Sayap Perwira

Sayap Perwira
94. Drama dewasa.


__ADS_3

Harap kebijakan dalam membaca..!!!!!


🌹🌹🌹


"Bang Aaron manaaaaa????" Alena sudah histeris merasakan sakit. Untuk berdiri saja rasanya sudah tidak kuat.


"Abang saja ya yang antar ke rumah sakit..!!"


"Nggak mau.. Alen maunya sama Bang Aaron"


"Duuuhh.. nyangkut ning endhi si Aaron??? Bocah ngglowor..!!!" umpat Bang Wira.


"Ijin Danki, Danton sedang main ketapel dan petasan di bukit belakang Kompi" lapor seorang anggota yang tadi dimintai tolong Bang Wira.


"Kamu sudah bilang ada pesan dari saya??" tanya Bang Wira.


"Siap sudah"


"Kamu bilang apa?" tanya Bang Wira lagi.


"Siap.. istri Danton ajak mancing"


"Lahdalah.."


Plaaaaakkk...


"Kowe piye to gombloohh.. Launching.. bukan mancing. Koplaak..!!!!!! Ini anak Danton mau lahir..!!!!!" Bang Wira sampai emosi di buatnya.


"Siap salah..!!!!!"


"Sekarang kamu bilang sama Dantonmu itu. Minta dia pulang sekarang. Anaknya keburu brojol ini..!!!!!!" bentak Bang Wira.


:


"Oohh.. sebentar..!!" Bang Aaron masih tetap membidik buruan sampai akhirnya dirinya tersadar.


"Apaaa??? istri saya mau melahirkan?????" tanyanya heboh sendiri.


"Siap Danton.."


"Burungnya bagaimana ini??" ucapnya masih tidak ikhlas meninggalkan buruannya.


"Ijin Danton.. Ini Danki telepon" anggotanya terpaksa memutus pembicaraan Bang Aaron.


Bang Aaron pun segera menerimanya.


"Kamu dimana?"


"Masih jerat burung Bang, bolak balik lepas jerat" jawab Bang Aaron.


"Cepat pulang atau burung kesayangan mu itu Abang penggal lehernya..!! Urus yang ini dulu. Ini juga gara-gara burungmu yang banyak gaya itu..!!!!!!" bentak Bang Wira sudah panas sampai ubun-ubun kepala.

__ADS_1


"Siap..!!"


...


"Masuk kan dulu burungnya dalam sangkar Bang..!! Nanti saya lihat. Sekarang saya masih sibuk, istri mau bongkar muat nih..!!" bisik Bang Aaron saat Bang Righan menghubunginya.


"Waahh.. hati-hati Ar..!! Istrimu bisa menjerit kesakitan, kulitnya di jahit, kepalamu bisa pusing bau darah" kata Bang Righan mengingat pengalaman nya.


"Yang benar Bang??" tanya Bang Aaron, tapi sesaat kemudian ia mengingat saat Dinda melahirkan, istri Bang Wira sampai koma dua minggu setelah berteriak kesakitan.


"Oiyaaa.. Abang benar"


"Naahh khan, itu pengalaman yang luar biasa bagi Abang" jawab Bang Righan dengan sombongnya.


"Maaf ya pak Righan.. tolong jangan membual dan membuat situasi jadi kacau. Bapak itu selalu pingsan saat kejadian, jadi pengalaman apa yang bapak dapat???" tegur Icha istri Bang Righan.


"Ya pengalaman pingsan" jawab Bang Righan pasrah.


Bang Aaron yang mendengarnya jadi sedikit terpengaruh dengan kata-kata Bang Righan. Ia memutuskan sambungan telepon dan melihat keadaan Alena.


:


"Mbak Dindaaa...." Alena memegang erat jemari Dinda merasakan sakit luar biasa.


"Sabar ya Alen. Ini sudah kodratnya. Kita wanita pasti akan merasakannya" kata Dinda menguatkan Alena.


Bang Wira hanya bisa menyandarkan kening di tangannya yang mengepal menghadap dinding. Ini ketiga kalinya ia begitu tegang menemani wanita melahirkan.


