
Sean melajukan mobilnya santai sambil menggenggam tangan Dea dan sesekali mengecupnya.
"Ih.. fokus aja kedepan" pinta Dea sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Sean.
"Aku fokus kok" bantah Sean sambil mengerlingkan sebelah matanya menggoda.
"Ish.. selalu semaunya" kesal Dea tidak mau berdebat dan membiarkan tangannya berada dalam genggaman Sean, akan tetapi Sean sudah terlanjur kesal dengan kata-kata Dea yang seolah Sean yang butuh dia.
"Kenapa aku merasa kamu gak ada niat buka hati kamu buat aku ya, sedangkan kamu udah janji gak ada batasan buat aku di luar kantor..disini aku ngerasa kayak aku yang ngemis cinta dari kamu.."ucap Sean tiba-tiba menghentikan mobilnya dengan kesal.
" Terus mau kamu apa.. maaf kalau kamu ngerasa berjuang sendirian, aku cuma belum terbiasa aja dengan keadaan ini" tegas Dea.
"Keadaan apa sih maksud kamu" tanya Sean balik.
"Keadaan dimana aku dicintai Seorang Laki-laki yang banyak digilai banyak wanita, dan aku bersikap kayak gini supaya aku gak kebawa perasaan saat bersama kamu, ngerti gak sih" lirih Dea jujur.
"Perasaan apa? " tantang Sean menatap Dea tajam.
"Perasaan.. " Dea gelagapan saat ditatap Sean intens seperti itu.
"Rasa itu timbul alami dari diri seseorang tanpa bisa kita cegah apalagi kita hindari " jelas Sean.
"Dan masih tentang rasa, apa selama seminggu ini kamu benar-benar belum bisa buka hati kamu buat aku? " tanya Sean serius.
"Aku.. aku hanya perlu ngeyakinin hati aku lagi, ayo jalan.." jawab Dea mengalihkan pembicaraan.
"****.. " kesal Sean memukul gagang setir nya dan melajukan mobilnya lagi, ia lebih diam tak banyak bicara hingga sampai di rumah sakit, bukan menyerah tapi ia hanya ingin memberikan waktu kepada Dea untuk meyakinkan hatinya. Sebenarnya Dea sudah merasa kalau Sean tidak baik-baik saja, tapi karena ini di rumah sakit Dea mencoba untuk menahan diri saat terlihat Rey di depan pintu IGD.
"Rey.. bagaimana dengannya? " tanya Dea khawatir.
"Dia belum sadarkan diri karena ada benturan keras di kepalanya" jawab Rey.
"Kok bisa sih.. kapan dia sampai di Indonesia" Dea merasa heran.
"Kemarin pagi dia sempat hubungin aku kalau mau balik kesini karena ada yang mau di urus, tapi sampai kejadian ini dia gak ada hubungin aku lagi, sepertinya dia kecelakaan saat dari Bandara menuju rumahnya, Polisi bilang dia ditabrak dari belakang karena sopirnya mabuk" jelas Rey.
"Bagaimana keadaannya Dok.. " tanya Rey saat Dokter keluar dari ruangan.
"Sepertinya dia akan sedikit melupakan memory nya pada hal-hal yang baru saja terjadi, yang dia ingat hanyalah kenangan masalalu nya saja" Dokter memberi penjelasan.
"Oh tidak.. " Dea dan Rey syok dengan penjelasan Dokter.
"Apa ada keluarganya disini! " tanya Dokter
__ADS_1
"Mereka sedang menuju kesini Dok" jawab Rey.
"Bolehkah kami menemuinya? " tanya Dea cemas.
"Silahkan.. tapi tolong jangan terlalu banyak bicara dulu, pasien masih butuh banyak istirahat" pinta Dokter itu.
"Baik " ucap mereka bersama.
"Kalian masuklah dulu aku mau mengangkat telpon dari Papa nya Mario dulu" ucap Rey menjauh dari Dea dan Sean.
"Aku mau masuk, kamu mau ikut atau tunggu disini? " ucap Dea menawarkan.
"Ya ikutlah.. " jawab Sean, mereka masuk ke dalam ruang rawat Mario, disana terlihat Mario masih memejamkan matanya dengan perban di kepala dan beberapa bagian di tubuhnya. Dea mendekatinya dan memegang tangan Mario.
