Sayap Perwira

Sayap Perwira
48. Awal sebuah cerita.


__ADS_3

Bang Wira mengupas tebu dan memberikannya pada Dinda. Bang Wira lebih memilih untuk berbalik mengalihkan kecemasan sang istri dan menikmati waktu berdua daripada istrinya harus mengingat masa lalunya dengan Adinda dulu.


"Ini makannya bagaimana Bang?"


"Kunyah saja, di hisap.. nanti ampasnya di buang" kata Bang Wira yang masih repot dengan tebunya.


"Waaahh.. ini terlalu manis Bang" Dinda memakan tebu itu dengan ekspresi wajah yang aneh.


"Ini bahan pokok gula.. jelas lah kalau manis. Kalau pahit berarti kamu lagi memandangi wajah Abangmu, si Siregar itu" ledek Bang Wira.


Dinda mendekati Bang Wira dan berniat ikut masuk ke sekitar kebun tebu.


"Jangan ikut kesini..!! Gatal, banyak semak.. nanti kamu terperosok" kata Bang Wira melarangnya.


"Dinda berani..!!" benar saja, baru beberapa langkah berjalan, Dinda menginjak daun kering dan semak, Dinda sudah terperos ke semak-semak dan terjungkal.


"Astagfirullah hal adzim.. Kamu bisa hati-hati atau tidak. Kamu ini nggak lagi sendirian dek..!!!" tegur Bang Wira dengan segala kepanikannya. Bang Wira mengambil ponsel di sakunya.


"Selamat siang.. Ijin arahan Abang" kata Om Aaron di seberang sana.


"Ya.. selamat siang. Kamu bilang sama petani tebu Batalyon.. suruh panen sekarang juga..!!" perintah Bang Wira.


"Ijin Abang, bukannya panen masih dua hari lagi?" tanya Bang Aaron bingung.


"Terserah.. mau bagian Batalyon dua hari lagi atau seminggu lagi. Saya mau tebu di dekat kantor Intel di tebas semua..!!" ucap Bang Wira tak mau tau.


"Siap Abang.. alasannya apa?"


"Buat istri saya terjungkal..!!" jawab Bang Wira membuat Om Aaron menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebab ia pun harus melapor pada Danyon juga.


:


"Siap.. alasan Bang Wira begitu Abang"


Bang Bayu tertawa terkikik, ini pasti adalah soal rasa posesif nya Bang Wira pada Dinda. Ia tau sejak dulu pun Wira tidak pernah menyiakan sang istri dan selalu tulus mencintai pasangan hidupnya.. tapi kali ini masalahnya lain, Wira sudah berkali lipat lebih posesif sejak menikah lagi. Jangankan hanya masalah terperosok di tebu.. ibarat daun jatuh menimpa Dinda, seisi Batalyon bisa jadi tersangka.


"Ya sudahlah, panen saja semua..!!" kata Bang Bayu memberikan perintahnya.


:


"Sakit nggak perutnya?" Bang Wira memijati kaki Dinda di bawah sebuah pohon. Hawa siang itu begitu sejuk.


Melihat wajah cemas Bang Wira, Dinda pun berniat mengerjai sang suami. Selama ini Bang Wira terlalu banyak membuatnya berpikir sedih dan bertanya-tanya tentang keadaan mereka selama ini, tapi Bang Wira bungkam seribu bahasa.


"Sakiit Bang, rasanya kram..!!"

__ADS_1


"Ya Tuhan.. Kram dek??? Kita ke rumah sakit saja ya.. Abang hubungi Nick dulu" Bang Wira kelabakan mencari ponselnya dengan cemas.


Dinda mengangguk kemudian bersandar lemas memeluk Bang Wira. Disana Dinda bisa mendengar degub jantung bertalu-talu.


"Nick.. tolongin bini gue..!!" ucap Bang Wira langsung pada pokok persoalan tanpa sapa dan salam.


"Elaaahh.. kenapa lagi bini lu pot? Lu ajakin tawuran ya???" tanya dokter Nick yang disana juga sedang sibuk dengan pekerjaan nya.


"Nggak, gila lu..!! Dinda terperosok di kebun tebu. Sekarang perutnya kram" jawab Bang Wira dengan paniknya.


"Coba gue yang ngomong sama Dinda..!!" kata dokter Nick. Bang Wira pun segera memberikan ponselnya pada Dinda.


"Ini Dinda Bang" jawab Dinda dengan tenang.


Dari tempatnya dokter Nick tersenyum mendengarnya. Mana mungkin orang sedang sakit bisa setenang itu menjawab panggilan teleponnya.


