Sayap Perwira

Sayap Perwira
87. Cinta untukmu sayang.


__ADS_3

Harap kebijakan dalam membaca..!!


🌹🌹🌹


"Tidak semua permasalahan Abang harus kamu tau. Apalagi soal pekerjaan Abang.. itu bukan kapasitasmu untuk tau. Ada kesulitan Abang di medan tugas. Tidak perlu juga kamu harus pahami. Abang hanya ingin kamu tau, suamimu ini cukup memberimu sandang pangan dan papan. Tak kurang suatu apapun saat bersanding dengan Abang. Itu sudah tugas dan tanggung jawab dunia akhirat Abang. Itulah kenapa Abang bilang kalau Abang yang harus tau segalanya tentangmu. Semoga kamu bisa pahami itu"


"Dinda paham Bang" jawab Dinda.


Bang Wira mengecup kening Dinda dengan sayang kemudian turun hingga ke bibir si jelita pujaan hati. Ada rasa rindu tak terlukiskan, lima bulan ia menahan diri untuk tidak menyalurkan hasrattnya pada Dinda. Tapi Bang Wira pun hanya manusia biasa yang masih memiliki naluri dan rasa apalagi saat tangan Dinda merangkul ke belakang tengkuknya dengan manja.


"Dinda kangen Abang" kata mematikan yang Dinda ucapkan sungguh menjadi tekanan tersendiri untuk Bang Wira.


"Sabar dek. Tiga bulan lagi ya" ucap Bang Wira yang sebenarnya juga tidak sepenuhnya bisa menahan diri.


"Kenapa pa?? Mama nggak cantik??" tanya manja Dinda.


"Aduuhh Dinda.. kenapa kamu uji Abang seperti ini dek??" Wajah Bang Wira sudah bersemu merah. Tubuhnya pun menegang hanya karena mendengar rengekan manja Dinda.


"Baang..!!!" Dinda menyelipkan jemarinya menyusuri dada bidang Bang Wira.


Bang Wira menarik tubuhnya menghindari Dinda, tapi tatapan mata dan perlakuan itu membuatnya lemah selemah lemahnya seorang pria, lama tak merasakan menyatukan diri dan juga godaan dari sang istri membuatnya ngedrop total. Tapi saat ia beranjak, Dinda malah mengarahkan tangan itu menyusuri lekuk tubuh indahnya.


Dalam hati Bang Wira mengumpat-umpat kesal. Dirinya sudah sebegitu frustrasinya menahan gejolak yang membakar perasaan. Masih bergulat dengan perasaan, Dinda menyambar bibirnya.


Mata Bang Wira terpejam mengikuti alur yang Dinda buat, perlahan pertahanan imannya runtuh, benteng dirinya pecah berantakan. Tangannya kelabakan membuka laci nakas mencari sesuatu dan akhirnya ia menemukannya. Nafas memburu tak kuat menahan rasa. Dengan cepat dan lincah tangan itu sudah menaikan dress Dinda dan menelusuri bagian yang membuatnya rindu, tak tahan lagi dengan pergulatan batinnya, Bang Wira mengambil alih tugas Dinda sembari melucuti pakaiannya sendiri.


"Dinda kangen Bang" bisik kecil Dinda saat Bang Wira memberinya jeda.


"Abang juga sayaang" Benda di tangannya masih terpegang di tangan kiri tapi Bang Wira yang seolah sudah hilang akal tak lagi mengingat pengamannya. Niat yang ingin tetap bertahan di mode kalem akhirnya juga tak bisa ia terapkan.


:


Bang Wira menghentak dalam. Tak lama d*****n panjang mengiring batinnya yang sudah lega terlepas tapi sesaat kemudian pikiran warasnya kembali normal.


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Wira memukul kencang sisi kosong di samping bantal Dinda.


"Kenapa aku bisa sebodoh ini??????" Bang Wira berguling menjauh dari Dinda meratapi kebodohannya. Ia membuang dengan kasar pengaman yang ada di tangannya.


