
Hari itu Dea tidak bisa konsentrasi dalam bekerja, berkali-kali dia melamun memikirkan sahabatnya masa kecilnya itu.
"Yo gue ingin banget ketemu sama lo, gue ingin marahin lo" teriak Dea yang saat itu berada di dalam kamar mandi, ia terus menahan air matanya yang tidak ada hentinya menetes.
Hingga sore tiba waktunya menyesaikan pekerjaan dan pulang. Saat sedang merapikan mejanya Dea mendengar dering ponselnya.
"Hallo.. " Dea mengangkat telponnya.
"De udah pulang belum? " tanya Rey
"Udah, ini gue siap-siap pulang.. kenapa Rey? "
"Gue udah di depan kantor lo"
"Ha.. gue kan gak minta jemput Rey" dengus Dea
"Gue khawatir sama lo De" lirih Rey
"Ya udah, gue turun.. tunggu sebentar" Dea mematikan ponselnya.
Rey menunggu Dea sambil harap-harap cemas apa gerangan yang ingin dibicarakan oleh Dea, saat masih dalam lamunannya Rey melihat Dea sudah menuju ke arahnya dan masuk ke dalam mobilnya.
"Sudah selesai, ya udah kita pulang sekarang" ucap Rey melajukan mobilnya. Di jalan Dea diam saja tanpa melihat ke arah Roy, dia bingung mau memulai dari mana sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk jujur pada Rey.
"Rey.. gue mau tanya sesuatu ke lo" tanya Dea serius.
"Ok, tanyakan saja" jawab Rey sambil terus fokus menyetir.
"Rey aku ingin kamu jujur sama aku" sendu Dea
__ADS_1
"jujur tentang apa De? "
"Aku.. aku ingin tau kenapa Mario tiba-tiba tiba pergi? "
Rey yang mendengar pertanyaan Dea tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan ini De, apa ada yang mengatakan sesuatu padamu? " tanya Rey.
"Jawab dulu pertanyaan aku Rey"
"Dia bilang bokapnya yang suruh dia datang kesana."
" Apa lo tidak sedang berbohong padaku Rey? "
"De.. "
"Apa.. siapa yang mengatakan ini sama lo de? " tanya Rey lagi.
"Nadin yang ngomong ini ke gue"
"Gue tau ini bakalan terjadi De dan pada saat itu lo bakalan benci banget sama gue" batin Rey
"kapan lo ketemu dia De? " tanya Rey lagi
"Itu gak penting buat saat ini Rey, gue hanya perlu jawaban lo" paksa Dea.
"Gue gak berhak buat jawab semua ini De, Mario yang lebih berhak" sendu Rey merasa bersalah.
"Berarti ini semua bener kan.. gue benci sama kalian! " sentak Dea sambil beranjak keluar dari mobil Rey dan pergi.
__ADS_1
"De, lo mau kemana sih.. tunggu" teriak Rey tapi Dea sudah berlari dan masuk ke dalam taxi.
"Ya ampun Nadin, lo udah bikin kesalahan besar" lirih Rey sambil meraih benda pipihnya dan menghubungi seseorang.
"Yo.. dia udah tau semuanya" ucap Rey saat orang di sebrang sana sudah mengangkat telponnya.
"Dia marah sama gue, gue takut terjadi apa-apa sama dia" lirih Rey sebelum menutup ponselnya.
Sementara itu Sean yang sudah sampai di kediamannya tidak berhenti memikirkan Dea.
"Gadis yang aneh" lirih nya tersenyum sambil memejamkan matanya. Baru saja matanya terpejam ponselnya berdering dan mengagetkan nya.
"Hallo, ada apa Ken? "
"Bos besok kau harus ke Jogja"
"Apa ada masalah disana? " ucapnya tersentak kaget.
"Ada sedikit kendala di anak cabang "
"Apa kau tidak bisa handle Ken? "
"Tidak bisa Bos, besok saya ada janji dengan perusahaan Jepang"
"Baiklah" Sean mendengus
"Anda akan pergi bersama Dea Bos, aku sudah menyiapkan semuanya, besok jam 9 pesawat Anda"
"Apa.. terserah padamu Ken" Sean menutup ponselnya geram.
__ADS_1