
Bang Aaron menyiapkan apel pagi hari ini karena Bang Wira sedang sibuk menemani Dinda yang perutnya sudah sangat besar di usia tujuh bulan sama seperti kehamilan Alena dan sekarang kegiatan kantor dirinya yang harus banyak menghandle.
"Ijin Dan, saya harus menyerahkan laporan untuk Pak Wira dan minta tanda tangan" kata seorang anggota.
"Langsung temui di rumahnya saja nanti sore ya..!! Komandan sedang fokus dengan kehamilan istrinya. Maklum.. kehamilan Bu komandan sangat beresiko dan butuh perhatian khusus" jawab Bang Aaron.
"Siap Dan"
...
Bang Aaron merenung sendiri di ruang kerjanya. Ibunda tercinta di kabarkan sedang sakit keras dan ingin dirinya menceraikan Alena. Hal yang tidak akan mungkin ia lakukan.
"Apa bisa hal seperti ini aku ceritakan sama Abang. Abang pasti marah besar apalagi fokusnya sedang terbagi dengan kesehatan Mbak Dinda" gumamnya lirih. Ia berusaha mencari jalan terbaik untuk permasalahannya.
"Tapi kalau aku nggak cerita sama Abang juga lebih salah. Ini menyangkut kebaikan Alena"
Tak lama pintu ruang kerjanya ada yang mengetuk.
"Masuk..!!"
Alena masuk ke ruangan Bang Aaron.
"Alen capek di ruangan. Boleh disini saja?"
"Boleh donk.. sini temani Abang" kata Bang Aaron kemudian meraih tangan Alen dan mendudukan di pangkuannya. Ia mendekap erat Alena dengan kuat, ada rasa hati yang begitu takut berpisah dari wanita yang tengah mengandung buah hatinya.
"Ada apa Bang? Wajah Abang terlihat cemas sekali" tanya Alena.
"Nggak ada apa-apa. Banyak pekerjaan aja. Satu bulan ini Abangmu lebih banyak fokus sama Mbak Dinda dan Abang bisa memaklumi itu" jawab Bang Aaron.
"Kalau Alen yang sakit, Abang seperhatian Abang Wira atau tidak?"
"Kenapa bicara begitu? Jelas Abang utamakan kamu. Sekarang kamu jaga kandungan kamu baik-baik dan jangan pikir hal macam-macam..!!" kata Bang Aaron mengalihkan kepekaan Alen.
"Iya Bang"
...
Asya tak hentinya merengek dan ingin meminta gendong pada Mamanya, tapi perut Dinda yang mulai besar membatasi ruang geraknya.
"Asya mau sama Mama..!!" rengek si kecil Asya yang mulai pandai bicara.
__ADS_1
"Asya sayang.. Maafin Mama ya. Mama mulai nggak kuat gendong Asya. Adik juga sudah besar, suka tendang perut Mama" kata Dinda memberi pengertian.
"Asya ikut Mama"
Bang Wira masuk ke ruang kerja Dinda dan melihat keributan itu.
"Kenapa ribut begini? Asya nggak main sama Papa Regar?" tanya Bang Wira.
"Asya mau sama Mama"
"Nggak bisa nak, adik sudah sesak di perut Mama. Nanti kalau adik nggak bisa nafas bagaimana? Asya sayang adik khan?" bujuk Bang Wira kemudian menggendong Asya dan menciumnya tapi ternyata si kecil Asya malah berontak dan marah memukuli papanya.
"Ya Allah, ini kenapa sih kakak Asya?? Liat Papa, kenapa kakak marah sama papa?"
"Abang.. lebih baik Abang temani Asya. Dinda khan sudah bilang Abang juga harus lebih perhatian sama Asya. Anak Abang sudah beranjak besar.. apalagi Asya sudah besar, dia tau rasanya di abaikan"
"Abang bukannya tidak perhatian atau nggak sayang sama Asya dek. Kamu terlalu sering pingsan. Mana mungkin Abang nggak cemas. Asya banyak yang jaga, ada Regar, Hazna, bibi, Aaron, Alen dan main sama Nala. Sedangkan kamu.. kamu hanya bergantung sama Abang, anak kita juga masih ada dalam kandungan. Tidak ada di dunia ini yang utuh benar kita lakukan termasuk perlakuan untuk mu dan Asya, tapi percayalah.. apapun yang Abang lakukan, semua untuk kebaikanmu dan anak-anak nantinya" jawab Bang Wira sembari mengusap punggung Asya hingga tenang.
Hati ayah mana tak sedih merasakan tangis putrinya karena merasa tak di perhatikan. Tapi kondisi Dinda belakangan ini juga sudah membuatnya mendadak sakit jantung. Tak mungkin dirinya mati rasa melihat Dinda beberapa kali pingsan di depan mata.
