Sayap Perwira

Sayap Perwira
83. Tak putus rasa cinta padamu.


__ADS_3

"Bang.. gendong..!!" Dinda mengulurkan tangannya.


"Gendong depan???" tanya Bang Wira bingung karena mereka berada dalam lingkungan asrama.


"Kalau gendong depan nanti Abang kepikiran yang lain neng"


"Belakang aja Bang, Dinda capek" jawab Dinda.


"Depan atau belakang tetap saja Abang yang pikul."


"Ya sudah sini.. asal kamu nggak malu aja, Abang nurut aja lah"


"Nggak" Dinda segera naik ke punggung Bang Wira dan suaminya itu hanya tersenyum.


"Kita nongkrong sebentar di puncak bukit, lihat pemandangan kalau malam..!!" ajak Bang Wira.


:


"Abang pengen punya anak berapa?" tanya Dinda menoleh ke belakang menunggu jawaban Bang Wira.


Bang Wira melebarkan jaketnya dan mendekap Dinda.


"Cukup satu si jambul ini saja. Abang juga sudah punya Asya. Abang nggak mau banyak anak"


"Abang nggak suka anak-anak?" tanya Dinda lagi.


"Suka.. tapi Abang nggak mau cara kita mendapatkan momongan harus mengorbankan mu. Kamu yang lebih penting dari hanya sekedar anak" jawab Bang Wira.


"Kenapa Abang bicara begitu????"


"Ini pembahasan yang berbeda sayang. Kamu tidak seperti perempuan lain yang melaluinya, kamu bisa mengandung si kecil kita ini sudah hal yang sangat luar biasa." kata Bang Wira.


"Seorang ibu rela mengorbankan nyawanya demi hadirnya sang buah hati"


"Tapi seorang suami juga akan mengupayakan apapun demi anak dan istrinya. Agar keduanya mampu menerima nafas Tuhan dengan baik dan berdamai dengan keadaan" Bang Wira semakin mendekap erat tubuh Dinda.


"Ketakutan Abang.. hanya kehilanganmu saja. Dunia ini terasa hampa dan mati. Membuat Abang tak inginkan nafas ini lagi, jadi tolong jangan bahas tentang anak lagi. Abang hanya inginkan dia ini.. satu-satunya hadiah darimu yang paling berharga. Jagoan yang akan Abang peluk dan Abang ajak bermain. Tak inginkan hal lain lagi"

__ADS_1


"Benarkah itu Bang?? Abang nggak pengen yang lain mumpung istri masih ada??" tanya Dinda.


"Omongnya itu lho. Apa sih kamu ini??" Raut wajah Bang Wira berubah cemas, waspada dan gelisah.


Dinda menarik tangan Bang Wira agar memeluknya lebih dalam lalu mendongak menatap wajah Bang Wira.


Bang Wira menyentil kening Dinda dan memelototi nya.


"Kalau pengen tuh bilang. Nggak usah bicara aneh-aneh"


Dinda mengecup bibir Bang Wira membuat pria itu tersenyum penuh fantasi.


"Pulang sekarang ma??"


Dinda mengangguk mengiyakan. Bang Wira pun segera mengulurkan tangannya mengajak Dinda untuk pulang.


"Ujung-ujungnya kangen juga khan" Ledek Bang Wira.


...


Bang Wira mengintip rumahnya yang sudah terlihat sepi. Ini memang bukan pertama kalinya dirinya menggendong Dinda tapi kali ini rasanya sungguh berbeda. Lingkungan baru, suasana yang baru. Ada getar rasa menggelora mengusik batinnya, entah mengapa Dinda begitu cantik.. tak tau usai keributan itu, dirinya tak bisa menahan rasa rindunya.


"Dengan satu syarat..!!" kata Dinda.


"Iya, apapun syaratnya. Sekarang atasi dulu masalah Abang..!!" bisik Bang Wira tak tahan lagi.


"Okee..!!" jawab Dinda kemudian melakukan tugasnya sebagai seorang istri.


