Sahabat Sejati

Sahabat Sejati
BAB 97.


__ADS_3

Sean sudah tidak bisa menguasai dirinya saat Andre masuk dan membawa ke suatu tempat.


"Tuan Sean mari saya antar untuk beristirahat, sepertinya anda sedang tidak baik-baik saja" ajak Andre memapah Sean.


"Ken dimana? " tanya Sean tanpa tenaga.


"Tuan Ken juga sedang beristirahat, sebaiknya anda pulang besok saja ini sudah malam" ucap Andre meyakinkan, dan setelah sampai disebuah kamar sayup-sayup Sean mendengar suara laki-laki dan perempuan sedang berbicara sampai akhirnya ia tidak mengingat apapun lagi.


Sementara itu Dea yang sedang menunggu suaminya pulang begitu gelisah karena hingga jam 11 malam Sean belum juga kembali, berkali-kali menelpon pun tidak ada jawaban.


"Kamu kemana sih Yang.. tadi katanya meeting ke Bandung, kok sampai jam segini belum juga pulang buat ngabarin" panik Dea khawatir.


"Pak Ken kemana juga.. dihubungi susah banget" kesal Dea membolak-balikkan ponselnya. Hingga tepat jam 12 malam malam masuk notifikasi dari ponsel suaminya.


"[Yang.. maaf malam ini aku gak bisa pulang, mungkin besok pagi kamu istirahat aja]" Ayang.


Dea menjadi sedikit lega menerima pesan tersebut, setelah itu dia baru bisa memejamkan mata. tepat jam 3 dini hari ada notifikasi masuk berupa kiriman foto. terlihat disitu foto ranjang yang acak-acakan dengan seonggok baju pria yang sangat ia kenali.

__ADS_1


"Gak.. gak mungkin dia kayak gitu" ucap Dea meyakinkan hatinya. Dengan mata berkaca-kaca Dea membaca alamat dimana lokasi itu berada hingga akhirnya ia bertekad untuk ke Bandung memastikan bahwa itu bukan suaminya. Tepat jam 5 pagi Dea berangkat ke Bandung diantar oleh sopir nya.


"Mau kemana Buk? " tanya Pak Heru.


"Ke Bandung Pak.. ini alamatnya" jawab Dea sambil menunjukkan alamat pada sopir nya.


"Apa tidak sebaiknya menunggu Tuan aja Buk, ibuk kan sedang hamil besar.. nanti Tuan marah" ucap Pak Heru memperingatkan.


"Gak apa-apa Pak.. Tuan tidak akan marah" jawab Dea meyakinkan. Pak Heru mengemudikan mobilnya pelan mengingat Nyonya mudanya itu sedang mengandung besar, jam 7 tepat Dea sampai di sebuah villa di Bandung.


"Sepertinya ini alamatnya Buk" ucap Pak Heru memarkirkan mobilnya.


"Hati-hati Buk" ucap Pak Heru sedikit khawatir.


"Iya Pak.. " lirih Dea.


Dea masuk kedalam Villa itu dihadang oleh anak buah Andre.

__ADS_1


"Maaf anda cari siapa? " tanya bodyguard Andre.


"Dimana suami saya? " tanya Dea balik dengan emosi, karena gemas Dea mendorong bodyguard tersebut dan nyelonong masuk mencari keberadaan suaminya, ia membuka pintu kamar satu persatu diamati oleh Andre dari CCTV dikamarnya.


"Hallo Bos, target sudah menuju lokasi" ucap salah satu anak buah Andre dari panggilan telpon.


"Bagus..selanjutnya biar aku yang urus" jawab Andre mengakhiri panggilannya.


"Maafkan aku Tuan Sean, aku terpaksa melakukan ini padamu" lirih Andre sambil mengirimkan pesan singkat pada Viona.


Karena tidak menemukan suaminya di lantai dasar maka Dea beranjak naik ke lantai atas dengan memegangi perutnya yang sedikit nyeri.


"Sementara itu saat ini Sean sedang terbaring diranjang dalam keadaan polos bersama seorang wanita di masa lalunya, Sean masih sedikit pusing kala pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dengan keras. Sean telonjak kaget menatap sekelilingnya bersama seorang wanita yang tidur disampingnya dalam keadaan polos, Sean terduduk sambil memegangi kepalanya saat suara yang sangat ia kenal terdengar menusuk pendengaran nya.


"Yang.. kenapa kamu setega ini sama aku.. " lirih Dea dengan tatapan kosongnya menatap Viona yang polos dengan banyak bintang berkerlipan ditubuhnya membuat dada Dea semakin panas.


"Kenapa...! " teriak Dea sudah tidak bisa mengendalikan emosinya sambil memegangi perutnya, Sean mendongak kaget mendengar teriakan istrinya.

__ADS_1


"Yang.. gak.. gak.. ini gak seperti yang kamu pikirkan, aku gak tau kenapa dia ada disini.." ucap Sean mencoba beranjak.


"Stop.. berhenti disitu.. " teriak Dea.


__ADS_2