Sayap Perwira

Sayap Perwira
41. Karena sebuah janji.


__ADS_3

Papa Akbar mengunjungi rumah sakit usai kedatangannya dari Dubai.


"Jadi susah terlanjur??" tanya Papa Akbar.


"Iya pa"


"Kamu janji untuk tidak melakukan nya dulu Wira." Papa Akbar mengusap wajahnya.


"Maaf pa," di sudut ruang keluarga itu hanya ada pembicaraan antar lelaki. Bang Wira, Bang Regar dan Papa Akbar.


"Keterlaluan kamu Wira..!! Kamu khan tau keadaan Dinda"


"Saya sudah tidak kuat pa. Berbulan-bulan saya sendirian, kesepian, saya stress menahannya pa. Remuk nggak karuan, setiap malam kedinginan. Kalau saya mau, saya bisa melepaskannya di luar sana. Tapi untuk apa saya memberatkan sesuatu yang masih bisa saya kondisikan. Hanya saja saat ini saya sudah beristri.. apa salahnya saya meng*auli istri saya? Saya tidak bisa mengendalikan diri karena saya sadar.. Dinda itu sudah halal bagi saya" ucap jujur Bang Wira.


"Setelah delapan bulan Wira, janjimu setelah delapan bulan, sambil menunggu Asya sedikit lebih besar. Sekarang Dinda hamil, mual dan mabuk-mabuknya awal kehamilan. Asya bagaimana??"


"Saya paham pa, saya akan cari pengasuh untuk Asya agar Dinda bisa fokus istirahat dan menjaga kehamilannya. Saya sadari.. istri saya sedang mengandung, tidak mungkin saya memberi istri saya beban" jawab Bang Wira yang memang sudah memutuskan hal ini sebelum bicara dengan Papa Akbar.


Papa Akbar hanya bisa menghela nafas panjang. Mau tidak setuju pun Dinda tetap milik suaminya.


"Ya sudah lah Wira, Papa juga mau bilang apa. Dinda adalah hakmu. Memang Dinda istrimu, tempat mencurahkan segala perasaan dan rindu. Papa hanya minta, kamu lebih sabar sama Dinda. Mungkin Dinda tidak sesabar mantan istrimu dulu yang mungkin lebih mengerti keinginan mu dan jauh lebih sopan dari Dinda."


"Saya memaklumi sifat dasar wanita pa, suatu saat.. seiring berjalannya waktu semua akan berubah karena keadaan dan kebiasaan. Adinda ya Adinda yang telah kembali pada Sang Pencipta.. tidak untuk saya ungkit kembali, sedangkan Dinda akan tetap menjadi Dinda yang saya kenal. Papa tenang saja, di dunia ini.. istri saya hanya akan ada satu yaitu putri kandung papa" jawab Bang Wira dengan tegas.


"Terima kasih Wira, Papa bisa tenang sekarang"


"Sudah tugas saya pa"


"Wira, Dinda mau ke toilet.. mama nggak kuat antarnya" kata Mama.


"Iya ma, biar sama saya"


:


Untuk pertama kalinya wajah Dinda malu-malu kucing dan bersemu merah meskipun Dinda berusaha menyembunyikan nya dari Bang Wira. Tingkah Dinda itu membuat Bang Wira gemas setengah mati.


"Abang jangan lihat..!!"


"Nggak kok, Abang cuma ngintip sedikit" tatapan Dinda langsung tertuju pada Bang Wira.


"Sebenarnya apa alasan Abang bohong sama Dinda.?"

__ADS_1


"Banyak dek. Sudahlah.. jangan di bahas..!! Yang penting Abang tidak pernah ada niat untuk menyakiti hatimu" jawab Bang Wira.


"Apa Dinda menjadi beban buat Abang?"


"Kamu nyaman ngobrol disini? Ayo keluar dulu..!!" ajak Bang Wira.


:


Mama Dinda sudah membawa Asya dan merawatnya di rumah Bang Wira karena Papa Akbar sedang tidak ada tugas jadi Bang Wira hari ini tenang menjaga Dinda di rumah sakit.


"Pertanyaan Dinda belum Abang jawab"


"Istirahat dek, jangan pikir yang macam-macam" Bang Wira belum tega mengatakan pada Dinda kalau istrinya itu sedang hamil. Ada sedikit penyesalan dalam hati Bang Wira tapi tak bisa di pungkiri hatinya sangat bahagia mendengar berita kehamilan Dinda.


"Karena Abang sangat mencintai Mbak Adinda dan Abang menikahi Dinda karena keterpaksaan..!!"