"Kamu pura-pura ya?" tanya dokter Nick.


"Iya Bang"


"Oke, kali ini saya bantu kamu. Sekali-kali si Maung memang harus di kerjai."


...


"Kamu ini sakit atau nggak? Kenapa bertingkah seperti ini?????" tegur Bang Wira karena Dinda terus menggodanya saat dirinya membawa Dinda masuk ke dalam kamar.


"Aahh.. ada saja alasannya mama si Jaler ini. Bilang yang benar. Siapa yang ajakin perang??? Sakit benar atau nggak?? Kata Nick bahaya" Bang Wira merebahkan Dinda dengan hati-hati di atas ranjang.


"Ya tergantung, papa Jaler bisa nggak main cantik" tantang Dinda yang pada akhirnya mengalah.


"Oohh gitu.. nakal kamu ya..!! Macan sudah tidur malah kamu ganggu. Sekarang kamu rasakan akibatnya sayang..!!" Bang Wira baru melonggarkan ikat pinggang nya tapi Dinda sudah menarik Bang Wira sampai menimpanya.


"Allahu Akbar.. Dindaaaa.. sabaarr..!!!!"


:


Bang Wira benar-benar ambruk dan sudah tak bergeming di ranjangnya. Suara nafas pulas terdengar nyaring di telinga Dinda. Tangan itu masih mengunci Dinda seolah Bang Wira tidak mengijinkan Dinda pergi kemana-mana.


Dinda beranjak perlahan dari tempatnya, ia merasakan nyeri di bawah perutnya tapi sengaja ia tahan. Sungguh sesaat tadi Bang Wira bagai singa lapar yang tidak ingin berbagi atas hasil buruannya. Ia pun sudah berhasil melumpuhkan dan membuat Bang Wira bertekuk lutut padanya merasakan service cantik darinya.


"Abang.. maaf Dinda jahat. Tolong lupakan dia" Dinda mengecup kening Bang Wira, tak sengaja air mata itu menetes di celah mata Bang Wira.


"Maafin Dinda yang masih suka cemburu. Tolong jangan ingat Mbak Adinda meskipun hanya dalam mimpi, jangan pernah mengigau namanya lagi. Dinda mohon Bang"


Mendengar suara itu, Bang Wira mulai paham mengapa Dinda selalu cemburu. Mungkin di alam bawah sadarnya, ia masih selalu mengingat Adinda.. tapi bukan karena masalah hati, tapi karena ia begitu trauma kehilangan istrinya dengan cara seperti itu.

__ADS_1


"Abang minta maaf kalau Abang menyakiti hatimu. Sungguh semua itu di luar kendali Abang, tapi percayalah raga dan hati ini hanya milikmu"


"Abang???" Dinda ingin beranjak menghindar. Tapi Bang Wira mencegahnya.


"Terima kasih banyak sayang. Tadi itu luar biasa sekali. Istri sholehah nya Abang" Bang Wira mencium bibir Dinda sekilas.


"Lupakan semuanya.. Abang hanya mencintaimu saja" bujuk Bang Wira.


"Sekarang giliran Abang yang manjain kamu"


"Bang..."


"Iya sayang.. Sudah kamu diam dan nikmati saja..!!"


...


Di kantornya senyum Bang Wira terus mengembang. Dalam pikirannya terus terlintas wajah Dinda.


"Bagaimana Wira??" tegur Bang Bayu.


"Iya Bang.. Dinda cantik banget, seksi..!!" jawab Bang Wira tanpa sadar.


"Wira.. ini kita sedang membahas tentang team BKO. Bukan membahas tentang luar biasanya ibu Wiranegara" kata Bang Bayu menegur keras sikap Bang Wira.


"Siap salah Danyon..!!"


"Setelah briefing.. kamu ke ruangan saya..!!" perintah Bang Bayu.


"Siap..!!"


...


Dinda baru saja terbangun dari tidurnya, ia melihat ada pesan singkat di ponselnya. Ada sebuah nomer baru yang tidak ia kenali mengirim video ke ponselnya.


Dinda membuka dan melihat video tersebut. Degub jatungnya bertalu kencang antara hidup dan mati. Ada wajah wanita sedang memadu kasih dengan orang yang sangat ia kenali.


Ini kebersamaan aku dan suamimu.


...Sahara....


Dinda meraba dadanya, ada rasa sakit menghantam disana dan sulit untuk di kendalikan hingga nafasnya nyaris terhenti.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2