Sahabat Sejati

Sahabat Sejati
BAB 41.


__ADS_3

"Kau.. " sontak Dea kaget.


"Aku ingin bicara padamu, ijinkan aku masuk" mohon Sean.


"Tidak, aku tidak mau ada hubungan lagi denganmu " kesal Dea.


"Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara dulu"


"Tidak, pergilah aku sibuk.. dasar pria mesum" lirih Dea yang masih terdengar oleh Sean.


"Jangan mengumpatku dan tolong maafkan aku" sendu Adit.


"Gak, pulanglah.. besok kau akan terima surat pengunduran diriku"ketus Dea mencoba menutup pintu.


" Tolong ijinkan aku bicara, aku gak mau pulang sebelum kau mau memaafkan aku " ucap Sean sendu.


"Terserah.."teriak Dea dengan tatapan horornya menutup pintu dan tidak mengindahkan panggilan Sean.


Sean keluar menatap kamar Dea di lantai 2 dari samping mobilnya, ia bertekad tidak akan pulang sebelum Dea memaafkannya.


Di dalam kamarnya Dea iseng mengintip kebawah dan melihat Sean masih setia menunggunya.


"Dasar keras kepala" sungut Dea beranjak ke ranjang dan mencoba memejamkan matanya. Hingga sore tiba Dea tiba-tiba terbangun mendengar suara hujan disertai petir yang menggelegar membuatnya jadi teringat Sean, apakah laki-laki itu masih setia berdiri disana. Dea melompat menuju jendela dan ya.. Sean masih setia menunggunya diguyur hujan deras sambil menangkup tubuhnya, sepertinya laki-laki itu sangat kedinginan. Tidak beberapa lama Dea mendengar ketukan pintu di kamarnya.


Tok

__ADS_1


Tok


"Non.. Non sudah bangun? " tanya Bibik dari luar.


"Kenapa Bik? " tanya Dea setelah membuka pintu kamarnya.


"Itu Non.. diluar ada mas ganteng sedang kehujanan, Bibik suruh masuk dia gak mau" cerita Bibik.


"Bener-bener ya tuh orang bikin repot gue" lirih Gea sambil menuruni tangga.


"Tolong Bibik buatin teh anget Bik, biar aku yang suruh dia masuk" titah Dea.


"Baik Non.. "


Setelah kepergian Bibik Dea berjalan menuju pintu keluar dan saat pintu itu terbuka terlihat Sean dengan muka pucatnya. Dea datang dengan membawakannya payung dan menyuruhnya masuk.


"Aku hanya ingin menunggu maaf darimu" lirih Sean dengan bibir bergetar dan pandangannya mulai rabun setelah itu dia tidak tau apa -apa lagi.


Ya.. Sean pingsan. Dea segera berteriak minta tolong pada satpam untuk membawanya masuk ke kamarnya. ia melepas baju Sean yang basah dan menyelimuti nya dengan selimut yanga tebal.


Hingga 1 jam lamanya Sean tidak juga sadarkan diri membuat Dea semakin panik dan memanggil Bubik.


"Bik.. " teriak Dea.


"Iya Non"

__ADS_1


"Tolong panggilkan Dokter saja sepertinya dia demam" ucap Dea.


"Baik Non"


Setengah jam kemudian Dokter datang ke kediaman Dea, Beliau memeriksa keadaan Sean dan memberikan resep.


"Tolong segera tebus ini dan berikan padanya, dia baik-baik saja hanya demam biasa saja" jelas Dokter itu sebelum pamit pergi.


Dea tertidur saat tiba-tiba tangan kekar menyibakkan rambutnya dan membuatnya mengerjapkan mata.


"Kau sudah bangun, sebentar aku panggilkan Bibik untuk membiarkanmu bubur" Dea beranjak tapi Sean menahan tangannya.


"Tidak disini saja, tolong jangan tinggalkan aku..aku tidak lapar" lirih Sean.


"Tapi kau harus makan dan meminum obatmu" Jelas Dea.


"Baiklah, aku ingin kau menyuapi ku" pinta Sean.


"Kenapa kau jadi manja begini, dimana Tuan Sean yang sombong dan angkuh itu hah..? " ketus Dea.


"Apa dimatamu aku seperti itu? " pertanyaan Sean membuat Dea tergagap dan mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kau selalu membuatku kesal, sudah kubilang pulanglah.. kenapa kau masih berdiri disana dan menerjang hujan seperti itu.. kau memang suka cari penyakit" umpat Dea nyerocos tanpa henti membuat Sean meletakkan jari telunjuknya pada bibir gadis cantik itu.


"Kau ini cerewet sekali, kalau Sakit bisa membuatmu memaafkan aku.. maka aku rela kehujanan setiap hari" gombal Sean menggenggam tangan Dea sambil tersenyum dengan wajah sedikit pucat.

__ADS_1


"Dasar gila.. " umpat Dea lagi mencoba melepaskan genggaman tangan Sean tapi Sean enggan melepasnya dan malah mengecupnya singkat.


"Tolong maafkan aku.. " sendu Sean.


__ADS_2