
"Apa kau mau kutinggal? " ucap Dea balik bertanya membuat Sean menggeleng sambil nyengir.
"Aku sudah bisa menebaknya? " ucap Dea lagi kemudian pergi meninggalkan Sean menuju dapur, Dea membuat bubur dan teh hangat untuk laki-laki yang semalam terbaring lemah tersebut.
"Ayo makanlah dulu kemudian minum obatmu" ucap Dea Menginterupsi saat sudah tiba dikamar Sean.
"Baiklah suapin aku.. " pinta Sean beranjak duduk, dan tanpa banyak kata Dea pun menurutinya sampai suapin terakhir setelah itu mengambilkannya minum.
"Sekarang minum obatmu" perintah Dea tapi Sean malah menatapnya intens.
"Kenapa menatapku seperti itu? " tanya Dea mulai risih.
"Terima kasih ya.. " jawab Sean terharu.
"Untuk..? "
"Karena udah mau perhatian dan ngerawat aku" jawab Sean.
"Itu sudah tugasku sebagai karyawanmu" lirih Dea.
"Hanya itu..? " tanya Sean mengharap.
"Iya hanya itu.. memangnya apalagi? " tanya Dea keheranan.
__ADS_1
"Baiklah, berikan obatnya dan istirahatlah" pinta Sean kemudian berbaring kembali setelah meminum obatnya. Dea keluar dari kamar dalam keadaan bingung.
"Ada apa dengannya, kenapa jadi berubah begitu.. apa aku salah bicara ya? " batin Dea kemudian beranjak ke dapur untuk membersihkan sisa sarapan Sean.
"Sementara itu dikamar Sean sedang uring-uringan sendiri karena ketidak pekaan Dea.
" Apaan sih tuh cewek.. udah kewajiban sebagai karyawan, jadi selama ini dia tidak nganggep aku lebih dari itu, mana ada coba karyawan yang nungguin Bos nya semalaman" umpat Sean kesal.
Sean pura-pura memejamkan matanya saat Dea memasuki kamarnya kembali.
"Apa kau sudah tidur" tanya Dea duduk di samping Sean sambil memegang keningnya untuk memeriksa suhu badannya.
"Sepertinya kau sudah lebih baik, apa aku boleh pergi sebentar? " tanya Dea takut
"Kemana? " tanya Sean balik masih memejamkan matanya.
"Aku mau kerumah sakit jengukin Mario, Mamanya tadi telpon dia gak mau makan " ijin Dea.
"Apakah dia harus bergantung padamu? " tanya Sean kesal.
"Tapi dia sakit.. aq kasihan dengannya" bujuk Dea.
" Aku juga sakit dan butuh perhatianmu" ucap Sean penuh penekanan. Dea meraih tangan Sean dan mengecupnya singkat.
__ADS_1
"Tolong ijinkan aku.. paling tidak sampai dia sembuh, setelah itu aku akan selalu memprioritaskan mu" janji Dea.
"Kau sangat pandai merayu, berikan aku ciuman setelah itu kau boleh pergi" ucap Sean penuh penekanan.
"Ih selalu saja mengambil kesempatan" cebik Dea.
"Yaudah kalau gak mau" Sean mulai memunggungi Dea.
"Ya ampun dasar tukang ngambek, tapi ngangenin..oke Dea mengalah untuk hari ini" batin Dea menyemangati dirinya sendiri. ia menarik bahu Sean supaya menghadap padanya dan "Cup" sebuah kecupan singkat ia sematkan di pipi Sean.
"Kok disitu.. aku mau nya disini" ucap Sean sambil menunjuk bibirnya, tanpa banyak kata Dea memberikan banyak kecupan diwajah Sean.
"Udah ah.. semakin ngelunjak aja kamu, aku pergi ya kamu istirahat dulu .. aku akan segera kembali" pamit Dea keluar dari kamar Sean dan menutupnya kembali.
"Entah kenapa aku sangat cemburu kalau kau memperhatikan orang lain selain aku meskipun itu cuma sahabat kamu " lirih Sean kemudian memejamkan matanya.
Dea langsung menuju ke rumah sakit setelah mendapatkan ijin dari Sean, hari itu dia pergi sendiri tanpa diantarkan sopir, Sesampainya di ruangan Mario ia melihat sahabatnya itu sedang terbaring lemah diatas brankar dan terlihat perban dikepalanya sudah mulai dibuka.
Saat Dea masuk ia disambut oleh Mamanya Mario.
"Ma apa dia sudah mau makan? " tanya Dea pada Mama Mario.
__ADS_1
"Dia tidak mau makan sebelum kau datang Nak" jawab Mama Mario membuat Dea menarik nafasnya dalam.
"Apa dia mengatakan sesuatu? " tanya Dea penasaran.