"Asya mau tidur sama Papa?"
Asya mengangguk. Bang Wira menunduk mengecup kening Dinda.
:
Setengah jam berlalu akhirnya Asya tidur juga dan bibi bersiap menemani Asya. Baru saja menyelimuti Asya, terdengar suara benda jatuh dari arah belakang.
"Pak.. ibu pingsan lagi" teriak bibi.
"Astagfirullah hal adzim.. kapan semua ini berakhir Tuhan? Bagaimana Dinda bisa sehat kalau seperti ini terus" gumamnya sambil berjalan cepat.
~
"Bibi temani Asya.. biar saya yang tangani Dinda..!!" kata Bang Wira. Ia perlahan membawa Dinda masuk ke kamarnya.
"Lho Wir, Dinda kenapa????" tanya Bang Siregar panik.
"Ya begini adikmu ini. Belakangan ini sering pingsan, sampai rasanya jantungku mau lepas lihat Dinda sering pingsan begini" jawabnya sambil memasang oksigen.
"Mungkin kamu baru buat Dinda capek" kata Bang Wira.
__ADS_1
"Nggak lah. Terakhir aku panjat pinang sama Dinda ya sebelum pertama kali Dinda aku infus disini. Itu beberapa bulan yang lalu dan sampai sekarang aku nggak berani menyentuhnya"
"Bukannya kata Nicko kalau menjelang persalinan kamu di sarankan untuk lebih dekat sama Dinda?" tanya Bang Siregar.
"Kamu lupa??? Itu masih perdebatan. Dinda mudah sekali kontraksi dan aku nggak mau Dinda melahirkan secara normal. Setiap aku buang.. Dinda selalu kontraksi" Jawab Bang Wira akhirnya meluapkan rasa frustasinya.
"Lu bodoh atau bagaimana sih? Memangnya nggak ada akal lain? Pakai pengaman misalnya" Bang Siregar pun akhirnya tertular rasa frustasi Bang Wira.
"Lu yang bodoh, kita ini laki. Mau selesai bagaimana juga kalau sudah lepas kendali pasti nggak akan sadar diri. Pikiran nggak akan paham itu hitam atau putih, yang ada tetap Dinda juga yang merasakan sakitnya" ucap kesal Bang Wira.
"Sebelum tanggal HPL, sebelum Dinda merasakan kontraksi.. aku mau pulang ke Jawa. Biar Dinda operasi di Jawa. Dapat penanganan khusus dan alat memadai"
"Lu yang ngerasain, gue yang kepikiran stressnya Wir" Bang Siregar sampai mengacak rambutnya.
"Makanya jangan asal bunyi. Memangnya aku ini nggak mikir???"
:
Dinda tersadar dan mendengar Bang Wira sedang membahas tentang dirinya dalam sambungan telepon. Suaminya itu begitu tegang dan panik, ada beberapa perdebatan yang ia dengar sampai akhirnya Bang Wira duduk menghempaskan diri di sofa dengan kasar. Jemarinya memijat pangkal hidung mancungnya.
Ingin rasanya bertanya lebih lanjut tapi Dinda tau, Bang Wira pasti tidak akan memberi tau hal yang sebenarnya dan akan bersikap seolah tidak terjadi apapun.
#
"Kenapa tadi nggak bilang kalau mau ke kamar mandi?" tegur Bang Wira.
"Dinda nggak ingin terlalu buat Abang repot. Abang sudah pusing dengan pekerjaan kantor, masa Dinda masih harus merepotkan Abang juga"
"Apa pantas kata seperti itu ada dalam hubungan rumah tangga? Abang ini apa di hidupmu? Kita menikah untuk saling melengkapi, bukan untuk saling malu-malu kucing dan tidak enak hati. Abang butuh kamu, begitu juga sebaliknya. Kalau menikah hanya untuk berpikir saling tidak enak ya lebih baik tidak usah menikah. Kamu tau artinya menikah???" Sungguh ada rasa sakit dan marah saat Dinda masih takut dan tidak enak padanya.
Dinda mengangguk pasrah saat Bang Wira terus memarahi nya.
"Kalau tau kenapa sikapmu begitu???? Tak ada tumpuan lain selain kita percaya dan sayang pada pasangan kita. Susah senang, sehat sakit, miskin dan kaya kita rasakan bersama. Bukan untuk saling merasakan enak dan tidak enak pada pasangan. Abang bukan ingin bersikap egois. Apapun yang terjadi sama kamu, Abang wajib dan harus tau.. tapi sebagai kepala keluarga, hanya Abang yang bisa menentukan.. sesuatu itu baik di pikir bersama atau tidak." ucap tegas Bang Wira.
"Tapi Bang....."
"Semua ada alasannya Dinda"
.
.
__ADS_1
.
.