
Satu minggu sejak kejadian itu, Dinda lebih banyak diam menghindari Bang Wira membuat Kapten muda itu bingung bagaimana harus membuka komunikasi dengan Dinda.
"Dek.. Abang mau bicara..!!"
"Tulis saja di kertas lalu Abang taruh di atas nampan. Nanti Dinda jawab" jawab Dinda ketus kemudian membawa mangkok sarapan Asya. Gadis kecil Bang Wira itu sudah mulai belajar makan.
"Aseem.. memangnya aku ini centong nasi?? Sampai harus bicara sama nampan." gerutu Bang Wira kesal menghadapi situasi siaga satu.
Bang Wira mengambil surat perjanjiannya di laci meja hias lalu duduk sendiri di meja ruang makan sembari mengusap wajahnya, teringat kejadian seminggu yang lalu. Ia benar-benar ceroboh mendekati Dinda tanpa pengaman. Tapi semua sudah terlanjur, ucapan Papa mertua akhirnya terabaikan sudah.
Bang Wira pun menulis di secarik kertas yang sudah di siapkan Dinda.
Dek.. Abang minta maaf. Abang yang salah. Jujur Abang cemas mengatakannya, ada banyak hal yang menjadi pertimbangan sampai bibir ini sulit jujur sama kamu.
Dinda sayang, Abang melakukannya dengan sadar.. Adinda hanya sebuah kenangan, bagaimana pun.. dia sudah melahirkan Asya. Tapi Abang sadari.. hidup harus terus berjalan. Maka dari itu.. Abang menikahi kamu.
Abang tau saat itu kehidupan Abang dan kehidupanmu belum stabil. Tapi jodoh adalah urusan Yang di atas. Niat Abang tidak untuk main-main dan menjalani hubungan ini karena Allah. Jangan pernah kamu ragu dengan segala ketetapan Allah, karena mulai saat Abang mengucapkan ijab qobul di hadapan papamu.. Abang sudah belajar membuka hati untuk mencintaimu dan kini Abang benar-benar mencintaimu
Bang Wira menyatukan kertas itu bersama surat perjanjian itu agar Dinda bisa memahami hubungan mereka selama ini kemudian ia mengambil secarik kertas lagi.
Masakin Abang sambal goreng kentang hati sapi donk..!!!!!
Bang Wira pun meletakan kertas terakhirnya paling bawah agar Dinda bisa membaca surat perjanjian dan curahan hatinya lebih dulu kemudian Bang Wira keluar melalui pintu garasi. Tapi siapa sangka curahan hatinya kabur tertiup angin bersama surat perjanjian itu dan terselip di sisi lemari es saat Bang Wira menutup pintu kembali. Kini yang tersisa hanya permintaan Bang Wira.
:
"Ooohh.. hanya minta sambal goreng kentang hati sapi saja sampai bilang mau bicara penting"
Dinda pun menyiapkan bahan untuk kegiatan eksekusinya hari ini.
"Papa itu menyebalkan sekali ya sayang. Tante Dinda kesal sekali di buatnya" ucap Dinda sembari mengajak bicara baby Asya yang menggemaskan itu.
...
Bang Wira menyantap makan siangnya, ia melirik Dinda yang masih saja diam seribu bahasa. Merasa Dinda tidak bereaksi, ia pun akhirnya tidak tahan untuk bertanya.
"Dek, sudah di baca apa belum?"
Dinda segera mengambil kertas dan menulis disana.
Itu khan sudah di masakin. Berarti sudah di baca.
"Kenapa masih bicara pakai bahasa kalbu sih??" protes Bang Wira.
__ADS_1
"Kamu masih marah??"
Dinda menulis lagi.
Kesalahan Abang tidak bisa di maafkan.
Bang Wira melahap suapan terakhirnya kemudian meminum segelas air dan membanting gelasnya dengan kencang.
"Benar-benar ya kamu ini. Abang nih bicara sama orang.. bukan sama nampan. Sampai Abang pulang kerja, kamu begitu lagi.. lihat saja.. Abang buat perutmu bengkak biar apa-apa manjanya sama Abang" ancam Bang Wira kemudian pergi membawa kesal di ubun-ubun kepala.
"Nye..Nye..Nyeee.." Dinda mencibir Bang Wira dengan kesal.
