
"Dinda nggak mau lagi terlibat dalam urusan pekerjaan Abang. Dinda takut Bang"
"Kamu sudah setuju untuk selalu ikut dengan Abang dan terlibat dalam segala hal yang berkaitan dengan Abang..!!" jawab Abang Wira.
"Tapi masalah ini Dinda nggak mau memikirkan nya. Hati Dinda nyeri Bang"
"Yang di duakan itu Bu Taufik, bukan kamu.. kenapa kamu panik seperti itu?" tegur Bang Wira.
"Nggak tau Bang, yang jelas perasaan terasa nyeri, takut, gelisah." Dinda sungguh merasa sangat tidak nyaman melihatnya. Wajah Dinda pucat, gadis itu nampak begitu emosional.
"Abang harap kamu kuat berada di lingkungan seperti ini. Kamu tidak disini untuk tinggal hanya satu atau dua bulan saja, tapi bisa bertahun tahun" jawab Bang Wira.
"Iya, meskipun nantinya Abang akan menikah lagi atau tidak, Dinda akan tetap disini..!!"
"Abang tidak akan menikah lagi. Ini yang terakhir..!!" ucap Bang Wira sembari menatap mata dengan lekat.
"Abang sudah berjanji pada orang tuanya untuk belajar mencintainya, akan menyayanginya.. Hati memang tidak bisa di paksa, selalu butuh waktu untuk menjalani setiap prosesnya. Dinda adalah wanita kesekian yang Abang ikhtiar kan, Abang perjuangkan di dunia dan akhirat Abang. Dan Abang hanya ingin di temani satu istri saja di dunia ini, jika amal ibadah Abang tak sanggup membawanya ke surga"
"Sekuat itukah Abang??" tanya Dinda.
"Abang tau ada doa dalam diam yang selalu ada dari bibir istri Abang" jawab Bang Wira lebih lembut.
Dinda melirik Bang Wira. Degub jantung nya berdetak kencang. Ada rasa yang berbeda dalam hatinya yang sungguh tak bisa ia utarakan.
...
Sepanjang malam Dinda mencoba mengerti ucapan Bang Wira. Hari demi hari terasa mengambang tanpa jawaban dari sesuatu yang kian hari terasa janggal untuk dirasakan.
Sejak ia tinggal disana, Bang Wira selalu tidur di ruang tengah yang bersambung menjadi satu dengan kamarnya. Bang Wira menyerahkan kartu ATM nya tanpa takut dirinya akan membobolnya dan terkadang melibatkannya bagai seorang istri yang selalu terlibat dalam segala kegiatan Bang Wira, apalagi ibu-ibu selalu memanggilnya 'Ibu Wiranegara'.
Saat sedang termenung dengan pikirannya, Asya menangis mencari susunya. Dinda pun terhenyak dan segera membuatkan Asya susu.
"Yaa.. air panas Asya habis. Tante ambil air panas dulu ya..??"
Dinda pun menggendong Asya yang sudah berusia empat bulan. Si kecil Asya sudah tengkurap hingga pengawasan Dinda berkali lipat lebih waspada.
Mata Dinda langsung melihat Bang Wira yang tidur dengan posisi telentang, bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek berwarna hitam.
deg..
"Ya Tuhan.. kenapa mataku bisa berkhianat se kurang ajar ini" gumamnya pelan saat melihat Bang Wira pamer tubuh atletisnya. Dinda pun panik saat merasakan perubahan dari dirinya yang tidak biasa. Saat melihat Bang Regar tidur, ia tidak pernah salah tingkah seperti ini. Tapi kali ini Dinda bisa ketakutan dan panik.
Dinda pun segera menuju dapur.
...
Adzan subuh hampir tiba. Sungguh pagi ini Bang Wira amat sangat merindukan Adinda. Lama sekali tak menyalurkan hasrattnya yang membuat dirinya begitu tersiksa. Tubuhnya terasa kian menegang. Dua tahun ia menikahi Adinda, hanya dua kali pula dirinya menyentuh manisnya madu cinta. Menahan lara, ia menggelinjang.. mend*sah pelan mengurai kerinduan.
Mata elangnya melihat sosok Dinda yang sedang menguncir rambut bentuk ekor kuda. Gadis itu memang tidak pernah menutup pintu kamarnya rapat karena kadang dirinya suka menggantikan Dinda menggendong Asya jika Dinda benar-benar begitu terlelap karena kelelahan.
__ADS_1
"Astagfirullah hal adzim.. Jangan Ya Allah, Aku sedang berusaha menjaga dirinya. Tutuplah pandangan mataku, redakanlah na*su ku yang tidak terarah.. Ini belum saatnya Ya Allah" gumam Bang Wira meredakan panas meledak-ledak dalam dirinya.
Sekuatnya Bang Wira bangkit dan bersiap mandi agar hatinya lebih tenang.
