Sayap Perwira

Sayap Perwira
24. Sesuatu yang berharga.


__ADS_3

"Abang urus saja belahan jiwa Abang ini..!!" sindir Bang Wira sambil menggandeng tangan Dinda menjauh dari lokasi gladi.


"Bang.. ini gladi kotor terakhir, sebentar lagi kita mau membahas kegiatan sama Bu Bayu di ruang briefing" ucap Dinda ingin memberi pengertian pada Bang Wira.


"Abang yang tanggung jawab, kamu jangan banyak bicara Dinda" tanpa sadar Bang Wira sampai membentak Dinda.


Danyon lama berhadapan langsung dengan Danyon yang akan menjabat esok hari, saat waktu Bang Wira cuti.


"Wira.. ayo kita selesaikan. Tidak enak sama anggota yang lain" bujuk Danyon. Disana ibu Danyon masih tetap memasang wajah angkuh.


Melihat Dinda sudah menangis, ibu Danyon baru menjadi tidak tega.


"Ayo dek, masuk ke dalam ruangan dulu. Kita duduk bersama biar hatimu tenang" bujuk Ibu D. Amarylis Bayuangga.


"Masuk dulu Wira, jangan pasang taringmu disini..!! Kamu mungkin masa bodoh dengan orang lain, tapi paling tidak tenangkan istrimu dulu" bisik Bang Bayu kemudian merangkul Bang Wira.


"Santai lah sama Abang.. nanti Abang ajak mabuk"


"Bang, jangan asal..!!" tegur Bu Danyon baru melirik suaminya yang usil.


"Siap salah..!!" Bang Bayu menegakan badannya dari pada harus mendapat omelan dari sang istri.


:


"Kalau ingin keluar dari kepengurusan ya silakan, kalau tidak ingin menjadi bagian dari persatuan istri militer ya sudah. Lagipula memang tidak pantas. Pendidikan nya saja tidak memenuhi syarat" kata Ibu Danyon.


Bang Wira berdiri dengan emosi yang sudah berada di puncaknya.


"Dari segi apa pendidikannya tidak memenuhi syarat??? Kalau istri saya tidak berpendidikan.. mulutmu yang lancang itu akan saya beli..!!" bentak Bang Wira.


Ibu Danyon tersentak kaget tapi ia berusaha bersikap biasa saja untuk menutupi rasa malunya.


"Saya rasa pembicaraan ini cukup ya..!! Tidak ada gunanya kalau memang yang salah akan terus di bela" Bu Danyon berniat pergi tapi Bang Wira sudah terlanjur geram dan sakit hati istrinya selalu menjadi bahan gunjingan.


"Diam di tempatmu..!!!" Bang Wira sudah tidak peduli dengan kata-katanya berhadapan dengan istri senior.


"Bang.." Dinda mencoba meraih tangan Bang Wira yang sudah mengepal kuat siap menghajar tapi refleks tangan itu menghantam perut Dinda dengan kuat sampai Dinda terjungkal.


"Heeehh Wira.. Jangan ngawur kamu..!!!" tegur Bang Bayu.


"Astagfirullah hal adzim.. Dindaa..!!" Bang Wira menoleh dan segera menolong istrinya itu.


"Apa sakit sekali?? Maaf dek.. Abang khan cuma pelan" kata Bang Wira merasa sangat bersalah.


"Sakit Bang.. nyeri sekali disini" bisik Dinda pelan sekali tapi masih bisa terdengar Bang Bayu dan Mbak Mey yang berada di sebelahnya.


"Disini itu dimana?? Abang nggak ngerti sayang..!!!!" jawab Bang Wira.


"Kalau kamu hantam Abang ya rasanya cuma pelan Wir, tapi ini khan perempuan.. sakit lah, ngawur wae kamu ini"


"Cckk.. makanya kamu ini jangan suka ikut campur kalau Abang lagi panas..!!" Bang Wira membantu Dinda untuk duduk tapi Dinda menggenggam lengan seragam Bang Wira dengan kuat.


"Abang.. ini sakit sekali..!!" bisik Dinda kemudian bersandar pada bahu suaminya. Badannya pun sampai lemas.

__ADS_1


Tak menunggu waktu lama, Bang Wira segera membawa Dinda keluar ruangan.


"Ijin Bang, Biar Wira saya dampingi..!!" kata Bang Bayu.


"Iya, silakan.. tolong tenangkan dan sampaikan maaf saya" jawab Danyon.


...


"Sudah berapa lama pusingnya?" tanya dokter.


"Satu Minggu ini dok" jawab Dinda.


Dokter Nick tersenyum melihat Bang Wira yang cemas bukan main.


"Sudahlah pot, aman. Hanya syok saja. Untung si dedek nggak ngambek minta keluar"


Seketika Bang Wira menoleh menatap dokter Nick kemudian beralih menatap Dinda.


"Maksudmu.. Dinda hamil?????" tanya Bang Wira memastikan pendengarannya.


