Sayap Perwira

Sayap Perwira
26. Sabar mode awal.


__ADS_3

"Om Wira.. bagaimana keadaan Dinda?" tanya Mey merasa sangat bersalah.


"Aman mbak, itu lagi nyemil kacang bawang" jawab Bang Wira.


"Saya minta maaf ya Om. Saya benar-benar lupa kalau Dinda lagi hamil"


"Iya mbak, Dinda yang hamil saja bisa lupa.. mau bagaimana lagi" Bang Wira terlihat begitu pasrah usai di kerjai bumilnya. Kini rasa cemasnya berlipat ganda. Mungkin karena ini adalah benih dari buah cintanya, jadi rasa cemasnya kian terasa berlipat ganda.


Bang Bayu mengulum senyumnya sambil melirik sang istri.


"Untung istri Abang bukan pesilat Wir, bisa bonyok Abang di buatnya."


"Tapi ingat Bang, wanita itu pesilat lidah" jawab Bang Wira.


"Duuuhh.. ambyar" Bang Bayu sampai mengusap wajahnya karena cemas.


"Ayaah..!!! Pandu nakal..!!" Yuna berteriak mengejar adiknya itu.


"Makanya, kalau nggak bisa bergaya ya jangan banyak gaya. Pakaian sobek begitu kakak pakai? Cocok jadi keset tuh" ledek Pandu dengan bandelnya saat tau kakaknya memakai fashion yang tidak ia sukai.


"Pandu.. jangan ganggu kakak mu..!!!" tegur keras Bang Bayu.


Pandu yang bengal masih sempat berlarian di area rumah sakit dan tanpa sengaja akhirnya Pandu menginjak batu hingga terpeleset, kepalanya pun menghantam aspal jalanan hingga darah mengucur deras dari alisnya.


"Astagaa.. Pandu..!!!!" Bang Bayu benar-benar murka melihat tingkah putranya.


:


"Hati-hati..!! Itu kerikil kamu injak nanti terpeleset dek..!!" tegur Bang Wira yang sedari tadi mengoreksi setiap apapun yang di lakukan Dinda.


"Dinda sudah jalan pelan-pelan Bang" jawab Dinda dengan jengkel karena mendengar omelan Bang Wira.


"Jangan meremehkan kerikil. Kamu lihat itu si Pandu. Sampai bocor begitu. Astagfirullah.. amit-amit jabang bayi anak Abang bertingkah begitu" Bang Wira sampai mengusap dadanya melihat tingkah anak seniornya itu.


"Jangan bilang begitu Bang, bagaimana kalau ternyata Abang sayang sama Pandu??"


"Sayang dalam hal apa?" tanya Bang Wira serasa ambigu menangkap ucapan Dinda.


"Sini Dinda, ayo USG dulu" ajak dokter Nick memeriksa kondisi Dinda sebelum mereka pulang.


~


"Weehh.. jantan juga lu pot, sekali tembak dapat dua"


Bang Wira sampai mendekat ke layar monitor melihat apa yang di tunjuk Bang Nick.


"Maksudnya apa nih?"

__ADS_1


"Anakmu kembar pot" jawab Bang Nick.


"Alhamdulillah Ya Allah" Bang Wira langsung bersujud syukur, kakinya terasa lemas.. sungguh ia sangat bahagia mendapatkan kabar ini.


"Matur sembah nuwun gusti" ucapnya sampai menangis.


Dinda pun ikut terharu melihat Bang Wira sebahagia ini saat tau dirinya sedang mengandung apalagi bayi yang di kandungnya adalah bayi kembar.


"Senang amat lu pot? Besok gue juga mau punya bumil lah, rasanya jadi iri dah lihat lu" kata Bang Nick yang sebenarnya juga sangat bahagia.


"Senang lah, kejantanan gue nggak usah di ragukan lagi" jawab Bang Wira.


***


"Om.. kata Ayah hari ini ada rapat. Om di minta datang ke Batalyon" kata Pandu dengan tegas di usianya yang masih enam tahun.


"Kenapa nggak lewat ponsel saja" tanya Bang Wira.


"Ini rahasia om. Pokoknya aku nggak akan bilang kejadian semalam kalau ayah dan mama ribut di rumah sampai mama banting ponsel" jawab Pandu.


"Oohh begitu, ya sudah om nggak akan tanya lagi kenapa ponsel ayahmu pecah" Bang Wira memancing secara halus.


"Iya om, karena ini rahasia papa yang mengganti nama orang di ponsel"


"Oke.. oke Pandu.. sudah cukup..!! Om Wira ke kantor sekarang dan kamu cepat pulang..!!" perintah Bang Wira sampai akhirnya Pandu meninggalkan tempat.


Pasti urusan betina. Istri nggak akan murka kecuali masalah perempuan dan uang. Tapi apa iya Bang Bayu seperti itu?? Aahh aku nggak boleh berprasangka.


