
Warning..!!!!
Sebelum melandai, Nara akan beri konflik yang sangat tajam. Tolong percayakan cerita pada authornya. Kalau tidak kuat harap tidak mampir.
🌹🌹🌹
Kedua wanita itu menangis di pelukan Bang Wira. Tapi terasa sekali tangis Dinda yang begitu banyak mengalah terdengar sangat sedih.
"Kita sudah tidak punya orang tua lagi Alen. Sekarang yang kamu punya hanya Abang. Menurutlah sama Abang. Abang minta tolong jangan buat kekacauan lagi..!!" pinta Bang Wira pada Alena.
"Alen hanya nggak mau Abang kenapa-kenapa karena Dia"
"Alen.. cukup..!!"
"Dan kamu sayang, terima kasih banyak untuk semua kesabaranmu ini. Abang tau hatimu pasti sakit sekali tapi beberapa kali ini kamu tidak meluapkan rasa marahmu dengan menyakiti anak kita. Terima kasih" ucapnya takut kehilangan.
"Abang mohon tetaplah kuat dan terus ada di samping Abang"
Bang Aaron sampai ikut merasakan haru melihat kesabaran senior nya menghadapi ujian rumah tangga yang begitu berat.
"Abang.. Ijinkan saya menikahi Alena..!!" kata Bang Aaron.
"Kamu tau ini suasana apa?? Jangan coba ikut campur lagi urusan kami lagi Aaron" Bang Wira kembali mengingatkan Bang Aaron.
"Kamu juga lihat sendiri keadaan Alena, seperti inilah adik saya."
"Saya bersedia menerima apapun keadaan Alena. Saya janji akan mencintai dan menyayangi nya"
"Kita bicara di lain waktu" tolak Bang Wira sembari menggandeng sang istri, meninggalkan Alena bersama Bang Aaron.
...
Bang Wira tersenyum haru melihat sang istri dengan dewasanya mengurus segala kegiatan usai pemakaman ibunya. Mulai dari do'a bersama, catering dan segala urusan di tangani Dinda sendiri. Bahkan Dinda masih bisa mengurus Asya di balik keletihan tubuhnya.
Bang Wira pun meninggalkan Dinda setelah dirasa aman karena ia masih harus menemui tamu-tamu penting rekan orang tuanya juga rekannya dari tempat dinas berbagai kesatuan.
:
"Ini khan yang kamu mau..!! Cari muka di depan Abangku. Kau menghamburkan uang Abangku dan tidak meninggalkan nya setelah tau Abang pemilik supermarket ternama dan pemilik pesawat perintis antar daerah"
"Apa maksudmu Alen?? Aku nggak ngerti"
__ADS_1
"Munafik.. mana ada wanita mau melepaskan pria berduit begitu saja, karena kau tau Abangku memiliki segalanya dan kau akan menjadi gembel kalau kau lepaskan Abangku." jawab Alena.
"Sudahlah Alena. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Kasihan Abang sudah terlalu stress memikirkan banyak hal. Kalau kau tidak bisa membantunya, setidaknya jangan menambahi beban pikirannya" Kata Dinda kemudian pergi meninggalkan Alena dan menggendong Asya menjauh dari tantenya itu.
:
"Mama nangis?" Tanya Asya yang sudah bisa bicara dua kata di usianya yang belum aampai satu tahun.
"Nggak sayang, mata mama kena debu." jawab Dinda beralasan kemudian menyuapi Asya lagi.
"Enak sop ayam nya?" Dinda mencoba tersenyum di hadapan Asya.
"Enak" jawab Asya kemudian memeluk Dinda.
Setitik air matanya menetes, tak ingin rasanya air mata itu terlihat oleh Bang Wira sebab beban pikiran suaminya sudah terlalu banyak.
"Ayo makan lagi yang banyak..!! Biar Asya cepat besar, bisa lari-lari sama teman-teman"
:
Bang Wira mengecup kening Dinda, ia melihat Asya sudah tidur pulas di temani Dinda di kamarnya.
