
"Jangan dek. Mulai sekarang jangan lakukan pekerjaan seperti ini, apalagi kalau nggak ada Abang..!!"
"Ini khan hal yang biasa Bang, Dinda lihat disini jarang ada klinik kesehatan, jadi kita harus berusaha dari awal agar persalinan nanti bisa normal" kata Dinda.
"Nanti kalau sudah dekat persalinanmu, kita pulang ke Jawa. Tindakan saja dan Abang nggak ijinkan kamu persalinan normal.. itu penuh resiko" jawab Bang Wira.
"Dinda ingin merasakan berjuang melahirkan anak ini Bang..!!"
"Tindakan operasi juga berjuang, semua penuh pengorbanan. Jangan bahas ini lagi. Sekarang kamu fokus saja dengan kehamilanmu..!!" Bang Wira melepas bandonya. Rasa lelah Bang Wira membuatnya sedikit meninggikan suara, melupakan perasaan sang istri yang sedang luar biasa sensitif.
***
Alena merasa mual, hampir tidak ada satupun makanan yang bisa masuk dalam lambungnya dan itu sukses membuat Bang Aaron cemas. Sejak bangun tidur tadi Alena tidak sanggup bangkit dari tempat tidur, badannya terasa berat, matanya mengantuk. Membuka matanya sudah seperti perjuangan yang berat.
Bang Aaron mencoba menghubungi rekannya tapi tidak ada yang menjawab panggilan teleponnya.
"Astagfirullah.. pada kemana semua ini pasukan???? Mana istri teler begini" gumamnya.
"Apa hubungi Abang saja ya."
~
"Alen teler Bang"
"Biasa itu Ar.. bawaan hamil. Nggak usah panik begitu" jawab Bang Wira sembari melirik Dinda yang tidak mau tersentuh sedikit pun. Mulutnya bisa menenangkan adik iparnya tapi dirinya malah sama sekali tidak bisa mengendalikan rasa panik dan cemasnya sendiri.
"Ayang jangan marah..!! Ya sudah Abang minta maaf" kata Bang Wira.
"Abang marah-marah terus sama Dinda. Abang nggak sayang lagi sama Dinda" wajah Dinda memerah marah, sedih seperti wanita yang benar begitu tersakiti adanya.
"Allahu Akbar.. itu khan Abang nggak sengaja. Mana ada Abang nggak sayang" bujuk Bang Wira.
"Bang.. sepertinya Abang juga sedang punya masalah besar. Saya hubungi Abang lagi nanti" kata Bang Aaron.
"Oke.. Mama blackpink lagi ngambek nih. Nanti kita sambung lagi..!!" bisik Bang Wira.
...
"Ini kita mau latihan bisu sampai jam berapa dek?" tanya Bang Wira mulai jengah saat Dinda memberinya kertas di atas sebuah nampan.
"Ini nih, perkara nampan bisa jadi ribut. Jangan sampai pesan dari Abang.. kabur terus kamu ngomel lagi. Lagian apa susahnya sih ngomong. Sariawan atau tukak lambung itu bibir??"
Dinda meletakan nampan di atas meja karena Bang Wira tak kunjung menerima nya. Bang Wira menarik nafas dalam melebarkan sabar tiada batas.
Ya Salam.. bukan main, lawannya bumil.. lalu aku harus bagaimana? Kalau aku sampai naik darah berarti aku lah yang gila.
Bang Wira mengambil bolpoin di meja hias lalu duduk di kursi meja makan. Ia tersenyum mengingat surat cintanya yang sempat tertiup angin.
__ADS_1
"Apa suamimu ini harus merayu-rayu lagi? Memang kamu paling bisa buat hati Abang nggak karuan" gumamnya pelan.
Jemari itu menggores tinta di atas selembar kertas putih.
Duhai bidadari pujaan hatiku..
Dinda jelita yang paling kucinta.
Rasa rindu tentangmu..
terasa menggoyah syahdu.
