
"Apa.. dasar gila" umpat Dea.
"Biar gila kamu gak mau jauh dari aku kan.. " goda Sean.
"Ih.. kepedean" ucap Dea beralih duduk di sofa karena tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Siapa? " tanya Sean.
"Rey .." jawab Dea membuat Sean kesal.
"Loudspeaker..! " perintah Sean dan Dea melakukannya.
" Iya Rey.. "sapa Dea pada orang di sebrang sana.
" Apa kau tau Mario pulang hari ini? " tanya Rey.
"Iya gue tau kok, lo mau kesana? " tanya Dea.
"Iya nanti sepulang kantor, mau bareng gak? " tawar Rey.
"Emmm.. " Dea menatap Sean yang menghampirinya.
"Aku udah bilang kan.. aku yang akan mengantarmu, bukan yang lain" bisik Sean di telinga Dea dengan penuh penekanan, jarak yang begitu dekat membuat Dea gelagapan.
"De.. lo masih disitu kan, kok diem aja" tanya Rey.
"Ma.. masih kok Rey, nanti aku nyusul aja masih banyak kerjaan soalnya.. kamu duluan aja" jawab Dea terbata.
"Oke deh, gue tutup dulu ya" pamit Rey.
__ADS_1
"Iya" Sean mengambil ponsel Dea dan mematikannya kemudian melanjutkan aksinya.
"Pak jangan seperti ini, ini dikantor" mohon Dea.
"Kau selalu memprioritaskan orang lain daripada aku kekasihmu" kesal Sean.
"Gak ada seperti itu, mereka sahabat-sahabat aku.. kita berhubungan layaknya sahabat yang lain" ucap Dea berusaha menjelaskan.
"Tapi kenapa aku merasa aku tidak begitu penting bagimu saat ada mereka" sendu Sean mulai berkaca-kaca menahan rasa cemburunya membuat Dea ingin tertawa.
"Cup" Dea mencuri ciuman kecil di bibir Sean untuk mengembalikan mood nya.
"Itu cuma pikiranmu saja, aku tidak ingin kau berfikir yang tidak-tidak.. percayalah padaku" ucap Dea serius.
"Aku percaya padamu.. tapi aku tidak sanggup melihatmu lebih perhatian pada orang lain selain aku" Sean beralih memegang tangan Dea dan mengecupnya lagi dan lagi.
"Sudah ya.. aku keluar dulu.. nanti karyawan pada curiga karena aku begitu lama berada di ruangan mu" kesal Dea.
"Suatu saat nanti.. " jawab Dea mencuri kecupan di pipi Sean setelah itu berlari keluar.
********
Sore itu seperti janjinya sepulang kerja Sean mengantarkan Dea berkunjung ke rumah Mario.
"Ku mohon kau bisa menjaga sikapmu saat disana nanti" mohon Dea.
"Ck..apa kita akan berpura-pura sebagai teman lagi sekarang? " cebik Sean.
"Jangan seperti itu, ini hanya sementara saja, sampai Mario sembuh" tegas Dea.
__ADS_1
"Kurasa hanya kau yang malu mengakui aku sebagai kekasihmu" kesal Sean.
"Sayang.. tolong jangan mulai ya.. " ucap Dea membuat Sean menepikan mobilnya karena kaget dengan panggilan yang lontarkan Dea.
"Apa kau bilang tadi.. tolong diulangi dong, aku suka dengernya" goda Sean.
"Kata yang mana..? " jawab Dea sok bodoh.
"Mulai sekarang panggil aku seperti itu saat kita sedang berdua ya" pinta Sean mengerlingkan matanya.
"Lihat nanti aja" cuek Dea membuat Sean mencebik.
"Kau ini.. " Sean melajukan mobilnya lagi hingga sampai ke rumah Mario.
"Assalamu'alaikum Ma.. " sapa Dea saat melihat Mama Mario sedang bersantai di ruang tamu.
"Sayang.. kamu sudah datang" ucap Mama senang.
"Mario dimana Ma? " tanya Dea pada Mama.
"Dia dikamarnya bersama Rey" jawab Mama.
"Ini.. " tunjuk Mama pada Sean.
"Dia.. " Dea bingung mau mengakui Sean sebagai siapa.
"Dia teman kerjaku Ma" Jawab Dea kemudian Sean menjabat tangan Mama.
"Saya Sean tante, apa kabar? " sapa Sean sopan menahan rasa kesalnya.
__ADS_1
"Baik Nak.. " senyum Mama pada Sean.