Sayap Perwira

Sayap Perwira
70. Was wasnya Abang.


__ADS_3

"Enak donk..!!" jawab Bang Wira secepatnya menghabiskan hasil percobaan Dinda.


"Tambah lagi ya Bang..!!" kata Dinda.


"Abang sudah kenyang sayang" tolak Bang Wira.


"Memangnya kenapa? Abang makan sedikit sekali. Kalau begitu Dinda saja yang makan" kata Dinda.


"Kamu makan ikan yang di sana saja. Ini khusus buat Abang" Bang Wira membawa ikan itu kemanapun ia berjalan agar Dinda tidak memetik hasil kerjanya.


Tanpa sengaja ada ikan yang tertinggal di piring dan Dinda mengambilnya.


"Pelit, sebenarnya kenapa nggak mau berbagi??"


Dinda memakannya dan beberapa detik kemudian matanya membulat, lidahnya terasa penuh dengan rasa pahit.


"Hhkk.."


Bang Wira merasakan perutnya tak nyaman. Ia pun berlari ke toilet.


:


"Apa Abang bilang. Ini biar Abang saja yang makan. Kamu itu terlalu lancang. Inilah akibatnya" kata Bang Wira.


"Kenapa Abang nggak bilang kalau rasanya nggak enak. Abang mau malu-maluin Dinda??" tanya Dinda sampai menangis.


"Enak kok, apa yang dimasak istri Abang pasti enak. Karena kamu masaknya pakai perasaan. Biar Abang kenyang" jawab Bang Wira.


"Cuma matangnya yang agak bablas"


Dinda melirik Bang Wira kemudian memeluk Bang Wira saking malunya membuat para anggota tertawa.


"Jangan tertawa. Bagi yang berani menertawai Bu Komandan. Besok pagi lari sepuluh kilometer gendong rangsel..!!" ancam Bang Wira mendiamkan para anggota.


...


"Tambah lagi ya..!!"


"Cukup Bang, Dinda kenyang sekali" tolak Dinda . Perutnya benar-benar kenyang karena Bang Wira terus menyuapinya.


"Ya sudah, setelah ini kita temui anggota dulu baru kita pulang"


:


"Selamat malam kepada seluruh rekan anggota, mohon maaf perkenalan kita harus seperti ini karena Nyonya saya masih adaptasi dengan lingkungan. Perkenalkan.. saya Kapten Panji Rakasheta Wiranegara. Biasa orang memanggil saya.. Wira dan di sebalah kiri saya ini Nahza Rahma Dinda si cantik kesayangan saya sekaligus kerepotan saya yang luar biasa." kata Bang Wira membuka perkenalan.

__ADS_1


"Saya sudah punya seorang putri, dan Insya Allah sebentar lagi saya akan punya miniatur Wiranegara yang masih saya cetak baik-baik di perut mamanya. Saya minta doanya agar selama saya bekerja disini, tidak ada masalah yang berarti"


"Aamiin..!!"


"Satu lagi.. mungkin para rekan sudah banyak mendengar tentang riwayat hidup saya dan di tempat ini, disini.. saya mohon dengan sangat untuk tidak pernah membahas masa lalu saya." penekanan itu juga terasa dalam hati anggota yang sudah memahami cerita tentang Bang Wira.


"Siap Komandan.. kami mengerti" Serma Khairil mewakili para anggota menjawab permintaan Komandan baru mereka.


Tak lama Dinda terhuyung lemas.


"Dindaa..!!" Bang Wira terkejut melihat Dinda ambruk menubruknya.


"Pa, istrinya Om Wira pingsan" Icha istri Bang Righan segera membantu Dinda.


"Laahh.. kenapa si Dinda?" Bang Righan ikut berlari sembari membawa piringnya karena karena Komandan Wilayah distrik itu masih kusyuk menikmati makan malam nya.


:


"Oohh begitu ya Om. Tapi Dinda nggak apa-apa kok. Hanya capek saja. Lihat saja matanya yang cekung."