...


Bang Wira mengulum senyum karena dugaan nya benar, ini masalah wanita.


"Kamu jangan senyum nggak jelas Wira. Nama mu dan nama saya ter tag disana" ucap Bang Bayu.


"Satu lagi adalah nama William. Bintara dari kesatuan lain" jawab Bang Bayu.


"Astagfirullah.. Sahara ini darimana Bang? Kenapa bisa saya di tag???"


"Berita ini sudah saya dapatkan sesaat skep baru turun untuk menjabat Batalyon ini dan mencuat kencang usai penyergapan mu soal pemberontak kemarin" kata Bang Bayu menjelaskan.


Bang Wira terdiam sejenak mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu. Kejadian terakhir saat ia berhasil membekuk pemberontak di sebuah pedalaman. Seketika badannya lemas, nafasnya sesak bukan main.


"Ada yang kamu ingat Wir??" tanya Bang Bayu.


"Bang.. dia mengatakan akan menumpas keluargaku" ucap Bang Wira seolah menahan perasaannya.


"Kalau begitu, kita jaga istri kita baik-baik Wira. Saya rasa namanya pemberontak, ter*ris, tak akan semudah itu menyerah. Tapi ingat Wira, kita harus berusaha se natural mungkin di hadapan istri kita, mereka sedang hamil. Segalanya akan jadi lebih sulit. Semalam saja ponsel Abang sudah di banting sama Mey karena cemburu dengan akun Sahara ini" jawab Bang Bayu.

__ADS_1


"Berarti dengan kata lain.. Abang sudah mendapat terornya?? Lalu bagaimana dengan saya Bang??" Baru saja pertanyaan itu terlontar dari mulut Bang Wira, ada telepon dari Dinda.


"Assalamualaikum.. iya sayang"


"Abang pulang sekarang..!!" ucap Dinda datar di seberang sana.


Bang Wira melirik Bang Bayu dan Bang Prayitno yang juga sedang berada di sana secara bergantian.


"Ada apa??" tanya Bang Wira.


"Pulang sekarang..!!!"


"Ya sudah, Abang pulang sekarang" jawab Bang Wira kemudian menarik nafas dalam dan mengusap wajahnya.


"Ya Allah.. masalah apalagi ini??"


...


"Kamu perbesar dulu dek. Foto ini rekayasa." Bang Wira menggapai tangan Dinda yang sudah beranjak pergi darinya.


Kali ini memang cukup sulit baginya menjelaskan. Mey yang terbilang jauh lebih pandai soal media sosial, dunia modern dan digital saja sampai semarah itu dan tidak percaya begitu saja ucapan Bang Bayu suaminya, apalagi Dinda yang begitu polos.


"Dek, duduk dulu..!! Dengar Abang, segala sesuatu harus kita bicarakan dengan kepala dingin. Ngambekmu nggak akan selesaikan masalah" Bang Wira masuk ke dalam kamar mengikuti Dinda.


"Allahu Akbar.. kamu ini mau apa? Mau kemana????" Bang Wira membuang dengan kasar tas Dinda yang dulu pernah dibawanya saat pertama kali Dinda datang dari kampungnya.


"Dinda mau pulang. Percuma Dinda terus bersama Abang kalau ternyata Abang masih berhubungan dengan mantan Abang."


"Mantan yang mana?? Abang sudah cerita semuanya sama kamu. Hanya lima orang yang paling dekat dengan Abang dan kamu sudah dengar sendiri dari mulut Abang.. bukan mulut orang lain." Bang Wira mulai cemas dan gusar menghadapi bumil, ia takut menyakiti istrinya tapi jujur hatinya pun mulai emosi saat Dinda terus saja menolak penjelasannya.


"Nggak tau, Dinda nggak mau dengar. Bukti itu sudah ada Bang..!! Mana mungkin itu wajah orang lain."


"Kamu nggak akan paham kalau di jelaskan dek. Yang perlu kamu tau Abang disana.. panas hujan cari nafkah untuk keluarga. Sumpah mati kalau Abang bohong" bujuk Bang Wira mengarahkan agar dinda memeluknya.


"Jangankan macam-macam dalam tugas, ketemu babi perempuan aja sudah syukur dek"


Seketika Dinda melepas pelukannya dengan paksa.


"Terus mau Abang apakan itu babi perempuan??"


"Lailaha Illallah, masa celeng hutan aja kamu cemburuin sih sayang..!!!!!!" jawab Bang Wira sembari menarik kembali tangan Dinda untuk kembali memeluknya.


Ya Tuhan.. ini baru foto dan aku sudah ribut seperti ini. Bagaimana kalau sampai video itu tersebar di istri Bang Bayu atau Dinda.. Apa yang akan terjadi nanti.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2