"Bisakah wanita berpikir yang baik saja? Jangan cemburu lagi, masalahnya bukan tentang Adinda" Bang Wira pun pergi meninggalkan Dinda. Lebih baik ia menata hati dan emosinya, ia tidak ingin membuat Dinda menjadi stress.. ada buah hatinya dalam diri Dinda yang begitu ia sayangi.


Seketika wajah Dinda tertekuk kesal karena Bang Wira tidak menjawab pertanyaannya.


~


Bang Wira menghisap rokoknya dengan kuat di smoking area. Pikirannya kacau balau memikirkan banyak hal.


Flashback on.. POV Wira.


Sepuluh hari kepergianmu Adinda.. sungguh terasa berat untuk Abang. Rumah yang dulu terasa hangat kini begitu dingin dan hampa tanpa sentuhan mu sayang. Lihatlah anak kita dia sangat membutuhkan belaianmu.


Tak terasa air mata ini melihat anak kita. Hati Abang sungguh kesal Asya menurut pada Dinda yang sudah kamu beri kehidupan. Abang harus bagaimana saat anak kita tidak mau berpisah dari Dinda. Terlalu sakit sayang..


Kalau Abang mampu memisahkannya, pasti sudah Abang lakukan.. tapi anak kita belum paham arti sebuah perpisahan. Sayang.. tolong jangan marah, Abang ragu mengambil keputusan di antara kita.. tapi Abang harus kuat.


...


Bang Wira menyangga badannya di depan kamar rawat Dinda. Ada rasa sakit yang tak sanggup ia uraikan. Ketakutan sungguh membayangi batinnya. Pihak pemberontak masih mencari jati dirinya di luar sana. Foto meninggalkannya Adinda menjadi kebanggaan dan hiburan bagi mereka dan itu sangat menyayat hati Bang Wira.


"Papa ngalah untuk kamu sayang.. papa akan melindungi mu dengan cara papa. Benar atau salah.. papa akan menanggungnya. Papa akan memberikan kamu kehidupan yang layak. Bahagia lah kamu bersama mama mu" Bang Wira menghapus air matanya lalu menarik nafasnya dalam-dalam.


...


"Dinda harus tulis apa Bang?"

__ADS_1


"Yang bertanda tangan di bawah ini.. Nahza Rahma Dinda. Dengan sadar.. bersedia menerima pinangan dari Panji Rakasheta Wiranegara dan hidup bersama dibawah janji yang mengikat dan suci di mata Allah dan saya akan melaksanakan kewajiban saya tanpa paksaan dari pihak manapun.


Nanti Abang juga tulis janji Abang.. kamu tanda tangan dulu disini..!! Kamu tenang saja, Abang janji surat perjanjian ini tidak akan memberatkan mu" ucapku saat itu. Dengan niat bulat aku menguatkan hatiku.


"Oke.. " Dinda pun langsung menandatangani surat itu kemudian bermain-main dengan Asya sedangkan aku melengkapi surat perjanjian itu.


Yang bertanda tangan di bawah ini.. Panji Rakasheta Wiranegara pada hari ini .. /.. /.. meminang Nahza Rahma Dinda. Saya berjanji setelah mengikat janji suci akan memperlakukan nya dengan adil, memberikan hak nya sebagai bagian dari hidup saya.


Selama kurang lebih delapan bulan setelah terikat, saya hanya akan memberinya nafkah lahir untuk memberi ruang perkenalan. Jika dalam jangka waktu kurang dari delapan bulan lamanya saya sudah meminta hak saya sebagai kepala keluarga, maka saya akan menerima segala hukuman yang di ajukan Nahza Rahma Dinda.


demikian saya buat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun.


...P. R. Wiranegara....


"Kamu lihat dulu..!! Abang nggak mau kamu protes setelahnya" kataku saat itu.


"Dinda sudah baca. Dinda percaya sama Abang"


"Ya sudah.. Deal ya..!! Abang bawa surat perjanjian bermaterai ini.


...


Aku menguatkan batin ku saat putriku semakin dekat dengan Dinda.


Abang akan menyayangimu Dinda.. seperti Abang menyayangi Adinda. Tulus dan tanpa syarat. Hati ini Allah ciptakan untuk merasakan damai dan saling menyayangi, bukan untuk menyakiti.


"Bismillahirrahmanirrahim" aku menghubungi seseorang di seberang sana.


"Iya hallo..!!"


"Selamat pagi.. Mohon ijin Komandan. Bisa saya minta waktunya??" tanyaku.


"Boleh.. Ada apa Wira" tanya Dan Akbar.


"Ijinkan saya meminang putri komandan. Saya ingin menghalalkan Dinda.."


"Apaaa?????? Kamu mabuk Wir??????????"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2