"Gundhulmu.. Pembukaan saja masih tiga. Masih jauh Ar" jawab Bang Wira sesekali melirik Alena yang sedang di tangani bidan di dalam kamar.


"Memangnya harus ada berapa pembukaan Bang?" tanya Bang Aaron tidak paham.


"Empat belas atau lima belas ya? Pokoknya harus di buka" jawab Bang Wira yang sebenarnya juga tidak paham.


"Lalu beli alatnya dimana? Biar saya cari sekarang juga Bang..!!" kata Bang Aaron.


"Maksudmu apa sih Ar, memangnya mau di bongkar pakai kunci Inggris??" tegur Bang Wira pusing sendiri.


"Seingat Abang nanti ada suntikan pelebaran jalan"


"Mau di cor kah Bang?"


"Lu kira jalan tol??"


"Kalian bisa diam atau tidak???????" Bang Siregar yang baru datang sampai pusing dengan ocehan dua pria kurang ilmu itu.


"Jangan bodoh begitu donk. Itu infus yang terpasang di punggung tangan Alena sudah sangat membantu. Kalian jangan ribut lagi.. itu untuk membantu jalan lahir" jelas kali ini Bang Siregar lebih pintar karena saat kelahiran Hazna, ia tidak sepanik Bang Wira dan Bang Aaron.


"Sombongnya kau. Coba kau ada di posisi kamu, kau pun tak kalah bodohnya" jawab Bang Wira.


-_-_-_-_-

__ADS_1


Bang Aaron sangat takut masuk ke dalam kamar klinik kecil di dekat kompi. Karena melihat Alena kesulitan saat proses melahirkan, maka Bang Aaron segera membawa Alena ke rumah klinik.


"Masuk sana..!! Kemana nyalimu..!!" tegur Bang Wira.


"Sabar Bang, saya nafas dulu..!!"


"Memangnya daritadi kamu nggak nafas?????" Bang Wira mendorong punggung Bang Aaron agar segera masuk ke ruangan.


Alena mengejan sekali, Bang Aaron menahan nafas melihatnya.


"Abaang.. lebih baik Abang kirim saya perang di Kebumen daripada liat Alena melahirkan...Tolong Bang..!!"


"Nggak ada alasan Ar.. kau harus kuat. Ini khan karena ulahmu juga..!!" kata Bang Wira semakin mendorong Bang Aaron.


~


"Hwaaa.. Astagfirullah hal adzim..!!!!" Bang Aaron berteriak-teriak saking takutnya. Ia berjingkat ingin kabur dari kamar tindakan tapi tanpa sadar matanya melihat 'pintu' yang terbuka lebar.


"Allahu Akbar.. kok ngono Bang. Ya Allah..!!" Bang Aaron syok melihat ada bentuk yang berbeda disana.


"Hhkkk.." Bang Aaron mual dan terasa sesak. Tak lama keluarlah bayi mungil dari rahim Alena.


gubraaaaaakkkk...


"Pak Aaron..!!!!" Bidan berteriak saat Bang Aaron jatuh terduduk menimpa meja di belakangnya.


"Tenang Bu. Saya masih sadar. Cuma kaki aja yang rasanya lemas. Mata maunya merem aja" jawab Bang Aaron setengah sadar.


"Tolong Pak Aaron.. kalau pingsan malah kita repot" kata Bu Bidan dan rekannya membantu Bang Aaron untuk duduk.


:


Pintu kamar tindakan terbuka. Terlihat Bang Aaron tersenyum lebar mengangkat alis sambil membawa bayinya dengan kaku.


"Alu apa lumpang Ar??" tanya Bang Wira tak sabar.


"Alu Bang. Saingan papanya nih" jawab Bang Aaron.


"Akhirnya.. lu nggak ganteng sendirian" Bang Wira mengintip si kecil dari balik selimutnya.


"Kok mirip mamanya Ar?"


"Jelas.. mamanya yang ngebet Bang" jawab Bang Aaron tak peduli apapun lagi. Hatinya tengah berbunga bahagia.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2