Sayap Perwira

Sayap Perwira
60. Bagi yang sudah halal.


__ADS_3

"Pak Wira, Pak Siregar sudah selesai ganti pakaian, sekarang giliran bapak..!!" kata seorang perias.


"Sebentar.. lima menit lagi ya, saya hampir menang" kata Bang Wira yang masih sibuk bermain ular tangga bersama rekan-rekannya.


Berbeda dengan Bang Siregar yang nampak gugup setengah mati, Bang Wira terlihat lebih santai.


"Pak, pengantin perempuan cantik sekali lho.. bapak mau mengundur waktu?" tanya perias Dinda yang juga sudah tiba disana.


Mendengar itu Bang Wira pun berdiri, Kapten muda itu masih memakai celana kolor dan kaos olahraga Batalyon.


"Ya sudah, ayo.. kapan lagi ngerasain kawin" celotehnya tak tau malu.


...


Lho.. ini konsep pernikahanku kenapa jadi wajah Dinda semua???" protes Bang Siregar.


"Maaf Pak, ini semua konsep Pak Wira. Konsep milik bapak ada di sebelah. Hanya pelaminan saja yang satu payung"


"Ini sebenarnya yang nebeng kawin siapa sih????" gerutu Bang Siregar.


"Bapak..!! Karena Pak Wira sudah mendesain sejak dua bulan yang lalu dengan beberapa kali perombakan sedangkan konsep bapak baru menyusul setelahnya." kata pihak EO.


"Astaga.. kenapa jadi begini sih" Bang Siregar menepuk dahinya dengan kesal.


"Bapak tenang saja. Pak Wira tetap ingin menaikan konsep bapak. Pak Wira hanya ingin menyenangkan istrinya saja dan mengenalkan dunianya pada Bu Dinda"


"Ya sudah.. Ayo lanjut..!!"


...


Bang Wira dan Bang Siregar sudah berdiri di wilayah sisi kanan dan Bang Siregar berdiri di sisi kiri gedung menyambut pengantin masing-masing.


Mobil yang membawa Hazna sudah tiba, pintu mobil pun terbuka, tak terkira bahagianya hati Bang Siregar yang semalam sudah mengucapkan ijab qobul dengan lancar dan pagi ini mereka hanya akan melaksanakan resepsi saja.


Berbeda dengan Bang Wira, Kapten gagah perkasa dan tadinya biasa saja itu tiba-tiba gemetar, kakinya terasa lemas begitu melihat kaki Dinda menginjakan kaki di karpet yang penuh dengan hamparan bunga. Keringat dingin bercucuran saat melihat paras wajah ayu sang istri yang baru pertama kali ini ia lihat dengan riasan yang sangat cantik.


"Lailaha Illallah.. Allahu Akbar.. Ayune..!!" Bang Wira mengusap dadanya hingga tak sadar keningnya memanas karena terpana melihat wajah paras ayu sang istri.


"Istrinya di sambut dulu Wiraa..!! Masa di biarkan saja. Apa perlu Abang yang gandeng??" ledek Bang Bayu yang langsung mendapat cubitan kesal dari Bu Danyon yang kemudian berjalan mengambil tempat yang telah disediakan.


"Siap.. Siaapp Abang" Bang Wira pun bergegas menekuk lengannya agar Dinda bisa menyelipkan tangannya.


Bang Wira tersenyum bingung sendiri karena kali ini malah dirinya yang salah tingkah. Penampilan Dinda yang menggoda sungguh membuatnya tergoda.


"Kamu cantik sekali dek..!!" bisik Bang Wira.

__ADS_1


"Masa sih Bang? Abang ngegombal ya?" tanya Dinda.


"Buat apa Abang ngegombal. Abang bukan bujangan lagi. Sama istri tinggal sendiri apa salahnya Abang jujur, tinggal sergap, tangkap dan selesaikan" bisik nakal Bang Wira.


Bang Wira dan Dinda pun berjalan menyelesaikan prosesi pernikahan yang ada hanya sebagai syarat 'mengenalkan' Dinda pada dunia kerja Bang Wira. Hingga sampai di penghujung prosesi dan acara pedang pora selesai, Bang Wira meminta mic pada pembawa acara.


"Dinda istri kesayangan Abang Wira. Abang belum pernah melamarmu secara resmi. Jadi boleh nggak acara ini sekalian Abang meminangmu. Takut duit Abang kurang kalau buat acara gede-gedean" ucap candaan Bang Wira seketika mengundang tawa para anggota dan tamu undangan.


"Nggak boleh. Abang nggak modal" jawaban Dinda pun tak kalah isengnya.


"Ya sudah, setelah ini Abang sewain adek orkes dangdut, tapi besok pagi jangan tanya kalau besok pagi kita makan kerupuk sama kecap"


"Nggak apa-apa Bang, khan cuma besok pagi. Siangnya Dinda nodong Bang Siregar" jawab Dinda.


"Heeeii.. apa pula tetangga sebelah itu, selesai hajatan langsung nodong..!!!!" teriak Bang Siregar dari tempatnya.


"Ijin Abang ipar. No hajatan no cry, no money no_dong Abang ipar" kata Bang Wira membalas kekesalan Abang iparnya.


