
Dea merasa nyaman berada dipelukan Mario, sahabat yang sangat ia rindukan.
"Bagaimana kabarmu? " bisik Mario.
"Harusnya aku yang bertanya, bagaimana kabarmu.. kenapa tidak pernah menghubungiku! " kesal Dea memukul dada Mario.
"Maaf.. " sendu Mario.
"Aku kira kau tidak akan datang.. awas saja" Umpat Dea.
"Aku sudah berjanji padamu kan.. " kelakar Mario membuat Dea menangis terharu dan memeluknya kembali.
"Kenapa kau bisa ada disini, kau mengikutiku ya? " kesal Dea.
"Aku tidak bisa mendekatimu saat ada suamimu, dia sangat pemarah" gurau Mario kemudian mereka tertawa dalam pelukan.
"Aku sedih saat kau tidak mengingat ku.. " sendu Dea.
"Benarkah, sejak kapan aku tidak mengingatmu? " tanya Mario.
"Saat kau sakit" lirih Dea.
"Maafkan aku" ucap Mario merasa bersalah.
Tanpa mereka sadari ada sorot mata yang menyaksikan kebersamaan mereka. Sean yang merasa istrinya terlalu lama di toilet berniat menghampiri, tapi saat sampai disana ia di suguhkan dengan kemesraan mereka berdua. terasa tercubit hati Sean melihat tatapan penuh cinta antara Mario dan Dea.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian rasakan, tapi aku yakin kalau kalian sebenarnya saling membutuhkan" batin Sean mendekati mereka.
"Sayang.. kok lama" teriak Sean mengagetkan mereka sehingga genggaman itu terlepas begitu saja.
__ADS_1
"Maaf.. aku bertemu dengannya tadi" jawab Dea menatap Mario.
"Apa kabar Tuan Sean? " sapa Mario mengulurkan tangannya.
"Baik, mari kita bergabung dengan yang lain" ajak Sean menarik tangan Dea.
"Iya.. ayo Yo" Dea pun menarik tangan Mario tapi Mario menolak.
"Kalian duluan saja, nanti aku menyusul" jawab Mario.
"Baiklah, aku tunggu disana ya" pamit Dea mengikuti Sean.
"Aku bahagia melihatmu bahagia" lirih Mario berkaca-kaca kemudian mengikuti Dea ke tempat resepsi.
Rayhan keluar dari persembunyiannya, ia melihat semua yang terjadi dan merasakan ngilu dihatinya melihat sahabatnya merelakan cinta sejatinya.
"Cintamu adalah sahabat sejatimu Yo, gue bangga sama lo.. teruslah bahagia kedepannya" batin Ray dengan mata berembun. Ray berjalan menuju tempat resepsi bergabung dengan sahabat-sahabatnya.
"Gue baru aja tiba" jawab Mario.
"Gimana kabar lo, maaf gue baru tau kalau lo sakit" ucap Leo merasa bersalah.
"It's okay.. yang penting kita saling mendoakan " canda Mario.
"Hai.. " sapa Ray yang baru gabung diantara mereka.
"Dari mana lo? " tanya Leo.
"Dari toilet, masak iya mesti ngajak lo" cebik Ray.
__ADS_1
"Ish.. ya kali aja lo kabur ngejar temen si Dea" ledek Leo.
"Gak.. dia udah ada pasangan katanya" sendu Ray.
"Belum jodoh kayaknya, Jangan-jangan jodoh lo disini lagi" ucap Leo ngasal.
"Apaan sih bahas jodoh mulu, yok gabung yang lain" ajak Ray pada sahabatnya.
"Dea.. selamat ya" ucap seseorang yang pernah mengisi hatinya.
"Rico.. kok kamu bisa disini, siapa yang ngundang? " tanya Dea bingung.
"Aku yang ngundang, dia kan salah satu rekan bisnis ku juga" ucap Sean yang tiba-tiba datang.
"Selamat datang Tuan Rico, semoga anda menikmati pestanya" ucap Sean tersenyum ramah.
"Sayang capek gak..? " tanya Sean melihat wajah pucat Dea.
"Kepala ku pusing" jawab Dea lirih.
"Hah.. kok bisa sih, kamu belum makan? " tanya Sean khawatir dan Dea pun menggeleng.
"Sayang.. kok bisa ceroboh gini sih, bentar ya aku ambilin makan dulu" pamit Sean di angguk i Dea.
"Ini.. " ucap Mario yang tiba-tiba menghampiri Dea dengan menyodorkan teh hangat kepadanya membuat Dea menoleh kaget.
"Kenapa kamu bisa se ceroboh ini hmmm.. apa kamu lupa kalau punya riwayat sakit mag? " ucap Mario khawatir.
"Terima kasih.. " lirih Dea terharu saat seperti ini sahabatnya itu masih memperhatikan dirinya.
__ADS_1
"Iya.. aku hanya bisa memberimu ini, selebihnya tunggu suamimu datang ya.. " pamit Mario beranjak meninggalkan Dea.
"Sampai detik ini kenapa kau selalu ada buat aku.. " batin Dea