"Abaang.." sapa Dinda.

__ADS_1


"Sakit nggak??" tanya Bang Wira pelan, nafasnya masih belum juga normal.


"Abang nggak apa-apa?" tanya Dinda.


"Abang itu tanya sama kamu. Jangan balik bertanya lagi" ucap keras Bang Wira.


"Dinda nggak apa-apa Bang"


Secepatnya Bang Wira memeluk Dinda.


"Jangan di ulang lagi. Kamu tau khan bagaimana Abang. Abang paling nggak bisa kamu goda seperti ini"


...


"Pa.. ayo berenang" ajak Asya menarik tangan Papanya.


"Ini sudah sore Asya. Kalau berenang enak pagi. Besok saja Papa temani ya" tolak Bang Wira yang sebenarnya masih mencemaskan Dinda.


"Ajak saja Bang, ke kolam anggota saja. Sama om-om baru di bersihkan. Ini juga masih jam setengah empat" Dinda mengusap perutnya yang sudah berusia tujuh bulan lebih tiga hari.


"Tapi Mama ikut ya. Duduk saja di saung, nggak usah ikut nyebur dan nggak usah turun kalau Papa belum naik dari kolam" pinta Bang Wira.


"Oke Papa" Dinda pun menyanggupi.


...


Terasa ada tendangan kecil di perut Dinda dan di saat itu pula Dinda merasakan nyeri yang luar biasa mulai perut bawah hingga pangkal pahanya.


"Aaahh.. kenapa tiba-tiba sakit sekali, apa aku salah makan?" Dinda meraba perutnya yang semakin sakit. Ia memilih mengatur nafas dan duduk tenang sembari menunggui Bang Wira dan Asya yang tengah beradegan romatis berdua.


"Bi.. Asya sudah nih. Sudah kedinginan dia. Nanti setelah ganti pakaian, bibi ajak pulang ya" pinta Bang Wira pada Bi Onah.


"Baik Pak"


"Nanti ada yang jemput bibi. Saya mau berenang dulu. Nanti Dinda pulang sama saya..!!"


:


"Nggak apa-apa, nanti Abang pegangi. Kalau sama Abang nggak akan tenggelam"

__ADS_1


Akhirnya Dinda menurut dan ikut Bang Wira turun ke kolam renang khusus tentara yang dalamnya dua setengah meter itu.


"Pegang Abang..!!"


#


"Eegh.."


Bang Wira melepas paguttannya saat Dinda merintih kecil dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa?"


"Perut Dinda mulas Bang" Dinda menahan sakit sampai menggigit bibir bawahnya dengan kuat.


Dengan sigap Bang Wira menggiring Dinda ke tepi kolam, tapi saat Bang Wira menariknya.. Dinda mengejan dengan kuat.


"Astagfirullah.. jangan dek..!!!!"


"Bukan Dinda Bang.. perutnya yang nekan sendiri" jawab Dinda.


"Tahan dulu yank. Ini kita ke rumah sakit kota sekarang..!!" Bang Wira membilas tubuh Dinda di bawah air bersih sekaligus juga dengan dirinya lalu mendudukan Dinda perlahan di saung dan mengeringkan rambut istrinya. Ia menutup sekeliling tirai dan membantu Dinda berganti pakaian disana.


Dinda ambruk dan tersandar lemas meskipun kesadarannya masih ada.


"Abang.. jangan ke rumah sakit. Dinda nggak kuat jalan"


"Duuhh alaaah.. piye to iki??"


Bang Wira gugup mencari ponselnya. Pikirannya terasa buntu kebingungan mencari akal.


"Jambuuu.. Iki sopo sing kudu di telepon" umpatnya berang dengan pikirannya sendiri.


"Abaaaaang.. sakit" pekik Dinda tanpa sadar menarik jambul Bang Wira.


"Allahu Akbar.. sabar dek. Ini Abang cari bantuan. Weess.. angel iki" Bang Wira hanya bisa memercing tanpa berani melawan amukan Dinda.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2