"Jadi bagaimana nih dek? Pinangan Kapten Wiranegara.. di terima atau tidak?" tanya Bang Wira kembali fokus pada tujuan awalnya.


"Ya sudah kalau Abang memaksa" jawab Dinda dengan wajah datarnya.


"Dinda menerima pinangan Kapten Panji Rakasheta Wiranegara"


Bang Wira menahan tawa geli harus melakukan adegan konyol seperti ini, semua ini ia lakukan hanya untuk membahagiakan sang istri. Setelah dirinya tenang, ia kembali mengucap sesuatu.


"To Lady Angel.. Dinda istri Abang. Abang tau, hadirnya Abang dalam kehidupan mu mungkin bukan keinginanmu, tapi hadirmu dalam hidup Abang adalah sebuah jawaban do'a yang tidak pernah ada putusnya. Abang bersyukur dari rasa sakit yang teramat dalam itu memberikan berkah kehadiranmu. Abang yakin.. Tuhan tidak akan salah memilihkan jodohnya.. seperti Abang yang menemukanmu dalam takdirNya." ucap Bang Wira dengan lembut.


"Sekarang.. kamu sudah menjadi bagian dari hidup Abang. Maukah kamu melanjutkan hidup ini bersama Abang, melewati hari-hari yang tidak mudah untuk di jalani. Sebagai seorang suami, Abang tidak akan mengumbar janji.. tapi Abang akan memberikan bukti"


Dinda pun meminta mic nya dan menjawab ucapan Bang Wira.


"Masa?? Abang sudah pernah ingkar janji."


"Kapan??" Bang Wira mengerutkan keningnya.


"Surat perjanjian itu" jawab Dinda kemudian menjauhkan mic dari bibirnya.


"Abang sudah buat Dinda hamil. Dinda belum kasih Abang hukuman" ucap Dinda tapi sebenarnya suara itu masih sempat terdengar orang di sekitar.


Bang Wira tersipu dan salah tingkah ternyata Dinda mengingatnya.


"Ya sudah.. Apa Dindaku sayang?"


"Suami Dinda tercinta. Kapten Wiranegara.. Dinda bersedia melanjutkan hidup ini bersama Abang dan melewati hari-hari yang tidak mudah untuk di jalani. Jadi... cintai Dinda seumur hidup Abang. Itu hukuman yang harus Abang terima" jawab Dinda.

__ADS_1


"Siap Ibu.. Laksanakan." kemudian Bang Wira mengecup kening Dinda dan sekilas mengecup bibir Dinda lalu secepatnya memeluk Dinda dengan erat.


"Jangankan mencintaimu seumur hidup, sampai di surgaNya saja.. kamu pasti kukejar.. Dinda"


Riuh meriah tepuk tangan para undangan semakin menyemarakkan suasana.


Bang Wira pun menggendong Dinda untuk naik ke kursinya.


Orang tua Bang Wira dan Dinda pun ikut tersipu malu melihat putra dan putri mereka begitu rukun. Mereka turut berbahagia datang meskipun waktu mereka tidaklah banyak.


"Abang aneh. Kenapa jadi romantis sekali hari ini?" tanya Dinda saat Bang Wira membantunya duduk.


"Ada yang salah? Abang romantis nya sama istri sendiri. Memangnya nggak boleh?" jawab Bang Wira yang kemudian mencium lagi kening Dinda.


"Weeehh.. adik gue di sosor terus" Ledek Bang Siregar sudah berdiri di belakang Bang Wira.


"Nih.. minum dulu. Haus khan selesai prosesi?"


Tanpa pikir panjang Bang Wira menghabiskan air minum dari Bang Siregar.


"Kok pait?? Opo iki??" Bang Wira mencium bau dari sisa minumannya.


"Lu jangan macam-macam ya Gar.. masih acara nih" kata Bang Wira mulai curiga.


"Amaaann..!! Tenang saja"


:


Setengah jam kemudian Bang Wira mulai kelabakan di kursinya. Badannya memanas, ingin sekali ia melepas jas seragam kebesarannya tapi rasanya sangat tidak sopan karena masih banyak tamu yang berlalu lalang. Bagian tubuhnya menegang hebat sampai ia bingung mengatur posisi yang nyaman untuk berdiri ataupun duduk.


Bang Wira mulai menyadari ada yang tidak beres saat Bang Siregar mengejeknya dengan senyum jahil.


"Sumpah.. Abangmu itu kurang ajar dek" umpat Bang Wira.


"Kenapa Bang??"


"Aarrhh.. Ya Allah, Astagfirullah hal adzim" Bang Wira sampai menggigit bibirnya karena semakin tidak tahan melawan reaksi tubuhnya yang begitu menyiksa. Bang Wira terduduk lemas dan pucat.


"Abaaaaang.. Abang kenapa Bang?" Dinda mencoba membantu Bang Wira yang tersandar lemas di pelaminan, tak sengaja Dinda jatuh duduk di paha Bang Wira karena tidak kuat membantu Bang Wira untuk duduk dengan benar.


"Gusti Allah.. Dindaa.. Jangan begini posisi duduknya dek. Abang stress ini. Kalau Abang kelepasan, kamu susah sendiri" jawab Bang Wira sudah tak karuan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2