
Pagi itu Dea menelpon Ray untuk mengantarkannya ke dokter karena ia benar-benar pusing dan tidak bisa berangkat sendiri.
"Kamu kenapa De..? " tanya Ray setelah Dea memasuki mobilnya.
"Gak tau tiba-tiba aja bangun tidur kepala aku pusing dan muntah-muntah" lirih Dea masih sedikit mual.
"Hah.. kamu gak.. ? " Ray tidak meneruskan perkataannya.
"Apaan sih lo.. gue cuma masuk angin biasa" semprot Dea.
"Ya barangkali aja Bos kamu itu telah.. " Ray menggantung ucapannya lagi.
"Ishh.. " kesal Dea.
"Terus bagaimana hubungan kamu sama dia? "
"Entahlah.. dia udah berubah " sendu Dea.
"Kenapa..? "
"Dia gak suka aku terlalu dekat dengan kalian, gue bingung nyikapin dia" keluh Dea.
"Gue ngerti perasaan lo tapi lo juga harus bisa ngertiin perasaan pasangan lo" Ray memberi nasihat.
"Dia ngerasa gue lebih prioritasin kalian daripada dia" lirih Dea.
"Itu wajar Dea, seharusnya lo bisa lebih terbuka sama dia, gue yakin dia sayang banget sama lo" ucap Ray sambil melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk memeriksaan Dea.
"Apa kau bisa masuk sendiri? " tanya Ray.
__ADS_1
"Ckk..emang kamu tega biarin aku masuk sendiri? " cebik Dea.
"Iya.. iya.. Cerewet banget lo.. khusus hari ini gue free jadi suami lo" canda Ray.
"Ih amit-amit punya suami kayak lo" kesel Dea.
Mereka berdua masuk ke Rumah sakit dan ikut mengantri.
"Lo tunggu sini dulu ya De.. gue mau ambil nomor antrian dulu" pamit Ray dan Dea pun mengangguk.
Setelah beberapa menit akhirnya Ray pun kembali dengan membawa nomor antrian di tangannya.
"Dapat nomor berapa? " tanya Dea.
"15.. sebentar lagi kita masuk" jawab Ray.
"Istrinya sedang hamil muda ya Mas, pucat amat muka nya? " tanya ibu-ibu menyala mereka membuat Dea dan Ray membola seketika.
"Di jaga baik-baik Mas istrinya jangan boleh kerja dulu kasihan, anak pertama ya Mas..? " tanyanya kemudian membuat Ray sedikit gemas dan akhirnya menarik nafasnya dalam.
"Iya Buk Terima kasih atas perhatiannya" jawab Ray dengan senyum paksanya membuat Dea tidak bisa menahan tawanya setelah kepergian ibu tersebut.
"Ya ampun De.. apa gue sudah seperti seorang suami yang mengantar istrinya check up kandungan" tanya Ray kesal.
"Lo keberatan" Dea menahan tawanya.
"Kenapa lo malah mengejek gue" sungut Ray.
10 menit kemudian terdengar nana Dea dipanggil dan Dea pun masuk keruangan dokter seorang diri.
__ADS_1
"Gimana..? " tanya Ray setelah Dea keluar dari ruang periksa.
"Cuma kecapekan aja dan telat makan" jawab Dea lesu.
"Sejak kapan lo jadi ceroboh seperti ini, bukankah lo yang paling cerewet diantara kita soal ngingetin makan" ledek Ray.
"Gue juga manusia Ray.. " kesal Dea.
"Oke.. ayo kita pulang" ajak Ray kemudian.
*****
Sementara itu Sean yang sedang berada di luar negeri menjadi sedikit bersemangat karena mendapat kabar dari Ken tentang Dea.
"Kenapa gak bilang saja kalau kamu sangat merindukan aku.. " ucap Sean memandang foto Dea yang sedang tersenyum manis di ponselnya.
"Besok kita akan segera bertemu di kantor ya.. tunggu aku datang sayang" batin Sean senang kemudian bangkit menuju kamar mandi. 15 menit keluar dari kamar mandi Sean tiba-tiba mendengar ponselnya berdering.
"Hallo..siapa ini? "
"Hallo Sean " ucap seorang wanita dari sebrang dengan suara terisak.
"Selena, ada apa kau tiba-tiba menghubungiku dan nomer siapa ini? " kesal Sean.
"Sean tolong aku, aku ingin pulang"terdengar tangis Selena dari ujung telponnya.
" Kamu dimana sekarang dan kenapa kau minta tolong padaku? " tanya Sean penasaran.
"Aku sedang ada job di negara X tapi saat ini aku habis dirampok, mereka mencuri semua barang-barangku dan hanya nomermu saja yang aku ingat" sendu Selena.
__ADS_1
"Apa.. "