"Yo.. lo bisa dengerin gue ngomong kan, ayo buka mata lo, lo gak kangen sama gue" ucap Dea berkaca-kaca melihat sahabatnya terbaring tak berdaya seperti itu membuat hati Sean merasa teriris melihat kedekatan mereka.
"Gue dimana De.. " lirih Mario mulai membuka matanya.
"Lo dirumah sakit abis kecelakaan" jawab Dea menjelaskan.
"Hah.. kapan? seingat gue kita lagi pulang kampus bersama" ucap Mario bangkit bersandar dengan kebingungannya.
"Udah lo gak usah banyak mikir, istirahat aja dulu" pinta Dea mencoba membaringkan Mario.
"Dia.. dia temen aku" jawab Dea menutupi membuat Sean kesal dan menjauh duduk di sofa.
"Kamu cepet sembuh biar kita bisa main lagi" ucap Dea kemudian.
"Rey sama Leo mana? " tanya Mario
"Sebentar lagi mereka bakalan kesini"
Saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba Mama Mario dan Rey masuk.
"Mario.. kamu gak apa-apa kan Nak.. kenapa bisa sampai seperti ini" tanya Mama khawatir.
"Gak apa-apa Ma, ini udah enakan kok" jawab Mario lirih.
"Gimana kabar Lo Yo" sapa Rey.
"Sudah mendingan Rey, kok bisa Mama dateng sama lo? "
"Kan gue yang jemput dia karena penerbangan Papa lo masih terhalang cuaca jadi mungkin sedikit terlambat buat dateng kesini" jelas Rey.
__ADS_1
"Oke karena tante sudah disini Dea pamit dulu ya .. besok Dea balik kesini lagi" pamit Dea.
"Iya Dea makasih udah jagain Mario tadi" jawab Mama ramah.
"Sama-sama Tante..Yo semangat sembuh ya.. assalamu'alaikum" Dea berlalu menuju pintu di ikuti Sean.
"Waalaikumsalam.. " jawab semua yang ada di ruangan itu serempak.
"Yang sama Dea tadi siapa Rey, Tante kok baru lihat" tanya Mama Mario pada Rey.
" Oh itu Bos nya Ma" jawab Rey yang memang sudah terbiasa memanggil Mama Mario dengan sebutan Mama.
"Dia ganteng dan sepertinya perhatian sama Dea" ucap Mama Mario lagi.
"Sepertinya begitu Ma"
*****"
Sementara itu Dea dan Rey yang sudah masuk ke dalam mobil tanpa kata langsung melajukan mobilnya.
"Kok diem Pak.. tumben" ucap Dea membuka percakapan.
"Dah kenyang dicuekin" jawab Rey asal.
"Ih kok ngambek sih, kapan aku nyuekin kamu? " ucap Dea menahan tawa karena melihat mimik lucu Sean saat marah.
"Dea.. " ucap Sean menepikan mobilnya membuat Dea semakin takut.
"Aku beneran cinta sama kamu.. tapi kalau kamu nganggep ini hanya lelucon sebaiknya kita break aja" ucap Sean dingin.
"Kok gitu ngomongnya.. kamu udah capek merjuangin aku? " tanya Dea menghunus.
"Kok jadi aku yang salah.. aku udah berusaha nurutin apa mau kamu lo" kesal Sean.
"Kamu cemburu sama Mario.. dia itu sahabat terbaik aku dari kecil, aku sayang banget sama dia" jelas Dea.
"Tapi bukan berarti kamu harus nyembunyiin hubungan kita kan? " ucap Sean menatap tajam.
"Ya sorry.. dia sedang sakit, aku belum bisa kasih tau hubungan kita yang belum pasti ini" lirih Dea ragu-ragu.
"Kok belum pasti sih.. yang ada kamu yang belum kasih kepastian buat aku" kesal Sean.
"Aku minta maaf kalau aku egois, aku hanya takut kalau nanti aku di kecewain sama kamu" Dea mulai menitikkan air mata yang sedari tadi ia tahan. "terus terang aku udah mulai nyaman sama kamu, kamu udah mulai muncul dalam pikiran aku dan bahkan aku.. " Dea tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena Sean sudah membungkam bibirnya dan ******* nya lembut.
__ADS_1
"Stttt.. kau sudah banyak bicara, sekarang biarkan aku yang bicara.. "