"Asya sudah tidur. Sekarang giliran mamanya istirahat"
"Sudah dek, dia sudah nyenyak. Kamu jangan terlalu memaksa. Badanmu juga butuh banyak istirahat"
Dinda tersenyum melihat perhatian Bang Wira yang begitu besar.
"Gendong Bang..!! Dinda malas jalan..!!" pintanya pada Bang Wira.
"Siap Bu Komandan. Gendong aja?? Nggak minta yang lain??" Bang Wira menggelitik pinggang Dinda sampai istrinya itu menjerit manja. Mendengar jerit nakal sang istri, seketika membuat desir hangat menggoda denyut nadi Bang Wira.
Dari balik pintu kamar Asya terlihat wajah yang kurang bersahabat kemudian pergi meninggalkan Bang Wira dan Dinda.
:
Tidak butuh waktu lama bagi Bang Wira untuk membuat Dinda tertidur pulas. Ia segera mengenakan celananya lalu membenahi selimut Dinda dan keluar kamar.
"Istri tercinta Abang memang nggak tau malu ya. Sudah tau kita masih suasana duka tapi masih sempat menggoda Abang" ucap Alena yang melirik Dinda tidur tertutup selimut menyisakan bahu mulusnya.
Bang Wira menutup pintu kamarnya sembari memakai kaos oblongnya.
__ADS_1
"Itu privasi. Jangan ikut campur urusan empat kali empat.. Alen..!!"
"Aaron.. siapkan pesawat untuk kita berangkat setelah tiga hari meninggalnya orang tua saya..!!" perintah Bang Wira pada Bang Aaron yang baru saja mengambil air minum di dapur.
"Siap Bang..!!"
"Seperti kemarin. Kelas eksekutif semua. Pastikan Dinda kursi untuk Dinda khusus..!!" pinta Bang Wira lagi.
"Siap Abang..!!"
"Kenapa sih Dinda selalu dapat yang utama. Apa aku harus lumpuh dan penyakitan dulu biar Abang perhatian sama Alen?" tanya Alena lebih tenang tapi tetap saja terdengar rasa ketidak sukaan Alena pada Dinda.
Bang Wira yang awalnya sudah tenang, kembali tersulut emosinya. Ucapan Alena yang selalu menyudutkan Dinda begitu menyakiti perasaan nya.
"Belum cukup semua kejadian ini? Kurang puas kamu meluapkan amarahmu? Sebenarnya apa masalahmu sampai kamu terus menyerang Dinda???" tanya Bang Wira penuh penekanan.
"Dia sudah mengambil Bang Martin dariku Bang"
"Martin lagi.. Martin lagi.. Apa di dunia ini tidak ada pria lain selain Martin?" bentak Bang Wira.
"Alen sama Dinda pernah belajar di luar negeri Bang. Abang pasti tau pergaulan disana. Tidak ada wanita yang suci dan bisa di percaya disana" kata Alena.
"Aduuhh.. Alen.. Kenapa kamu bicara begitu??" Bang Aaron menarik Alen agar menjauh dari Abangnya.
Bang Wira menoleh dan menatap Alena dengan tatapan mematikan.
"Kamu mau bilang kalau Dinda itu wanita yang pergaulannya salah? Itu hanya versimu dan semua hanya masa lalu. Tidak perlu di permasalahkan lagi."
"Alen hanya kasihan sama Abang, tidak pernah mendapatkan gadis baik-baik" ucap Alena semakin menjadi-jadi.
"Benar-benar minta di hajar kamu ya..!!" mata Bang Wira sudah menyisir kesekitar mencari sesuatu.
"Murahan tetap saja murahan" ucap Alena terus mencari perkara yang memanaskan hati Bang Wira.
"Kurang ajar..!!" Bang Wira mengepalkan tangannya dan Bang Aaron pun beralih ke hadapan Alena memasang badan untuk melindungi gadis itu.
.
.
.
__ADS_1
.