
Tidak usah baper. Nikmati saja alur ceritanya..!! Tidak suka?? silakan skip, tidak ada manusia yang suci di dunia ini..!!
🌹🌹🌹
"Saya tidak minta banyak komandan. Saya ingin menjalani hubungan ini dengan restu. Terus terang Asya sangat dekat dengan Dinda. Jika putri saya mampu mencintai tanpa syarat. Mengapa saya yang sudah sanggup berpikir dengan pikiran dan hati tidak menggunakannya? Usia saya bukan lagi usia remaja. Saya tidak ingin mengulang dan berpacaran. Jika Allah sudah menunjukan, akan saya terima dengan ikhlas takdirNya"
"Saya ingin bicara langsung sama kamu. Saya akan ke cafe dekat rumah sakit. Saya hanya punya waktu dua jam saja di sana. Bisa kamu selesaikan??" tanya Dan Akbar saat itu
"Insya Allah"
...
Aku menyodorkan surat perjanjian itu berharap Dan Akbar meluluskan niatku.
"Jadi Dinda sudah setuju?" tanya nya padaku.
"Sudah Dan."
"Jangan ngawur kamu Wira. Surat kematian istrimu saja belum keluar, makamnya masih basah tapi kamu sudah mengambil langkah ini. Ini keterlaluan" Dan Akbar tidak lantas menerimanya begitu saja.
"Saya tau ini terkesan keterlaluan. Tolong baca baik-baik isi surat perjanjian itu komandan. Tapi disini posisi Dinda akan jelas. Saya tidak mendua. Komandan tau keadaan jantungnya semakin sehat sejak bersama Asya dan tidak pernah kambuh. Intinya ada timbal balik dari setiap kejadian. Jika Dinda terus bersama saya, ini akan menimbulkan fitnah. Apa komandan bisa memahami nya?" tanyaku.
Saat itu aku tak tau apa pertimbangan utama dari Dan Akbar, setelah beberapa menit berpikir.. akhirnya Dan Akbar menjawab.
"Bagaimana status putri saya.?"
"Karena surat kematian Adinda sedang di proses, terpaksa Dinda harus menunggu. Tapi Komandan bisa percayakan pada saya..!! Danyon dan Wadanyon saya ada disini menjadi saksi..!!" ucapku dengan yakin.
"Saya tidak ingin kamu menyakiti Dinda karena hatimu masih mendua Wira. Saya tau rasanya karena 'mamanya' Dinda datang saat Dinda masih bayi merah."
"Saya rasa jeda waktu delapan bulan itu lebih dari cukup Dan." jawabku.
"Baiklah Wira, tapi........."
"Jika komandan merestui, maka kantor akan mengetahui pernikahan saya, tapi pernikahan saya ini tidak boleh dan tidak akan di ekspose di luar Batalyon. Informasi ini akan terkunci. Pemberontak itu masih berkeliaran di sekitar."
__ADS_1
Dan Akbar menunduk dan berpikir keras. Bagaimana pun juga Dan Akbar tetap memikirkan putrinya.
"Nyawa saya taruhannya" sambungku untuk melunakkan hati calon Papa mertua ku.
Dan Akbar melihat jam tangannya. Ibu Akbar pun mengusap punggung suaminya itu.
"Baiklah.. ayo lakukan. Papa merestui"
:
"Alhamdulillah.. sekarang Pak Wira sudah menjadi suami sah dari putri Dan Akbar" kata Serma Amar selaku pendamping penghulu.
Aku benar-benar menumpahkan tangisku, bukan aku bermaksud egois, tapi banyak pertimbangan dalam hatiku yang sulit aku jabarkan satu persatu. Kini tanggung jawabku semakin bertambah, ada rasa trauma tapi aku harus bangkit menjalani hidupku kembali.
"Semangat Wira, kami mendukungmu" kata Bang Bayu.
"Terima kasih banyak Bang"
...
