
"Hari ini aku mau makan masakan kamu di apartemen aku" pinta Sean.
"Iya.. " jawab Dea berat hati karena sebenarnya ia ingin sekali ketempat Mario malam ini, tapi sepertinya Sean sangat posesif, mungkin karena belum mengenal Sahabat-sahabatnya.
"Kamu kecewa gak aku ijinin buat ketemu sahabat kamu? " tanya Sean melihat Dea diam saja selama perjalanan pulang.
"Gak kok.. aku hanya capek aja males ngomong" jawab Dea tersenyum kecil.
"Oke.. " jawab Sean santai.
Tiba di apartemen Sean langsung menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya sedangkan Dea beranjak ke dapur untuk memasak makan malam buat Sean.
"Sebenarnya aku belum sepenuhnya yakin dengan perasaan aku sama kamu, tapi entah mengapa aku ingin tetap tinggal" batin Dea miris.
"Sayang.. masak apa? " tanya Sean mendekat setelah beberapa menit yang lalu membersihkan tubuhnya.
"Bikin ayam kecap sama tumis kangkung aja.. suka gak? " tanya Dea balik.
"Suka kok, apa aja yang kamu masak aku pasti suka" senyum Sean beralih ke meja makan menyaksikan pujaan hatinya itu memasak dengan serius.
"Aku sayang banget sama kamu sampai aku gak rela kamu lebih prioritasin orang lain daripada aku.. meskipun itu sahabat kamu sendiri" batin Sean bermonolog dengan egois sambil melihat Dea yang kini menyajikan makanannya di meja makan.
"Ayo sekarang makanlah.. " ucap Dea lembut setelah menyiapkannya untuk Sean.
"Aku ingin makan dari tangan kamu" pinta Sean.
"Ok baiklah.. " jawab Dea segera mengambil alih makanannya.
__ADS_1
"Udah sayang.. aku kenyang" lirih Sean.
"Tapi ini baru beberapa suapan" heran Dea.
"Udah.. kamu aja yang makan" jawab Sean terlihat pucat.
"Kamu sakit.. kok muka kamu pucet banget? " khawatir Dea menyentuh kening Sean.
"Kamu panas banget.. kita ke dokter ya.. "
"Gak usah.. aku hanya kecapekan, antarkan aku ke kamar aja buat istirahat" pinta Sean.
"Iya kamu minum obat penurun panas aja ya.. setelah itu istirahat" Dea menuju dapur untuk mengambil air setelah mengantarkan Sean berbaring di ranjangnya.
"Kok bisa demam gini sih.. kamu telat makan tadi..? " tanya Dea khawatir melihat tubuh Sean semakin lemas.
"Ih.. dasar keras kepala, udah sekarang kamu istirahat aku tunggu diluar" kesal Dea hendak beranjak.
"Jangan tinggalin aku.. " mohon Sean menarik tangan Dea tapi tiba-tiba ponsel Dea berdering.
"Hallo Ma.. kenapa? "
"Sayang ..Mario masuk Rumah sakit lagi.. " terdengar suara panik dari sebrang.
" Apa.. kok bisa Ma.. terus gimana kabarnya? " khawatir Dea.
"Sampai sekarang dia belum sadarkan diri" jawab Mama menangis.
__ADS_1
"Aku akan segera kesana Ma.. Rey udah tau kan? "
"Iya sayang.. dia udah menuju kesini" jawab Mama.
"Baiklah.. Mama yang sabar ya Ma.. " ucap Dea kemudian menutup ponselnya dan berlari mendekati Sean.
"Sayang.. aku.. " Dea tidak mampu meneruskan kata-katanya karena melihat wajah kecewa Sean.
"Sayang dia butuh aku sekarang, ijinkan aku pergi ya.. aku sudah menelpon Ken untuk menjagamu malam ini" mohon Dea.
"Aku juga butuh kamu sayang.. apa kamu lebih prioritasin dia daripada aku.. " lirih Sean dengan wajah kecewanya.
"Sayang.. aku mohon untuk kali ini aja" Dea sudah mulai berkaca-kaca.
"Apa dia begitu penting bagimu sehingga kamu bisa sekhawatir ini? " tanya Sean lagi.
"Iya.. " jawab Dea Sendu takut melukai hati Sean lagi.
"Baiklah terserah padamu, tinggalkan aku.. " ucap Sean memalingkan wajahnya dengan menahan air matanya.
Dea segera beranjak dengan terpaksa meninggalkan Sean, sampai di pintu dia berpapasan dengan Ken.
"Nona.. " sapa Ken.
"Ken tolong jaga dia untuk malam ini, aku akan segera kembali" pinta Sean.
"Baik Nona.. "
__ADS_1