Sayap Perwira

Sayap Perwira
84. Tau rasanya.


__ADS_3

"Puas sayangku?"


Dinda tak menjawabnya, hanya pelukan manja penyambung segala rasa.


"Abang memang tidak bisa menghapus masa lalu, tapi Abang bisa mengukir masa depan bersamamu" kata Bang Wira.


-_-_-_-_-_-


Bang Wira mengantar Alena dan Aaron ke bandara. Hari ini mereka berdua pergi ke Jawa untuk menemui keluarga Bang Aaron.


"Abang titip salam ke orang tuamu. Maaf Abang masih belum sempat berkunjung karena keadaan Dinda juga belum begitu baik." kata Bang Wira.


"Abang juga titip Alena..!!"


"Siap Abang"


...


Entah kenapa perasaan Bang Wira begitu tidak enak. Meskipun ia tau betul Aaron adalah pria yang bertanggung jawab tapi hatinya masih tetap merasa berat.


"Gar.. apa dulu perasaanmu sekacau ini saat aku menikahi Dinda?" tanya Bang Wira saat Bang Siregar berkunjung ke rumahnya bersama Hazna.


"Tentu saja, karena setidaknya aku paling mengenal siapa Dinda. Aku takut kamu akan menyakitinya.. menyakiti hati dan tubuhnya, yang paling parah hingga batinku terasa sakit memikirkannya adalah kamu tidak bisa mencintainya. Dua kali kamu sudah membuatnya menangis, sebagai Abangnya aku tidak bisa menerima itu.. tapi aku menyadari ada batasan tertentu karena Dinda seutuhnya adalah milikmu" jawab Bang Siregar.


Bang Wira mengusap wajahnya dengan gusar.


"Astagfirullah hal adzim"


"Cobalah untuk tenang..!!" saran Bang Siregar.


"Masalahnya Dinda adalah gadis yang penurut meskipun di luar nampak seperti pembangkang, tapi Alena sebaliknya.. Alena terlihat penurut.. tapi dia sangat pembangkang"


"Percayalah, waktu akan membuatnya belajar"


-_-_-_-_-


Adik Bang Aaron memperhatikan Alena dari atas kepala hingga ujung kaki. Wajah tidak suka begitu terlihat jelas. Apalagi saat Bang Aaron mengatakan bahwa Alena tengah mengandung calon anak mereka berdua.


"Kenapa Abang ceroboh sekali? Bagaimana kalau anak yang di kandung Alena bukan anaknya Abang?" tanya Tyas.


"Jaga bicaramu Tyas..!! Ini anaknya Abang" jawab Bang Aaron menegur adiknya.

__ADS_1


"Adikmu benar Aaron. Bapak ibunya saja sudah nggak ada. Pasti pendidikan nya pun rendah. Mana bisa anak Mama menikah dengan perempuan sembarangan. Ingat nama keluarga kita Aaron" kata Mama yang juga seolah enggan menerima menantunya.


"Kamu itu mau Mama nikahkan sama Siska, anak Pak camat yang baru lulus sekolah dari Malaysia"


"Alena pilihanku ma, Aku kesini untuk mengabari Mama kalau aku sudah menikah. Selain memang anak ini tanggung jawabku, aku juga mencintai Alena" jawab Bang Aaron.


"Buat apa makan cinta, kita hidup tidak usah munafik Aaron. Kita butuh uang.. kalau kamu menikah dengan Siska, kamu akan kaya." bujuk Mama Bang Aaron.


"Maa.. anak kita sudah menikah, tidak pantas lagi bicara seperti itu. Jaga perasaan menantu kita..!!" tegur Papa.


"Kapan Mama merestuinya jadi menantu. Kalau Papa mau, ambil saja. Mama tetap ingin Sisca jadi menantu kita..!!"


Alena menunduk menahan tangisnya. Sungguh hatinya terasa sangat sakit. Kini ia teringat perlakuan buruknya pada Dinda.


:


Bang Aaron menghapus air mata Alena.