"Dasar om-om mesum. Isi kepalanya hanya ************ saja" ucapnya gemas sampai menghentakan kaki berkali-kali karena geram.
...
"Saya sudah jujur Bang, tapi maunya Dinda diam seribu bahasa. Mana tau saya bahasa telepati nya Dinda" Bang Wira masih saja mengomel di kantor.
"Sudahlah.. namanya wanita."
"Iya memang. Makhluk ciptaan Tuhan yang nggak pernah salah di dunia. Saya aja nih Bang, salah melulu" sambung Bang Wira masih terus mengomel.
"Yo wes kalem.. besok kamu berangkat latgab ya. Satu bulan saja kok. Sementara tugasmu di handle Rendra, dia baru datang nanti sore dari penugasan" kata Bang Bayu.
"Nggak sayang nih, jauh dari bini cantik??" goda Bang Bayu.
"Biar saja dulu lah Bang, biar dia sadar butuh laki. Nanti kalau kangen juga cari saya" gerutu Bang Wira masih tidak terima.
"Hehehe.. ngawur, kita juga lah yang kelabakan"
-_-_-_-_-
Sampai malam pun Dinda tidak bertanya pada Bang Wira ada urusan apa dan akan pergi kemana. Hal ini malah semakin memancing tanduk kerbau Bang Wira muncul ke permukaan.
Bang Wira masuk ke kamar utama dan menegur Dinda yang menurutnya kelewatan.
"Kamu benar-benar nggak peduli kemana Abang pergi??"
Dinda masih saja diam seolah tidak mendengar suara Bang Wira.
"Oohh.. begitu caramu menanggapi Abang?? Lihat saja kamu dek, kualat kamu ini.. bakalan nangis kamu cari Abang..!!!!"
"Terserah Abang mau pergi kemana. Dinda nggak peduli, Abang nggak pernah ngaku salahnya Abang." jawab Dinda.
__ADS_1
"Ya Tuhan.. iso edan dewe ngomong karo Kowe dek..!!" Bang Wira memilih pergi dan mengalah daripada harus terjadi pertengkaran sengit di antara mereka.
tok..tok..tok..
Mendengar ketukan pintu, Bang Wira pun berbalik arah dan membuka pintunya.
"Rendra..!!!"
"Iyaa.. ini oleh-oleh buatmu" kata Rendra kemudian melirik wanita yang masih ada di ruang tengah.
"Ribut lu??" tanya Bang Rendra.
"Biasa, bini ngajakin perang melulu" jawab Bang Wira.
"Rayu dulu lah, besok khan mau pergi dinas." kata Bang Rendra.
"Baru mau nyolek, sudah di gemplang pala gue kalau cari gara-gara" gerutu Bang Wira.
"Hhh.. wong wedhok iki nganyelne ati..!!"
Bang Rendra hanya bisa terkikik geli melihat ekspresi Bang Wira.
***
"Papa berangkat dulu ya sayang. Nurut sama Mama. Jangan rewel..!! Mudah-mudahan Papa perginya nggak lama biar bisa jalan-jalan lagi sama Asya.. sama Mama juga" bisiknya pada sang putri yang masih tidur di pagi buta.
"Iya Papa" jawab Dinda menyahut ucapan Bang Wira.
Bang Wira berbalik badan dan menyodorkan tangannya pada Dinda. Sebenarnya Dinda bingung dengan sikap Bang Wira tapi ia tetap menerima tangan Papa Asya lalu menunduk dan menciumnya.
"Hati-hati jaga anak. Kalau kemana-mana, minta di antar minimal dua ajudan Abang..!! Laporan ke pos depan dan segera kembali pulang. Jangan lewat dua jam. Abang jauh, tidak bisa pantau langsung" kata Bang Wira panjang lebar.
"Iya Bang" jawab Dinda pun akhirnya malas berdebat. Dinda kaget saat Bang Wira tiba-tiba mengecup bibirnya kemudian mencium keningnya.
"Jaga dirimu baik-baik..!!"
Dinda mengangguk. Ingin rasanya bertanya kapan Bang Wira akan pulang, tapi ia cukup gengsi untuk menanyakannya sebab sejak kejadian itu, meskipun hatinya sangat marah dan jengkel.. tapi harus ia akui, Bang Wira begitu luar biasa dan membuatnya selalu terbayang.
.
.
.
__ADS_1
.