"Kamu merasa buat nggak???" Dokter Nick balik bertanya.


"Ya.. iya sih" jawab Bang Wira mendadak bingung tapi kemudian berbisik di telinga dokter Nick.


"Mau satu kali pun kalau kamu dan Dinda ada dalam masa subur ya semua bisa terjadi pot, Satu kali mu 'beracun' ganas" Dokter Nick menjelaskan secara profesional pada Bang Wira sebagai dokter kandungan.


"Intinya sudah lepas di dalam ya sudah Wir. Kehamilan bisa saja terjadi"


"Ya Allah gustii. Maafin papa ya le" Bang Wira menunduk haru, sekarang terjawab sudah kenapa Dinda sampai sebegitu kesakitan saat dirinya mengajaknya bercinta kemarin sampai akhirnya masuk rumah sakit dan siang ini harus kembali lagi ke rumah sakit untuk di tangani dokter kandungan karena dugaan dokter yang kemarin menangani Dinda. Tangannya mengusap perut Dinda dengan lembut.


"Oke, thanks bro..!!"


:


"Bagaimana Wir?? apa baik-baik saja?" tanya Bang Bayu.


"Alhamdulillah aman. Lemas aja karena hamil muda Bang" jawab Bang Wira.


"Lahdalaahh.. di jaga benar Wir..!!" kata Bang Bayu.


"Nyeri nih saya ingat tadi Dinda nggak sengaja kena hantam tanganmu" Bang Bayu pun mengusap perut Mey.


"Ini juga istri saya masih hamil muda Wir, baru dua bulan. Baru tau kemarin. Puyeng saya tiap hari di amuk. Siapkan mental mu broo" kata Bang Bayu mengadu.


Bang Wira pun tersenyum bahagia, rasa kesalnya mendadak mereda. Kehamilan Dinda membuat hatinya terasa hangat, kini pikirannya sudah teralihkan oleh hadirnya sang buah hati.


"Siap Bang. Saya mah terserah.. yang penting bumil anteng" jawab Bang Wira.


"Ini kamu mau kemana?"


"Mau tebus obatnya Dinda Bang, mumpung Dinda masih anteng di dalam"


...

__ADS_1


"Sekalian saya minta tolong rumput di rumah saya di pangkas habis, rumah saya di fogging." perintah Bang Wira pada anak buahnya.


"Siap Dan, rumput yang mana yang mau di pangkas? Rumput di rumah komandan pendek semua. Kalau di pangkas.. nanti hanya tersisa tanah. Ijin arahan komandan..!!" jawab anak buahnya pada sambungan telepon.


"Pokoknya kamu pangkas semua tanpa sisa..!! Kamu tanami bunga lavender. Saya nggak mau istri saya di gigit nyamuk"


"Siap komandan..!!"


-_-_-_-_-


Malam hari Bang Wira dan Dinda sudah tiba di rumah. Suasana taman milik Dinda memang berbeda. Banyak bunga dan rumput baru sesuai permintaan Bang Wira disana.


"Baru pulang Wir?? Dinda bagaimana?" sapa Bang Rendra yang sedang menggendong Nala di teras depan rumah


"Alhamdulillah baik" jawab Bang Wira yang sebenarnya masih malas menanggapi sahabatnya itu.


"Sakit apa sebenarnya Wir? Apa parah sampai bolak-balik keluar masuk rumah sakit?"


Dalam hati Bang Wira akhirnya terbersit ide jahat.


"Nggak sakit pot" jawab Bang Wira setenang mungkin.


"Terus??" tanya Bang Rendra penasaran.


"Peluru mu mungkin bisa nyasar, tapi peluru ku pasti tepat sasaran"


"Baaang..!!" Dinda mulai menegur suaminya yang selalu panas jika sudah bertemu Bang Rendra.


"Maksudmu?? Dinda hamil??"


"Iyalah"


"Gila.. ini baru bulan kedua setelah Dinda melahirkan. Jangan bercanda lah..!!" Bang Rendra masih tak percaya.


"Kau pikir aku bercanda??" jawab Bang Wira mulai kesal.


"Terserah gue lah mau buat Dinda hamil kapan. Bini juga bini gue."


"Abaaang.. malu Bang..!!" cegah Dinda.


"Bukan begitu maksudku pot......."


"Kenapa?? Kaget lu gue bisa sejantan ini????" sambar Bang Wira semakin memanas meladeni Bang Rendra.


Melihat suaminya sudah ingin adu mulut lagi, Dinda pun memegang perutnya.


"Aaarhh.. Adik marah ya Papa berantem" Dinda memercing seolah mengadu pada 'bayinya'.


"Eehh.. ya sudah, papa nggak akan ribut lagi. Adik jangan marah ya.. papa minta maaf" bujuk cemas Bang Wira kemudian memilih membopong Dinda karena cemas istrinya lelah berjalan padahal Dinda berjalan hanya dari halaman menuju rumah nya saja.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2