Untuk seluruh jajaran beserta anggota.. secara sadar.. saya sudah menikah kembali dengan wanita pilihan saya. Nahza Rahma Dinda, yang mungkin sudah banyak rekan semua ketahui.. istri saya ini adalah penerima transplantasi jantung istri saya terdahulu. Harap untuk di mengerti, putri saya membutuhkan belai sayang seorang ibu. Cukup berat bagi saya untuk memulai kembali. Saat ini posisi saya sudah menghalalkan Dinda tapi mengetahui riwayat hidup istri saya ini, harap untuk tidak mengungkapkan dulu keadaan ini karena berbagai alasan, utamanya saya tidak mau pernikahan saya terekspose pihak manapun. Kepergian istri saya yang dulu terlalu membekas dalam hati saya. Saya tidak ingin istri saya yang sekarang terlibat dalam pekerjaan saya yang penuh dengan resiko, dengan kata lain.. saya belum siap dan tidak akan pernah siap jika istri saya menerima dampak dari pekerjaan saya. Saya harap semua bisa di sampaikan pada istri masing-masing agar bisa lebih menjaga sikap dan lisan, bagaimanapun keadaannya yang mendampingi saya saat ini tetap Nyonya Wiranegara.
Terima kasih.
Salam Taipan timur.
flashback off...
Rokok Bang Wira sudah habis, ia pun menyulutnya lagi. Pikirannya terasa buntu, kacau dan berantakan.
"Dua Dinda yang membuat hatiku sakit sekali, kenapa aku tidak bisa mendamaikan keadaan..!! Toloong Tuhan..!!!!!" Bang Wira mengacak-acak rambut cepaknya. Rokok masih mengebul di sela bibirnya.
"Kamu harus lebih berani Wir, percayalah.. mereka tidak akan kembali lagi" kata Bang Regar menenangkan dan mengambil rokok dari bibir Bang Wira.
"Dinda akan baik-baik saja, aku pasti ikut menjaga nya"
__ADS_1
"Aku tau dia masih ada di sekitarku karena hanya aku yang tau rahasia mereka. Sahara itu...... eghh" tubuh Bang Wira sampai gemetar,. tak sanggup lagi ia membayangkan apa yang Dinda alami.
"Aku nggak mau Dinda ada apa-apa pot..!! Aku lelah berurusan dengan si j*****m itu"
Rileks bro.. slow.. santai..!! Jangan panik..!!" Bang Siregar memeluk Bang Wira. Terlihat sekali littingnya itu masih terguncang dan kini ia baru menyadari, pertemuan tanpa di landasi hubungan keakraban lebih dulu pun mampu menghasilkan cinta yang luar biasa. Hanya keikhlasan dan do'a sekencangnya yang mampu membuat sahabatnya itu mampu menjalani hidup ini dengan tabah meskipun ia tau perjuangan untuk menata hati sungguh tidak mudah.
"Dinda membutuhkan mu, cepat kembalilah ke kamar..!!"
...
Bang Wira kembali ke kamarnya. Disana Dinda masih menangis sendirian. Entah sudah berapa lama istrinya itu menangis.
"Dek..!!" sapa Bang Wira mencoba menyentuh jemari Dinda.
Bang Wira menekan kuat perasaan nya. Biar ia yang mengalah di atas segalanya dan tak akan mempermasalahkan sikap bumil yang sangat wajar terbawa perasaan.
"Kenapa kesini? Lebih baik Abang ke makam Mbak Adinda"
"Hhssttt.. sayaang. Nggak baik lho dek bicara begitu. Adinda khan sudah nggak ada. Nggak sopan sayang..!! Jangan di ulangi lagi ya..!!" Bang Wira mengecup kening dan bibir Dinda dengan sayang. Ia benar-benar meredakan emosi bumilnya. Kemarahan Dinda pun juga termasuk dari kesalahannya.
Benar saja. Tak lama memang Dinda langsung luluh, ia menyadari betul kesalahannya membawa nama Adinda. Tapi ia pun tak paham kenapa terbesit nama Adinda di dalam pikirannya tanpa mengenal siapa dan Bagaimana masa lalu Adinda.
"Sini Abang peluk, Abang mau bicara..!!" Bang Wira naik di ranjang yang sama dengan Dinda. Bang Wira juga membelai rambut Dinda.
"Adinda adalah kenyataan yang ada dalam hidup Abang. Kamu boleh cemburu, karena kamu juga sudah tau kalau kamu sebenarnya adalah istri Abang. Tapiii.. untuk apa kamu mencemburui sesuatu yang sudah tiada. Abang hanya bisa mendoakannya dan menyimpannya di dasar hati yang paling dalam."
"Dinda bingung dengan hubungan kita. Kenapa Abang tidak jujur. Apa Abang terpaksa??" Dinda mengulang lagi pertanyaannya.
"Abang tidak pernah terpaksa menikahimu. Abang sudah pernah kehilangan Adinda dengan caranya, dan Abang tidak mau kehilangan kamu juga maa.."
.
.
.
__ADS_1
.