
Bang Wira di papah oleh Bang Maulana dan Bang Aaron sedangkan Bang Siregar di papah oleh pak Amar dan Bang Nicko. Sedangkan Bang Bayu berjalan dengan susah payah di bantu Om Ody untuk menaiki menaiki mobil.
Bang Wira kerepotan mengambil ponselnya, ia berniat membatalkan acara usil yang ia buat untuk menyambut Bang Siregar yang sudah 'terlahir kembali'
"Ini anggota pada kemana lagi? Bagaimana kalau aku sampai sana terus heboh nggak karuan" gerutu Bang Wira bergumam gemas.
"Abang buat ulah apa??" tanya Dinda.
"Nggak"
"Heeh Regar, jangan kemaruk lu..!! Duduk yang benar, efek obatnya hilang.. m**p*s lu" kata Bang Wira.
Bang Siregar tak mengindahkan ucapan Bang Wira. Disana Bang Wira sudah stress bukan main. Efek biusnya masih membuatnya off dan itu meningkatkan efek panik luar biasa pada dirinya.
"Wir, kalau seumur hidup begitu.. terus bagaimana??" kata Bang Maulana malah semakin memperkeruh suasana.
"Eehh diam aja lu ya..!! Jangan bikin situasi"
...
Begitu mobil Bang Wira memasuki gerbang kesatrian, ada kesenian tanjidor yang di pesan Bang Wira. Sesuatu yang ia pikir untuk mengerjai Bang Siregar ternyata malah menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri.
Para anggota ikut berjajar dan membantu Bang Wira, Bang Siregar dan terakhir di mobil belakang.. Danyon harus di papah.
Kamera langsung menyoroti Bang Wira dan itu membuatnya emosi.
"Nanti dulu..!! Kalian nggak dengarkan perintah ya..!!" ucapnya dengan nada keras.
Tak lama barisan anak kecil menyalami Bang Wira satu persatu.
"Yeeaayy.. Pak Komandan sunat"
Bang Wira langsung berjongkok dan meraup wajahnya dengan kesal karena ulahnya salah sasaran.
"Astagfirullah hal adzim.. Pak Komandan nggak sunat. Sudah mentok..!!!!!!!"
"Rasain lu, makanya jadi orang jangan usil..!!" balas Bang Siregar.
...
Para anggota senang sekali setiap Bang Wira mengadakan acara seperti ini, selain para bujangan terjamin perutnya.. komandan muda itu tidak pernah pelit dalam hal apapun.
"Butuh di ambilkan sesuatu Dan?" tanta Om Ody.
"Nggak.. kamu lanjut saja dengan yang lain, saya nggak butuh apa-apa" jawab Bang Wira. Saat ini hatinya sungguh gelisah, sudah hampir dua jam tapi tetap tidak ada perubahan apapun pada dirinya.
"Biar sama saya saja om..!!" kata Dinda yang datang dengan membawa baskom berisi air dingin dan segelas susu.
__ADS_1
"Baik Bu" Om Ody pun meninggalkan Dinda dan Bang Wira.
"Abang kenapa? Itu khan nggak berakibat fatal. Nggak usah cemas. Ini minum susunya..!!"
Bang Wira menghabiskan segelas susu yang di bawakan Dinda. Dengan sabar, Dinda mengompres kening Bang Wira.
"Makanya, kenapa juga Abang cari hal. Iseng sih"
"Abang lagi malas bercanda dek" kata Bang Wira masih kesal.
Dinda yang mengerti kesalnya sang suami langsung memeluk dengan hangat.
"Jangan terlalu memikirkan hal sepele. Ini khan hanya masalah kecil. Masalah kemarin jangan Abang pikir lagi. Kalau Abang sudah siap, Abang jujur ya sama Dinda.. siapa Sahara"
"Iya dek. Maaf Abang sampai membawamu masuk dalam masalah ini" kata Bang Wira.
"Nggak apa Bang. Ibu Wiranegara.. baik-baik saja sekarang" jawab Dinda kemudian mengecup bibir Bang Wira dan menggigit kecil yang tersamar aura rokok yang kental.
Tubuh Bang Wira bereaksi seakan tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Senyum licik da nakalnya mengembang sempurna.
