Sayap Perwira

Sayap Perwira
97. Teguran.


__ADS_3

"Kapan Papa sama Mama pulang?" tanya putra pak Marto.


"Papa dan Mama tugas lamaaa sekali, apalagi Mama. Nanti kalau sudah besar.. kamu akan mengerti" jawab Dinda masih menahan air matanya.


"Bu Wira, Nando nggak mau pulang ke Jawa. Bolehkah Nando tinggal disini? Nando bisa sikat sepatu ibu, bisa lap kaca mobil ibu.. jangan pulangkan Nando. Di Jawa semua orang benci sama Mama" kata Nando menggugah perasaan Dinda.


Dinda memangku Nando agar bisa duduk dalam pangkuannya.


"Kalau Nando pengen.. Nando boleh cerita kok" bujuk Dinda.


Bang Wira sigap menyalakan perekam nya.


"Eyang suka maki mama, pukul Mama dan ambil uang mama di dompet. Mama sering nangis di kamar. Nando temani" kata bocah berusia tiga setengah tahun itu.


"Bang..!!" Dinda mendongak menatap Bang Wira dan memegangi tangan suaminya itu seakan tak kuat mendengarnya.


"Kamu istirahat saja. Biar Abang yang lanjutkan..!!"


"Biarkan Dinda di sini Bang, Nando butuh sosok ibu" kata Dinda.


"Bagaimana kalau kamu nggak kuat dek? Jantungmu belum sehat benar" jawab Bang Wira.


"Dia nggak punya siapa-siapa lagi Bang"


Bang Wira mengalah, ia mengijinkan Dinda disana tapi tetap dalam pengawasannya.


"Nando sayang, apa kamu pernah lihat Mama... Ehmm.. naik ojeg, atau di antar om siapa begitu untuk belanja ke toko depan?" tanya Dinda dengan bahasa yang lebih di mengerti anak-anak.


"Di antar om Sapta. Kalau belanja Mama banyak, Nando di titipkan di warung Bu pecel belakang kantor. Kalau hanya sedikit.. Nando pasti ikut" jawab Nando.


"Astagfirullah hal adzim.. Abaang..!!!" Dinda ambruk lemas dan bersandar pada Pinggang Bang Wira.


"Sudah lah dek. Jangan di lanjutkan kalau nggak kuat. Nyeri Abang lihat kamu ini"


"Iya Bang, Dinda nggak kuat dengarnya" kata Dinda.


"Aaron.. tolong bawa Nando dulu ya..!! Batalkan keberangkatan Nando. Saya yang tanggung jawab sampai ada kejelasan dari masalah ini. Abang mau tangani Dinda" perintah Bang Wira.


Bang Aaron mengangguk.


"Nando ikut sama Om dulu yuk. Kita beli jajan, nanti main sama adek Faiz."


"Bu Wira.." panggil Nando seakan tak mau lepas dari Dinda.


Dinda menghentikan langkahnya.


"Bawa Nando Bang..!!"


"Nanti Abang ajak Nando. Sekarang perhatikan kesehatanmu dulu..!!" tolak Bang Wira.


"Bawa atau Dinda nggak mau kesana..!!"


"Aarrhh.." Dinda mulai kesakitan memegangi dadanya.


"Ya Allah dek, kamu ini..!!!!!!"


"Bawa Nando di belakang saya..!!" perintah Bang Wira pada siapapun yang berada di belakangnya.

__ADS_1


"Siap..!!!!"


...


"Dinda nggak bisa bayangkan apa yang terjadi dalam rumah tangga Om Marto Bang. Cepat usut dulu..!!"


"Ini Abang lagi tunggu berita dari pihak keluarga Marto, keluarga istrinya Marto sudah tidak ada satu tahun yang lalu" kata Bang Wira.


Tak lama ada kabar berita yang sangat mengejutkan datang dari keluarga.


~


"Ini bukan kematian anggota pak, tidak ada uang duka dari negara. Kalau pun ada santunan.. semua akan masuk dana masa depan Nando" Jawab Bang Wira dalam sambungan telepon.


"Jadi bagaimana Bu, apa Nando akan di jemput atau pihak anggota yang akan mengantar Nando?"


"Tapi keuangan untuk Nando ada khan Pak? Paling tidak.. sepuluh juta satu bulan" tanya ibu Pak Marto.


"Mohon maaf ibu. Negara tidak menanggung biaya seperti itu."


"Tambah satu anggota keluarga lagi itu berat pak. Kami nggak sanggup terima Nando kalau tidak ada biaya tambahan" jawab Ibu Pak Marto.


Mata Pak Marto berkaca-kaca mendengar setiap jawaban dari ibunya dan mendengar langsung dari rekaman suara yang Bang Wira buat. Ia sungguh tidak menyangka kalau ibunya bisa bersikap seperti itu, ibu yang selalu ia bangga-banggakan.


"Jadi bagaimana ini Mar?" bisik Bang Wira bertanya pada Pak Marto.


"Saya nggak sanggup lagi bicara sama ibu Dan."


Bang Wira menyerahkan ponsel itu pada anggotanya lalu duduk berhadapan dengan Pak Marto. Tak lama orang yang di anggap selingkuhan istri Marto datang. Praka Sapta.


