Sahabat Sejati

Sahabat Sejati
BAB 63.


__ADS_3

"Jangan menggodaku.. " kesal Sean.


"Oke baiklah.. jangan marah lagi" pinta Dea.


Sean melajukan mobilnya menuju perusahaan untuk melanjutkan pekerjaan mereka, selama perjalanan Dea terus saja menahan tawanya dalam hati melihat muka kusut Sean yang sedang menahan cemburu.


"Sayang nanti aku mau ketempat Mario ya.. ? " tanya Dea sedikit ragu.


"Mau apa? " tanya Sean.


"Aku kangen sama dia" jawab Dea sengaja memancing prahara.


"Kangen..?? "Sean memicingkan alisnya dengan kesal.


"He em" jawab Dea semangat.


"Terserah.. " ketus Sean.


"Makasih sayang.. " manja Dea meskipun ia tau saat ini Sean sedang kesal.


Sampai di kantor Sean keluar dari mobil masih dalam mode ngambeknya, Dea yang ikut dibelakangnya pun serasa dicuekin sampai masuk ke dalam lift.

__ADS_1


"Sayang.. " ucapan Dea terhenti lantaran tiba-tiba ponselnya berdering dan terlihat nama Leo disana.


"Hallo.. iy Le, gimana kabar kamu? " tanya Dea dengan sumringah mengobrol dengan sahabatnya di depan Sean yang merasa tambah kesal.


"Dah tau cowoknya kesel malah dicuekin" batin Sean segera meninggalkan Dea saat pintu lift sudah terbuka, Dea ikut keluar masih sambil berbicara dengan Leo melalui ponsel pintarnya. ia sengaja tidak ikutan masuk ke ruangan Bosnya dan melipir ke pantry untuk membuat kopi.


Tok


Tok


"Masuk"


Mendengar teriakan dari dalam Dea pun masuk ke ruangan Bosnya dengan membawa secangkir kopi.


"Ada apa.. apa aku melakukan kesalahan lagi? " tanya Dea lirih.


"kenapa kamu gak pernah bisa mengerti tentang aku? " ucap Sean serius.


"Mengerti apa sih.. gimana aku bisa ngerti kalau kamu gak ngomong sama aku" jawab Dea membela diri.


"Sebenarnya kamu sayang gak sih sama aku? " tanya Sean tiba-tiba.

__ADS_1


"Apa itu penting untuk aku jawab? "


"Apa segala tindakan aku selama ini cukup untuk membuktikan perasaan aku buat kamu? " tanya Dea.


"Sayang dengar, entah kenapa aku masih merasa kalau aku gak begitu penting buat kamu"


"Aku merasa kamu gak pernah prioritasin aku"


"Dan aku juga merasa kalau aku yang mati-matian kejar kamu tapi kamu nya biasa aja" seloroh Sean dengan mata berkaca-kaca membuat Dea mendekat dan membungkam mulut Sean dengan jari telunjuk nya.


"Sttt.. kamu udah banyak bicara dari tadi.. sekarang ijinkan aku yang berbicara" lirih Dea menatap Sean.


"Sebelum aku mengenal kamu sahabat-sahabat akulah yang selalu ada buat aku, mereka yang selalu suport aku selama ini.. bahkan saat Rico nyakitin aku merekalah orang yang selalu ngehibur aku" Dea menarik nafasnya.


"Kalau kamu mau tau perasaan aku, aku sayang sama kamu dan kamu tetap jadi prioritas aku.. tapi tolong jangan suruh aku buat jauhin mereka, karena mereka sudah ada jauh sebelum ada kamu di hati aku, dan aku janji bakalan lebih jaga perasaan kamu.. kalaupun kamu gak suka aku lebih perhatian ke Mario aku gak bakalan lakuin itu" lirih Dea sambil meneteskan air matanya.


"Kalau seandainya aku gak ijinin kamu untuk ketemu dia hari ini apa kamu bakalan turutin aku? " tanya Sean sendu membuat Dea mengangguk.


"Mereka hanya sahabat aku yang tidak lebih penting dari kamu, tapi kamu juga gak bakal maksa aku buat jauhin mereka kan? " mohon Dea berkaca-kaca.


"Enggak sayang.. aku gak setega itu, tapi tolong lebih jaga batasan-batasan kamu karena sudah ada hati yang harus kamu jaga perasaannya" pinta Sean mendekap Dea dengan sayang.

__ADS_1


"Maafkan aku.. "


__ADS_2