"Iya Mbak Icha, ini juga pasti karena Dinda tidak minum obatnya. Obat yang di konsumsi Dinda ada yang tidak boleh terputus, tapi dalam keadaan hamil seperti ini.. Dinda tidak lagi mengkonsumsi obatnya." kata Bang Wira menjelaskan.


"Saya ngerti om, jadi mulai sekarang sudah bisa di lihat ya.. mamanya yang kurang kuat. Mungkin bisa di bantu dengan makanan yang bergizi, susu dan vitaminnya" saran Mbak Icha yang dulunya juga pernah menjadi seorang perawat.


"Maa.. mamaa.. minum ma..!! Pedas sekali nih sambalnya" pinta Bang Righan yang masih belum usai juga dengan kesibukannya. Maklum, sejujurnya Bang Righan ini stress luar biasa. Jarak kehamilan Icha lumayan jauh dari anak pertama mereka membuat tingkat stress Bang Righan menjadi berlipat-lipat.


"Mbak urus dulu lah anak bujang satu ini, lama-lama saya tertular stress" kata Bang Wira.


Mbak Icha pun tersenyum, ia memaklumi keadaan kedua pria berbeda jaman ini.


"Kalau sudah selesai ayo pulang pa, punggung Mama sudah sakit nih" ajak Icha.


:


Setelah beberapa lama akhirnya Dinda sadar juga. Bang Wira pun ikut lega tapi ia berusaha keras menyembunyikan kecemasannya.


"Alhamdulillah..!! Apa yang masih terasa nggak enak dek?"


"Sudah enakan Bang"


"Benar nih?? Hampir saja kamu Abang tinggal. Ini khan daerah terpencil, masih banyak hutan lindung......"


Belum selesai Bang Wira bicara, Dinda sudah memeluk suaminya itu dengan erat.


"Aaaaaaa... Abang.. pulang yuk..!! Dinda nggak mau disini..!!"

__ADS_1


Melihat wajah istrinya panik, Bang Wira pun tersenyum jahil karena tau istrinya sangat penakut.


"Hhssttt.. Jangan teriak dek. Disini masih di kelilingi hutan. Kalau kamu teriak.. dikira kamu mau ajak mereka main bambu pletok."


"Hwaaaa.. ayo pulang..!!!!!"


Bang Wira menahan tawanya sampai para anggota yang tadinya panik ikut menjadi tenang.


"Bapak dan ibu sekalian. Saya pamit mendahului. Istri saya kurang enak badan" pamit Bang Wira kemudian.


...


Saat Dinda tidur. Bang Wira mencari keberadaan Alena. Adiknya itu sungguh membuatnya geregetan setengah mati.


Tadi sudah pulang. Kenapa sekarang tidak ada lagi. Pasti Alena menemui Aaron, tapi sebenarnya apa yang di bicarakan Alena sama Aaron. Perempuan macam apa dia itu.


~


"Kita nikah saja ya. Abang ajukan berkas pernikahan ke Abangmu"


"Alen sudah bilang nggak perlu Bang. Alen nggak percaya pernikahan yang hanya tertulis hitam di atas putih." jawab Alena.


"Tapi dek.. kalau kita setiap malam kelayapan seperti ini tanpa hubungan yang jelas juga nggak baik." bujuk Bang Aaron.


"Hubungan kita ya berteman. Apa yang tidak jelas??" tanya Alena.


"Abangmu itu komandan, Abang juga punya anggota. Kami tidak mungkin memberi contoh yang buruk pada anggota" jawab Bang Aaron.


"Cari saja wanita yang Abang cinta. Alena tidak percaya adanya cinta."


"Abang akan menikahimu. Itu bukti cinta Abang sama kamu" Bang Aaron menggenggam kedua tangan Alena.


"Dalam hitungan hari Abang sudah mengumbar cinta?? Itulah sebabnya Alena tidak percaya cinta" Alena memalingkan wajahnya tidak ingin menatap wajah Bang Aaron.


"Kamu ingin Abang lakukan apa untuk membuktikan kalau Abang sungguh tulus sama kamu?"


"Temui Abangnya Alena, katakan sama Abang tentang kita dan mintalah Alen baik-baik. Abang sanggup?"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2