Hasratt di dada terasa begitu menyiksa.
Duhai Dinda yang Abang cinta..
Ini sungguh Abang sayang.
Biar segalanya sederhana
Tapi rasa Abang tak sederhana.
Untuk mu Dindaku sayang..
Selama masih ada detak dan nafas..
Cintaku utuh tanpa syarat.
Jalan hidup ku Allah yang memiliki.
Tapi satu milik yang pasti..
Hati Abang ini milik Dinda seorang.
"Otak ku buntu untuk berpikir, tapi semoga kata sederhana ini bisa merayu si cantik"
...
Dinda merasakan dalam dadanya terasa begitu nyeri dan tertekan. Perlahan ia duduk melantai mengatur nafasnya yang tersengal.
"Kamu kenapa dek?" tanya Bang Wira yang saat itu kebetulan baru usai sholat Maghrib.
Dinda belum sanggup menjawabnya karena rasa itu sungguh sangat menyiksanya.
"Abang tanya kamu kenapa?? Ini bukan saatnya diam..!!" tegur Bang Wira.
Dinda terpancing kesal mendengar ucapan keras Bang Wira. Ia pun menguatkan diri menjawab pertanyaan Bang Wira.
__ADS_1
"Dinda bukannya mau diam. Tapi ini benar sakit Bang...!!"
Bang Wira meletakan sajadah di ranjang lalu menggendong Dinda dan merebahkannya di ranjang. Bang Wira menyentuh kening Dinda.
"Astagfirullah hal adzim, kamu ini kenapa to dek?? Kapan terasa sakitnya?? Kenapa baru bilang??"
Bang Wira mengambil alat kesehatan di laci nakas kemudian memeriksa kondisi Dinda dengan teliti.
"Abang.. perut Dinda juga sakit" ucap Dinda pelan.
"Iya, sabar ya..!!" tangan Bang Wira sekilas menyentuh perut Dinda yang kini sudah bisa ia lihat dengan jelas.
Tuhan.. jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Dinda. Jika ini memang moment pertama dan terakhir untuk Dinda mengandung.. kumohon biarkan Dinda merasakan menjadi seorang ibu. Aku mungkin pria yang berlumur dosa, tapi kali ini.. tolong dengar, ini do'a seorang suami.
"Ini apa Bang? Dinda nggak mau pakai oksigen dan alat-alat ini" kata Dinda sembari menarik tangannya.
"Kamu ingin merasakan hamil yang sempurna khan? Kamu harus dapat perawatan tambahan. Disini jauh dari tempat kesehatan dan kamu hanya bisa bergantung dengan apa yang kita punya sekarang"
"Dinda sudah terlalu sering di infus Bang.. Dinda nggak mau lagi" ucap Dinda melemah.
"Tidak ada yang bisa kamu mintai tolong disini..!! Hanya Abang doktermu, dokter pribadimu" Bang Wira menarik jemari Dinda lalu mengusap punggung tangan Dinda.
"Abang janji nggak sakit. Demi anak mau khan sayang?" bujuk Bang Wira.
Tak tega rasanya harus memasang jarum infus untuk merawat Dinda. Tapi apa daya, hanya cara ini yang bisa di lakukan untuk menjaga nyawa Dinda tanpa obat keras yang biasa di konsumsi.
Perlahan jarum menusuk punggung tangan Dinda. Ia hanya bisa memercing merasakan sakit.
Bang Wira meniup tangan Dinda.
"Sudah nih sayang. Sakit nggak?"
Dinda tersenyum, memang tidak seberapa sakit jarum infus itu menusuk punggung tangannya.
"Nggak sakit Bang" jawab Dinda.
"Jelas donk. Abang pakarnya tusuk menusuk" ucap nakal Bang Wira sembari mencolek hidung mancung Dinda.
"Baang..!!!" Dinda melirik Bang Wira dan baru menyadari ucap nakal sang suami.
.
.
.
.
__ADS_1