
Alhamdulillah.. ijab qobul dilantunkan Sean dengan satu kali tarikan nafas hingga akhirnya terdengar kata sah dari semua saksi yang ada. Terlihat mata Dea berembun mendengar janji suci itu dilantunkan laki-laki yang kini resmi menjadi suaminya. Dea mencium tangan suaminya untuk pertama kalinya begitupun Sean yang mengecup kening Dea.
"Cantiknya istri ku.. " bisik Sean di telinga Dea setelah mengecup keningnya membuat Dea tersipu malu.
"Selamat ya sayang.. semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah" doa Mama untuk kedua mempelai.
"Amin.. makasih Ma " jawab Dea dan Sean bersama.
"Selamat ya De.. akhirnya nemu juga pawangnya" sindir Ray dan Leo yang saat itu hadir ikut mendoakan mereka.
"Makasih, Mario mana? " tanya Dea clingukan.
"Dia tidak bisa datang" jawab Leo membuat Dea kecewa.
"Dia menitipkan ini untukmu" Ray memberikan sebuah kotak berwarna hitam pada Dea.
"Apa ini..? " tanya Dea.
"Buka sendiri aja nanti" pesan Ray.
"Ya udah makasih ya" sendu Dea menatap kedua sahabatnya.
"Gak usah mellow gitu simpan tenagamu buat nanti malam" pesen Leo.
"Iya.. gue cuma terharu aja" lirih Dea.
__ADS_1
"Tuan Sean titip gadis barbar ini ya, tolong jagain dia buat kami" pinta Ray.
"Iya.. kalian jangan khawatir" jawab Sean tersenyum ramah.
"Terima kasih" ucap Ray di angguk i Leo.
"Baiklah kami permisi istirahat dulu, nanti malam kita bertemu lagi" pamit mereka.
"Silahkan" jawab Sean.
"Acara resepsi Sean dan Dea akan diadakan di hotel berbintang milik keluarganya, jadi setelah akad mereka diharuskan istirahat terlebih dahulu.
" Sayang apa kau tidak ingin istirahat? " tanya Sean saat sudah berada di kamar mereka, para tamu sudah pulang untuk beristirahat sehingga merah memutuskan untuk beristirahat juga di kamar mereka.
"Iya..sekalian aku ingin makan " jawab Dea mengangguk.
"Aku bersih-bersih dulu ya, kamu tunggu sebentar" ucap Sean.
"Iya sayang" jawab Dea reflek.
"Apa katamu tadi? " tanya Sean penasaran dengan tersenyum .
"Apa.. aku tidak mengatakan apa-apa" jawab Dea bingung.
"Yang tidak sengaja terasa begitu enak di dengar" lirih Sean memasuki kamar mandi .
__ADS_1
Setelah 15 menit Sean keluar dari kamar mandi mendapati istrinya yang kesulitan membuka resleting gaunnya di cepat cermin. Sean mendekat dan membantunya, ia berdiri di belakang istrinya.
"Apa yang.. " Dea tidak bisa melanjutkan kata-katanya melihat tatapan suaminya dari cermin, Sean hanya menggunakan handuk sebatas pinggang dan rambutnya pun masih terlihat basah.
"Sttt.. diamlah, biar aku membantumu" bisik Sean di telinga Dea membuat tubuh Dea meremang. Sean mulai menurunkan resleting itu perlahan dengan tatapan lembutnya.
"Emmm.. Pak.. eh " gugup Dea saat resleting itu sudah terbuka sempurna, Dea terjingkat saat sebuah kecupan kecil mendarat di bahunya yang polos.
"Sayang.. apa boleh aku.. " tanya Sean dengan tatapan memburu.
"A..apa.. " tanya Dea gugup.
"Boleh kan.. " Sean menurunkan baju Dea begitu saja menyisakan dalaman saja, ia menggendong istrinya itu menuju ranjang dan mengungkungnya. Sean memulai kegiatan itu mengikuti nalurinya.
"Hentikan.. " ucap Dea tiba-tiba
"Ada apa.. " jawab Sean dengan mata yang sudah berkabut.
"Maafkan aku..kita tidak bisa melanjutkan ini" lirih Dea.
"Kenapa..? "
"Aku sedang kedatangan tamu.. " jawab Dea mendorong tubuh Sean dan berlari ke kamar mandi dengan hati masih deg degan.
"Akh.. sial" umpat Sean mengusap wajahnya.
__ADS_1
******
Sorry kita pending dulu ya.. autor ikut deg degan nih ðŸ¤