//
Sudah sekitar setengah jam di kamar mandi akhirnya Bang Wira keluar juga.
"Lama amat sih Bang????" tegur Dinda yang gemas jika melihat laki-laki terlalu lama di kamar mandi.
"Laki-laki punya urusan. Mau tau aja kamu ini" jawab Bang Wira kemudian tak sengaja menyenggol Dinda.
~
"Lho Bang.. Abang langsung sholat, kita khan mepet Bang????" tanya Dinda yang menegur Bang Wira yang sedang khusyuk dalam sholat.
"Abaaaanngg...iihh Abang dengar nggak sih???
"Astagfirullah hal adzim.. Dindaaa.. suaramu sudah seperti sirine kebakaran. Abang dengar. Kenapa harus teriak??" Bang Wira sampai menggosok telinganya.
"Mepet dimana sih, Abang nggak kerasa.. Kalau begini baru mepet" Bang Wira mendekatkan bibirnya sengaja menggoda Dinda.
Secepatnya Dinda pun menghindar, ia mulai menjaga jarak dengan tingkah Bang Wira yang meresahkan.
Bang Wira tersenyum kecil.
...
"Beberapa waktu lagi akan ada kegiatan kenaikan pangkat, Bagi anggota yang naik pangkatnya.. silakan persiapkan diri kalian..!!" kata Bang Bayu saat pelaksanaan apel pagi.
"Siaaapp..!!!!"
//
Bang Wira duduk termenung sendirian di samping ruang briefing. Hatinya terombang-ambing kembali mengingat kisahnya bersama Adinda. Dulu ia pernah berharap akan memiliki kebanggaan saat istrinya menyematkan tanda pangkat setingkat lebih tinggi dari yang ia sandang saat ini.
"Kenapa sendirian disini?" tegur Bang Bayu.
"Nggak apa-apa Bang" jawab Bang Wira.
"Saat kenaikan pangkat, kamu boleh membawa Dinda. Abang akan umumkan untuk kebijakan acara kita, semua istri anggota memakai pakaian bebas rapi" ucap Bang Bayu.
"Nggak perlu Bang. Jangan mengubah tradisi yang sudah ada." kata Bang Wira.
"Batalyon ini sedang menjadi milik saya sekarang. Jadi terserah saya" jawab Bang Bayu ringan.
"Siap.."
...
__ADS_1
"Nggak mau.. untuk apa Dinda kesana??"
"Semua punya pasangan. Kecuali memang statusnya bujangan." jawab Bang Wira.
"Abang khan duda. Mana ada pasangan"
"Sok tau" lirik Bang Wira.
"Sudah.. besok kamu ikut, minimal genepin jumlah orang di dalam foto"
***
Waktu kenaikan pangkat sudah tiba. Bu Amar menggendong Asya dan meminta Dinda bergabung dengan ibu-ibu yang lain. Disana Dinda benar-benar merasa sungkan dan rendah diri bergabung bersama para istri anggota yang lain.
Rasa canggung nya semakin terasa saat ibu-ibu memanggilnya 'Ibu Wira'.
"Bu Amar, tolong jangan panggil saya begitu. Panggil saja saya Dinda. Saya sungkan"
"Maaf Bu, sejak ibu tinggal bersama Pak Wira.. ibu-ibu pun tidak berani bertingkah di hadapan bapak. Bapak orangnya lumayan keras dan tegas" jawab Bu Amar yang mengingat kemarahan Dan Wira saat Sertijab Danyon lama"
"Saya pun tau Bu, siapa orang yang mau berurusan dengan Bang Wira" kata Dinda.
"Bapak disini lumayan di segani Bu. Julukannya saja Taipan timur. Biasa rekannya memanggil Bapak.. Maung" bisik Bu Amar.
"Astaga.. sebutan yang aneh" gerutu Dinda.
"Ibu Wira.. silakan bergabung dengan yang lain dan berdiri di samping suami" perintah Wadanyon membuat mata Dinda membulat tajam tapi jika ia protes, ia akan mempermalukan wajah Bang Wira.
Dinda pun terpaksa berdiri di samping Bang Wira.
"Kalau sampai foto Dinda jelek.. nanti sampai rumah, Dinda sobek" ancamnya dengan kesal.
"Ody.. dengar sendiri khan.. Bu PasiInt sudah protes, sampai fotonya nggak bagus mau di sobek. Kalau sampai saya lihat foto Bu PasiInt jelek.. saya jungkir kamu di tempat..!!" Bang Wira balik mengancam anggotanya.
"Siap Dan..!!"
"Abaaang.. apa sih..!!" Dinda memelototi Bang Wira.
"Jangan melotot.. biji matamu mau loncat ituuu"
"Baaanng..!!!!" Dinda hanya bisa menggerutu karena tak mungkin dirinya adu mulut di lapangan.
.
.
.
.
__ADS_1