa kau memanggilku begitu, bagaimana kalau nanti ada yang mendengarnya? " kesal Dea.


"No problem.. aku tidak pernah berniat menyembunyikan hubungan kita" tegas Sean.


"Sudah cukup bercandamu, nanti sore Mario pulang dari rumah sakit, apa aku boleh datang ke rumahnya? " tanya Dea dengan keraguan.


"Aku ikut.."jawab Sean.


"Apa yang akan ku katakan dengannya nanti? "


"Bilang saja padanya kalau kita pacaran" tegas Sean.

__ADS_1


"Apa... "


__ADS_2