"Alhamdulillah sudah aman dek. Mau uji coba??" tanya Bang Wira dengan tatapan nakal.
"Iihh.. Abang"
Suasana malam semakin ramai dan riuh. Bang Wira pun mengalihkan pikirannya.
"Yang merasa anak-anak, ayo baris jadi dua banjar di depan Om Wira." kata Bang Wira memberi perintah pada pasukan kecil.
"Nih, Om Wira kasih uang jajan.. tapi ingat, harus doakan Om Wira biar cepat punya adik kecil yang lucu ya..!!" kata Bang Wira.
Dinda hanya tersenyum dan mengira Bang Wira sedang ingin meminta banyak keberkahan dari banyak orang. Padahal sungguh dalam hati Bang Wira ingin bersedekah dan belum tau bagaimana caranya untuk mengungkapkan segala kepahitan ini pada Dinda.
...
Malam hari tiba. Bang Siregar gelisah membingungkan semua orang.
"Minum obatnya Gar..!!" Bang Maulana memberikan obat pada Bang Siregar.
"Pakai kipas kalau sakit..!!" Bang Wira sampai menarik kipasnya untuk membantu 'mengeringkan' Bang Siregar.
"Cemen sekali, laki-laki pantang ciut hanya karena hal seperti ini."
"Awas kau ya.. kubalas kau nanti..!!" ancam Bang Siregar.
"Pakai cara apa? Maung tidak bisa kau bodohi dengan cara apapun" jawab Bang Wira dengan sombongnya.
:
__ADS_1
"Hazna bisa bantu apa Bang?" tanya Hazna.
"Berdo'a saja biar Abang cepat sembuh. Sembilan hari lagi kita menikah. Mudah-mudahan sudah bisa di pakai tarung" jawab Bang Siregar.
"Apa sih Abang??" Hazna menunduk dan tersipu malu.
"Cieee... malu-malu..!! Sekarang malu besok mau" ledek Bang Siregar.
***
Dinda sudah merasa lebih baik dan bisa mengasuh Asya. Hazna pun bisa lebih fokus mengurus 'bayi besarnya' sendiri.
"Abang nggak bisa makan sendiri?" tegur Dinda saat melihat Hazna menyuapi Bang Siregar yang manja.
"Bisa, tapi masih lemas Din" jawab Mbak Hazna.
"Bohong tuh.. alasan aja biar bisa curi waktu" sambar Bang Wira di hari ke lima Bang Siregar di eksekusi dan Bang Wira tau betul seharusnya kakak iparnya itu sudah hampir sembuh.
"Halaaahh.. sudah kamu nggak usah ikut campur dek, kalau besok pagi nggak sembuh juga.. biar rumah ini di ambil alih Maulana" kata Bang Wira sembari menarik tangan Dinda keluar dari kamar.
"Masa semua Abang yang beresin. Regar yang mau nikah, Abang juga yang yang ribet. Abang lu malah enak-enakan lemes" gerutu Bang Wira.
"Iyaaa.. besok gue bantu"
"Awas lu ya, besok nggak gerak.. rumah lu gue obrak-abrik" ancam Bang Wira yang memang menghandle segala urusan Bang Siregar termasuk papan untuk tempat tinggal Abang iparnya usai menikah nanti
~
"Bang Wira marah tuh, Abang benar sakit nggak sih?" tanya Hazna.
"Ya benar lah, masa kamu nggak percaya sama Abang. Mau Abang buktikan??" jawab Bang Siregar.
"Nggaak.. nggak..!! Hazna percaya sama Abang"
***
"Konsepnya apa Pak Wira??"
"Saya ingin sepanjang jalan, ada hamparan bunga dengan di penuhi wajah istri saya di sisi kiri lalu wajah saya di sisi kanan. Hingga di ujungnya ada foto kami berdua, intinya adalah kalian buat konsep perjalanan mulai kami belum di pertemukan hingga kami di pertemukan. Ingat..!! ditengah foto di ujung sana itu ada foto putri saya." pinta Bang Wira.
"Siap Pak Wira."
"Kalian desain sebaik mungkin karena saya mau melakukan sesuatu sebelum naik pelaminan" kata Bang Wira.
.
.
__ADS_1
.
.