***


"Ini serius dek? Berat semangkanya tiga kilo nih.. mungkin lebih. Belum lagi tambahan hukumannya" protes Bang Wira.


"Serius Bang, bayi lahir rata-rata beratnya bisa tiga kilo. Lagipula semalam, Abang sendiri yang menyanggupi" jawab Dinda.


"Astagfirullah.. semalam itu Abang jawab karena sudah benar-benar nggak tahan. Abang kira nggak akan ada hukuman macam-macam"


"Siapa suruh Abang seperti orang hilang akal dan menyanggupi apapun permintaan Dinda. Sekarang Abang tanggung kesanggupan Abang" ucap Dinda tak ingin ada tawar menawar.

__ADS_1


:


Bang Wira mengusap peluh di keningnya. Semangka di perutnya sangat terasa membuatnya lelah.


Seperti inikah yang dirasakan wanita? Lelahnya menerima 'titipan' kami yang harus di lalui bukan hanya untuk satu atau dua hari. Tidak enak makan, tidak enak minum, bergerak sulit tapi harus tetap berjuang demi buah hati, demi menjaga apa yang di amanahkan Allah pada seorang wanita.


"Capek Bang?" tegur Dinda.


"Capek itu manusiawi, tapi secapeknya badan Abang.. Abang masih lebih kuat dari kamu. Wanita itu sungguh luar biasa. Terima kasih banyak ya dek..!! meskipun sakit kamu tetap menjaganya tanpa mengeluh."


Ada rasa haru dalam hati Dinda tapi ia menahannya kuat.


"Abang nih memang pandai kalau soal merayu. Sudah berapa banyak wanita yang Abang rayu?" Dinda mengalihkan pembicaraan sembari menata apapun yang ada di belakang Bang Wira meskipun itu tidak berguna.


Bang Wira mengambil gelas di tangan Dinda kemudian meletakan lagi di tempatnya.


"Tidak salah khan kalau Abang pernah merayu Adinda?" tanya Bang Wira. Seketika ada rasa tertusuk dalam hati Dinda. Bang Wira memeluk dan mengusap punggung Dinda.


"Kewajiban Abang untuk melembutkan hati wanitanya Abang, begitu pula denganmu. Seluruh apa yang ada pada diri Abang adalah milikmu. Adinda bagai mimpi untuk Abang, tapi kamu sejalan dengan nafas dan denyut nadi Abang.. selalu ada dan akan selalu ada, selamanya.


"Pembual besar. Buaya darat" ucap Dinda menahan sesenggukan.


"Abang kudu piye to cah ayu? Jujur salah, ngapusi tambah salah. Wong lanang iki ning ora di pancing perkoro yo ora bakalan padu, ora bakalan geger. Kowe kuwi ngopo ngelarani atimu dewe?" jawab Bang Wira.


"Bang Wira ini sayang kamu, apa kurang bukti kalau Abang sayang kamu?"


"Seberapa pun banyaknya Abang menunjukan. Wanita tak pernah ada puasnya. Benar kami katakan kami mampu melupakan masa lalu pasangan, tapi dalam hati kami tidak begitu adanya"


Dengan sabar Bang Wira memberi pengertian pada sang istri yang tengah merajuk manja. Ia paham sikap Dinda yang beberapa waktu ini suka berubah. Ia pun memahami dan menerima resiko dirinya yang memang seorang duda.


"Abang paham, itu wajar dan tidak ada wanita yang ingin suaminya membagi hati sekalipun masa lalunya tidak ada lagi. Abang tau kamu bukanlah malaikat yang mampu menanggung beban rasa ini sendirian, tapi sayang.. Insya Allah Abang tidak begitu. Satu hati Abang hanya untuk mencintaimu.. itu berlaku seumur hidup. Jika Allah mengijinkan nya dan jika Abang ini imam terbaik bagi hidupmu.. kamu masih bisa menagih cinta Abang di surga"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2