"Jangan cemas..!! Malam ini kita tidur di penginapan"


"Jangan Bang. Jika bakti seorang anak perempuan usai setelah menikah, maka sampai mati pun seorang anak laki-laki adalah milik ibunya"


"Tapi pria yang sudah berpangkat suami juga tidak akan menjadi pria yang semestinya jika tidak bisa meninggikan wanitanya. Abang mungkin milik Mama.. tapi bahagiamu, hidupmu, semua adalah tanggungan Abang. Abang bukan ingin menjauh, tapi sedang mengupayakan cara terbaik agar dia antara kamu dan Mama bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain." jawab Bang Aaron.


Wajah masam Mama jelas tidak suka saat Bang Aaron pamit untuk mengajak Alena menginap di hotel.


"Tak nyaman kamu disini?? Mencari perlindungan suami??"


Alena ingin menjawabnya tapi Bang Aaron menarik tangan Alena agar berdiri di belakang punggungnya.


"Apapun penjelasanku tidak akan masuk dalam hati dan pikiran Mama yang sedang di penuhi rasa benci dan tidak suka. Alena sudah diam tapi Mama terus menyudutkannya. Aku punya pilihan dan aku tau mana wanita yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anakku ma"


"Beraninya kamu Aaron..!!!!" teriak Mama.


"Aku sayang Mama, tapi Aku juga sayang sama istriku. Dia bukan wanita yang melahirkan ku, tapi dia yang akan melahirkan anakku. Jika bukan aku yang melindunginya, lantas siapa? Aku harap Mama bisa mengerti dan merenung. Aku membawanya menjauh dari Mama untuk mendidik istriku agar bisa sayang sama Mama begitu pula sebaliknya.. Mama juga harus menyayangi istriku"


Mama begitu marah mendengar ucapan putranya tapi ia pun harus mengakui bahwa ucapan putranya adalah benar adanya.


...


Bang Aaron merangkul bahu Alena dan masuk ke sebuah penginapan. Alena melirik wajah suaminya. Awalnya cinta dalam hatinya begitu datar, tapi sejak keluar dari rumah orang tua Bang Aaron.. rasanya hati Alena bergetar tak menentu.

__ADS_1


"Darimana datangnya kata-kata Abang tadi?" tanya Alena.


"Dari Abangmu yang begitu tegar. Caranya membela istrinya membuat Abang tersentuh. Dia sampai memarahimu karena tidak hormat sama Dinda." jawab Bang Aaron.


"Kamu tau dek.. memarahi adik sendiri itu sangat menyakitkan hati, menguras emosi dan perasaan.. tapi pasangan kita ini juga separuh nyawa kita. Jadi.. seberat apapun itu, harus kita perjuangkan..!!"


"Apa Abang tidak menyesal sudah memilih Alen?"


"Tidak. Makanya Abang memilihmu dengan cara Abang" kata Abang Aaron.


"Tapi saat itu Alen yang menggoda Abang"


"Sebelum itu, Abang sudah ada rasa" jawab Bang Aaron.


***


"Dek.. ini nggak bisa langsung melahirkan aja? Di percepat gitu persalinannya?? Abang capek banget dek"


"Belum HPL nya Bang..!! Abang ngepel aja sambil jongkok..!!" kata Dinda.


"Allahu Akbar.. Abang ngepel sambil gendong semangka??"


"Apa orang hamil perutnya bisa di tinggal dulu di meja??" tanya Dinda.


Kepala Bang Wira rasanya sudah pening tak karuan menjalani hukuman dari sang istri. Tapi jujur ini lebih baik daripada Dinda harus mendiamkannya tanpa suara.


"Yowes.. semua Abang pel. Hanya rumah kecil begini" ucap Bang Wira sesumbar.


:


"Innalilahi.. punggungku rasanyaaa" Bang Wira bersandar ngos-ngosan.


"Mau patah Ya Allah" Rumah yang awalnya ia bilang kecil ternyata terasa sangat luas.


Cara ini sangat tradisional tapi kalau Dinda mengepel sendiri tanpa pengawasan, jelas sangat bahaya.


"Biar Dinda lanjutkan kalau Abang capek. Bando nya bisa Abang lepas.!!" kata Dinda.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2