Sayap Perwira

Sayap Perwira
23. Berujung kesal.


__ADS_3

Bang Wira mend*s*h panjang antara merasakan sakit dan nikmatnya pelepasan yang begitu melegakan, Dinda pun merasakan sensasi yang sama lepas dan sangat menikmati belaian hangat sang suami namun sesaat kemudian Dinda menggigit bibirnya kuat.


"Kenapa? Apa masih nggak enak? Abang kurang lembut??" tanya Bang Wira saat melihat ekspresi Dinda.


"Perut Dinda nyeri"


"Abang masih kasar??????" tanya Bang Wira tak percaya, pasalnya ia sudah lebih mampu untuk menguasai diri dan memperlakukan Dinda dengan lembut bahkan ia sempat menunggu Dinda menyelesaikan nya dulu.


"Nggak Bang, tapi......"


"Aargh sakiiit..!!" pekik Dinda kemudian lemas di kursinya.


"Lho dek.. Ngopo to iki????" Bang Wira kocar-kacir memakai kembali pakaiannya kemudian membantu Dinda mengenakan pakaiannya.


Dengan sigap Bang Wira membuka pintu ruangannya dan berteriak memanggil anggotanya.


"Tolong bawa mobil kesini..!! istri saya drop"


:


Bang Wira membawa Dinda masuk ke dalam mobil. Beberapa orang anggota lumayan bingung melihat kaos Bang Wira dan darah menembus di kaos loreng nya tapi yang sedang dalam kondisi KO adalah Nyonya Wiranegara.


"Habis tarung lu ya??" bisik Bang Prayitno.


"Nggak Bang" jawab Bang Wira berkilah.


"Terus kemana seragam mu? Kenapa kaosmu terbalik? Lihat celana mu itu? Darah tembus di kaosmu" tegur Bang Prayitno.


Refleks Bang Wira baru menyadari rasa sakit yang menderanya.


"Aaaaarrrhhh.. Ya Tuhan.. Astagfirullah.. sakit sekali dada ku Bang..!!!!!!" Bang Wira seketika membanting dirinya di sandaran jok dan memercing, menggeliat merasakan sakit.


"Aaahh.. kamu ini Wir, bagaimana sekarang??? Masih bisa tahan nggak??" tanya Bang Prayitno.


"Obat anti nyeri donk..!!!!!!!!!"


...


Seorang senior dan dokter di RST sempat kebingungan melihat penampilan Bang Wira yang terlampau acak-acakan.


"Ini kenapa? pertengkaran rumah tangga??"


"Tangani dulu lah pot, bukan pertengkaran lagi. Mereka adu kebatinan" jawab Bang Prayitno selaku wadanyon.


"Apa-apaan sih mereka ini?????" gerutu dokter.


:


Dinda sudah berbaring di ranjangnya. Sudah tidak ada kehebohan seperti tadi dan Bang Wira pun sudah mendapatkan penanganan setelah mendapat teguran keras dari Bang Prayitno selaku wadanyon.

__ADS_1


"Bang.. siapa yang gugur?" tanya Dinda masih terbayang kesedihan nya tadi.


"Nggak ada" jawab Bang Wira.


"Terus itu peti mati siapa?" tanya Dinda lagi.


"Haduuuhh.. makanya kamu itu tanya dulu. jangan asal panik. Itu musang bulan yang Abang dapat dari hutan. Ada dua ekor" jawab Bang Wira santai.


"Apa Bang?? Musang??????"


"Iya dek, kamu ini buat heboh satu batalyon" tegur Bang Wira.


"Itu khan salah Abang. Mana ada istri yang tidak cemas saat tau suaminya terluka. Ini saja luka Abang terbuka lagi" jawab Dinda kesal.


"Ya sudah, Abang minta maaf..!!"


"Kamu cepat sehat ya, lusa ini kita ke Perancis"


"Yang harusnya cepat sehat itu Abang. Bukan Dinda" gerutu Dinda membuat Bang Wira terkikik geli.


"Abang nggak akan lemah dan nggak akan mudah tumbang hanya karena sebutir peluru kecil" ucapnya dengan sombong padahal dua hari yang lalu dirinya hampir mati karena letusan peluru nyasar.


Dinda tersenyum mendengar nya. Hatinya sedikit lega meskipun masih ada kecemasan.


"Kita pulang yuk Bang..!! Dinda sudah nggak apa-apa"


"Benar nih??? Nggak syok lagi nunggu Abang pulang???" goda Bang Wira.


Tawa renyah terdengar di dalam satu ruangan observasi Dinda.