Emosi Pak Marto langsung memuncak tapi Bang Wira segera menengahi.


"Siap..!!"


:


"Begitu lah Dan. Mia itu wanita yang pendiam.. saya kehilangan istri, Mia punya suami yang tidak perhatian dan hanya mementingkan ibunya saja. Uang gaji.. Marto yang pegang. Ibunya sering sekali kesini. Jika Marto sudah berikan uang untuk istrinya, selalu di minta lagi" kata Praka Sapta.


"Ibuku tidak begitu"


"Apa selama ini kau tau banyaknya memar biru di tubuh Mia? Apa gunanya kau jadi suaminya???" bentak Praka Sapta.


"Kata ibu itu hal biasa, perempuan biasa lelah" jawab Praka Sapta.


"Iya, sampai kau pun mengabaikan kebutuhan biologisnya"


"Kalau lelah lebih baik membiarkan istri tidur sendirian" Marto pun ikut berteriak.


"Istri mana yang tidak lari jika suaminya bodoh dan tidak peka seperti mu. Saya memang salah dan siap menerima hukumannya.. apapun itu. Saya sudah kehilangan Mia.. untuk apa saya hidup" Praka Sapta menunduk dan menangis pilu.


Kepala Bang Wira rasanya mau pecah di buatnya.


"Marto.. kamu salah..!!!!" tegur Bang Wira karena tidak sabar lagi dengan perdebatan itu.


"Kamu....!!!!!!!" Bang Wira sampai mengepalkan tangannya tak kuat membayangkan apa yang terjadi pada istri Marto.


"Istrimu sudah tidak kuat lagi Marto, dia tertekan sampai lari ke pelukan pria lain. Dia butuh perlindungan, tempatnya mengadu dan kau hanya terus memikirkan ibumu tanpa memikirkan Mia. Saya tau mungkin kamu paham soal 'keyakinanmu', tapi segala sesuatu jangan kamu telan mentah-mentah tapi juga harus kamu uraikan maknanya, berbakti pada orang tua memang wajib, tapi kamu juga tidak di benarkan kalau mengabaikan istri mu"

__ADS_1


Marto luluh lantah menangisi kebodohannya. Istrinya sudah tiada, anaknya sebatang kara jika dirinya nanti mendekam di dalam penjara.


"Miaaa..!!!! Maafin mas ya dek..!!" Marto tersedu-sedu berderai air mata penuh penyesalan.


"Kamu harus tetap tanggung jawab Mar..!!"


"Siap Dan"


"Apa yang bisa saya lakukan untuk kamu?" tanya Bang Wira.


"Tolong jaga dan didik Nando. Saya percaya kan pada Komandan"


"Saya bersedia, tapi......"


"Saya tau Dan. Biar gaji saya.. semua untuk mendukung hidup Nando" pinta Marto.


"Bukan itu Marto.. soal biaya, Insya Allah saya sanggup. Tapi mengangkat anak, butuh kekuatan hukum" jawab Bang Wira.


"Saya bersedia Dan..!!"


...


Malam hari Bang Wira duduk termenung menatap bintang. Sungguh hatinya terasa ngilu, batinnya menangis mengapa sampai ada korban. Amarah yang meluap tanpa perhitungan membuat luka dan kehilangan dari banyak pihak.


Sebagai seorang pria, dirinya merasa lemah. Melihat Dinda melahirkan saja sudah membuat nyawa nya seakan ikut melayang dan hal itu juga membuatnya tak berani untuk kasar dengan sang istri.


"Abang disini? Sudah malam lho Bang" sapa Dinda berdiri di hadapan Bang Wira.


"Anak-anak sudah tidur?" tanya Bang Wira.


"Sudah.. bibi menidurkan Asya sama Nando. Tian tidur di kamar kita" jawab Dinda yang tiba-tiba duduk di pangkuan Bang Wira.


"Tidur yuk Bang..!!" ajak Dinda.


"Kalau masih ngantuk kenapa tadi kesini?"


"Pengen digendong sama Abang"


"Dinda kangen. Pengen di manja" jawab Dinda sembari memainkan jari lentiknya di dada Bang Wira.


Bang Wira menelan salivanya susah payah.


"Jangan nakal aahh"


"Kalau nggak nakal sama Abang.. boleh kah sama tetangga?" tanya Dinda manja.


"huusshh.. omong opo iku. Ngawur..!!!!!" Bang Wira menjepit bibir Dinda dengan telunjuk dan ibu jarinya.


"Ya sudah kalau nggak mau..!!" Dinda berlaga cemberut dan beranjak meninggalkan Bang Wira.


"Siapa sih yang bilang nggak mau? Istri cantik begini masa nggak mau, ini botol Abang sudah penuh, di badan nggak enak.. !!" tanpa banyak bicara Bang Wira membopong Dinda masuk setelah memastikan situasi dalam keadaan aman. Lama sekali Bang Wira tak merasakan hangatnya peluk sang istri hingga akhirnya, ia mengibarkan bendera putih. Menyerah tak sanggup 'bertapa' lebih lama.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2