
Mario ikut mencebur ke dalam Kolam karena ia tau Dea tidak bisa berenang, Sedangkan Dea yang memang tidak bisa berenang sudah kesulitan bernafas.
"De.. bertahanlah, aku akan segera kesana" teriak Mario khawatir hingga menarik perhatian tamu yang ada di sekitar kolam, Dea sudah merasa lemah dan tidak bisa bernafas lagi saat Mario sudah merengkuhnya dalam pelukannya.
"Aku mohon De .. bertahanlah" sayup-sayup Dea mendengar kata-kata Mario hingga akhirnya pandangannya menjadi gelap dan tidak sadarkan diri saat sudah tiba di tepi kolam. Sean berlari menuju arah kolam saat mendengar kabar kalau kekasih pura-pura nya itu tercebur.
"Dea.. " teriak Sean berjongkok di tepi Dea yang sedang terbaring,tapi tiba-tiba dengan penuh amarah Mario menarik kerah baju Sean dan memukulnya dengan keras.
"Jika kau tidak bisa menjaganya kenapa kau bawa dia kemari" umpat Mario ber api-api, Sean yang mendapatkan serangan mendadak tidak dapat menghindar,ia terjatuh dan mengusap bibirnya yang berdarah, Tamara mendekatinya dan sok perduli pada Sean.
"Sean kamu tidak apa-apa kan? khawatir Tamara memegang pipi Sean.
" Lepaskan" hempas Sean menyingkirkan lengan Tamara yang memegangnya posesif, ia berjalan ke arah Dea yang sudah tidak sadarkan diri di gendongan Mario.
"Minggir.. aku peringatkan kau jangan dekati dia lagi, " ancam Mario dengan mata memerah.
"Tunggu, aku yang membawa dia kemari jadi biar aku yang bertanggung jawab" ucap Sean mencoba mengambil alih Dea yang sudah memucat dari gendongan Mario.
__ADS_1
"Cukup, aku tidak percaya padamu, kau urusi saja wanita mu itu, karena dia yang telah mencelakai nya" ucap Mario beranjak pergi. Sean berhenti dan mengepalkan tangannya, kemudian berjalan mencari keberadaan Tamara.
"Tamara.. " teriah Sean Kalap.
"Ada apa Sean" jawab Tamara menghampiri.
"Apa yang telah kau lakukan padanya? " Sean mencekik leher Tamara hingga wanita itu terbatuk-batuk.
"A.. aku ti.. tidak melakukan apapun Sean, dia terjatuh sendiri" jawab Tamara membela diri dengan muka yang sudah memerah.
"Apa kau yakin.. kalau sampai terjadi apa-apa padanya kau akan menyesal" ancam Sean menghempaskan tubuh Tamara begitu keras sebelum beranjak pergi.
"Bagaimana keadaannya? " tanya Sean yang tiba-tiba datang membuat Mario berdiri dan memberikan pukulan telak ke wajahnya.
"Kau adalah laki-laki brengsek, apa kau tau dia punya riwayat asma dan dia sama sekali tidak bisa berenang, karena kecerobohan mu ini kau bisa membunuhnya" umpat Mario mencengkram kra baju Sean.
"Maafkan aku" lirih Sean merasa bersalah karena ia tidak begitu mengenal gadis yang baru saja menjadi sekretaris nya itu.
__ADS_1
"Kenapa kau membawanya masuk ke dalam kehidupanmu yang begitu rumit, gadis-gadis fans fanatikmu diluar sana akan terus mengancam keselamatannya kalau dia terus berhubungan denganmu, dan kenapa kau memaksanya untuk menjadi pacarmu? " tanya Mario serius.
"Aku.. aku tidak tau kenapa aku ingin selalu dekat dengannya" jujur Sean.
"Apa kau mencintainya? " tanya Mario. Sean terdiam dan menatap Mario lekat karena ia masih belum yakin dengan perasaannya.
"Aku ingin kau menjahuinya kalau kau belum yakin dengan perasaan mu! " tegas Mario
"Tapi.. mana mungkin aku menjahuinya, dia sekretaris ku" ucap Sean memberi pembelaan.
"Dia akan cuti beberapa waktu sampai kau bisa yakin dengan perasaanmu, aku tidak rela kau mempermainkan sahabat wanitaku.. kalau kau berani macam-macam masih ada Rey dan Leo yang akan membunuhmu, dia sangat berarti bagi kami sahabat laki-laki nya" tegas Mario.
"Aku mengerti.. berikan aku waktu 1 minggu" tawar Sean.
"Baiklah setelah itu kau hubungi aku, ini kartu namaku" Mario memberikan kartu namanya buat Sean.
"Mario Adi Wijaya, sepertinya aku mengenal keluargamu" tebak Sean.
__ADS_1
"Seorang Sean Alexander pasti mengenal ayahku" Mario berdiri meninggalkan Sean.
"Maafkan aku.. " lirih Sean