-_-_-_-_-


"Kandangin dulu lah, saya masih jaga istri. Bisa ngomel dia kalau saya langsung urus musang itu" kata Bang Wira saat anak buahnya melapor sepertinya kedua musang sudah tidak nyaman lagi di tempatnya.


"Siap Dan, ini makannya apa ya Dan??"


"Kamu kasih buah-buahan saja yang ada di sekitar Batalyon. Nanti malam saya cek kesana..!!" perintah Bang Wira.


"Siap.."


:


"Kalau masih nggak enak badan kenapa minta pulang dek??" tanya Bang Wira sembari memijat punggung Dinda.


"Tempat tidur nya terlalu tinggi untuk Dinda Bang. Dinda takut jatuh"


"Ya khan ada Abang. Abang bisa jagain kamu tidur dek" kata Bang Wira.


"Besok Dinda masih ada kegiatan di kantor. Abang khan tau Danyon mau Sertijab" kata Dinda.

__ADS_1


"Ijin dulu lah satu hari kalau masih nggak enak badan" saran Bang Wira.


"Nggak Bang. Biar Dinda masuk saja"


"Ya sudahlah Abang temani." ucapnya sembari mengecup kening Dinda padahal ia sudah berniat mengambil cuti esok hari.


***


Gladi kotor pagi ini sudah di laksanakan sebanyak tiga kali tapi Danyon masih belum juga puas dengan hasilnya.


"Bu Wira nanti menyambut Danyon yang baru, tadi bisa kenapa sekarang jadi tidak 'gerak'?" tegur Danyon lama.


"Siap salah ibu" hanya itu yang bisa ia katakan.


"Saya itu tidak suka ya dengan anggota yang tidak sigap dengan perintah saya" Bu Danyon seperti tidak suka dengan cara kerja Dinda padahal baru satu kali ini Dinda melakukan kesalahan dan semua ide penyambutan pimpinan baru secara tradisional ini adalah ide Dinda juga.


Awalnya Bang Wira hanya memantau dari jauh karena semua ini adalah urusan kepanitiaan ibu-ibu pengurus ranting, namun saat ibu Danyon sudah menunjuk-nunjuk wajah Dinda serta membahas masalah rumah tangganya, Bang Wira pun tak bisa tinggal diam.


"Kau itu kuberi kesempatan untuk memperbaiki diri dengan mengerjakan semua tugas ini, dan nyatanya apa sekarang?? Tidak bisa mengerjakan tugasmu dengan benar. Kau itu tidak berpendidikan dan hanya di angkat derajatmu oleh kebaikan Lettu Wira. Kalau tidak mungkin kau akan menggelandang dan menjadi pel*cur jalanan..!!"


"Bagus sekali ucapanmu itu..!!!!! Pantaskah ucapan seperti ini menjadi pemimpin?????" tegur keras Bang Wira sembari menarik Dinda ke belakang punggungnya.


"Apa-apaan kamu ma?? Nggak sopan kamu bicara seperti itu..!!" Danyon pun menegur istrinya itu.


"Ini hampir final pa, tapi Bu Wira ini masih salah" kata Bu Danyon berapi-api.


"Wira.. atas nama istri saya.. saya memohon maaf yang sebesar-besarnya" Danyon terpaksa turun tangan menyelesaikan keributan yang sudah di buat istri nya.


"Mulai detik ini, saya tidak mengijinkan istri saya kembali pada kegiatan jika semua orang masih ikut campur dan merendahkan istri saya. Itu sama saja dengan meremehkan saya." ucap tegas Bang Wira.


"Wira.. kita bicara baik-baik ya..!! Tidak semudah itu kamu memutuskan untuk hal ini. Istri abdi negara sudah harus satu arah bekerja sama dalam kegiatan" bujuk Danyon.


"Tapi tidak di benarkan untuk menghina sesama terutama bawahan. Karena tanpa anggotamu.. kamu pun bukan siapa-siapa. Begitu pula sebaliknya, tanpa pimpinan kami tidak punya arah tujuan" bentak Bang Wira sudah emosi.


"Dinda ini istri saya Bang. Bisa sopan atau tidak?????"


"Iya Wira.. ayo bicara di ruangan saya..!!" Danyon meraih lengan Bang Wira bermaksud mengajaknya.


"Bicaralah sendiri dengan istrimu itu Bang" jawab Bang Wira.


"Wiraa.. tolong..!! Saya sudah malu sekali karena sikap istri saya"


"Ayo ma, kita ke ruangan dan bicara sama Om Wira dan istrinya..!!" ucap Danyon mengajak istrinya.


"Papa saja..!! Mama nggak mau" tolak ibu Danyon lama.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2