
"Dindaaaa..!!" Bang Wira berdiri sampai kursi roda nya terguling. Perasaannya sungguh resah. Bang Wira memencet tombol darurat.
Tak lama dokter berdatangan.
Para dokter memeriksa keadaan Dinda dan Dokter Nick meminta Bang Wira untuk mundur. Kaki Bang Wira sudah sulit untuk di gerak kan. Ia melihat Dinda perlahan tak bereaksi lagi hingga bunyi yang panjang kini kembali terdengar.
ttiiiiiiiiiiiiiittttttttt..............
Alat itu pun terlihat satu garis panjang. Dokter mencoba mengusahakan yang terbaik untuk Dinda tapi kemudian dokter melirik memastikan reaksi Bang Wira.
Perlahan tangan dokter menyatukan kedua tangan Dinda.
"Wira.. kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi.. Tuhan......."
"Abang itu bukan Tuhan, bukan Abang yang menentukan hidup dan mati..!! Coba periksa sekali lagi..!!" kata Bang Wira tak terima.
"Wira.. kamu harus bisa terima kalau Dinda memang sudah tiada..!!" kata dokter yang juga merupakan senior Bang Wira.
"Kerjamu hanya menolong orang, bukan untuk menentukan hidup dan mati..!!" teriak Bang Wira mulai terbawa emosi.
Bang Wira berjalan mendekati ranjang Dinda. Dilihatnya wajah cantik sang istri, diam, tenang, sedikit senyum menghias wajah yang pastinya menahan rasa sakit.
"Dindaku sayang.. Abang tau kamu pasti kesakitan. Abang tiup ya dek" Bang Wira meniup bagian perut Dinda yang tertusuk pisau tajam.
"Apa kamu kedinginan? Badanmu dingin sekali dek..!!" Bang Wira membungkuk menciumi wajah Dinda lalu memeluknya erat, jelas sekali tak terlukiskan hancurnya perasaan Bang Wira. Di tahun yang sama ia harus kehilangan kedua istri dan itu rasanya hampir membuatnya sungguh tak berdaya.
Dinda istriku sayang. Habislah separuh nyawaku melihatmu menghalangi pisau itu menembus tubuhku. Kamu tidak perlu membuktikan cintamu padaku dengan nyawamu. Harusnya aku yang melindungi mu. Jangan pernah merasa tak berharga karena pada kenyataannya.. kamu lah segalanya dalam hati Abang. Adinda adalah sebuah harga diri tapi kamu adalah sebuah penolakan karena Abang takut kehilangan. Tapi saat itu Tuhan pun tau. Ada cinta untukmu.
"Kenapa kamu masih tidur? Kamu nggak mau bicara Abang?? Abang nggak pernah selingkuh sayang. Adinda pun juga hanya sebatas kewajiban. Apa kamu semarah ini sama Abang??" Bang Wira mulai terisak. Dokter Nick di bantu yang lain menarik bagi Bang Wira tapi pria itu enggan beranjak dari istrinya.
"Wira.. sudah ya..!!" Bang Bayu kembali membujuk Bang Wira.
"Jangan diam saja dek..!! Abang nggak kuat lihat kamu seperti ini Dinda.."
"Dindaaaaaaaaa..!!!!!!" teriakan Bang Wira semakin terdengar pilu, ia mengguncang tubuh Dinda dengan kuat. Frustasinya sudah di ambang batas.
"Jangan Wira..!!"
"Lebih baik Abang ikut kamu saja Dindaaa..!!" tanpa pikir panjang, Bang Wira mencabut sangkur di pinggang Bang Bayu, tangan Bang Bayu dengan sigap menghalangi tangan Bang Wira, namun kekuatan Bang Wira yang sudah kalap begitu sulit di kendalikan sampai akhirnya sangkur itu menggores pinggang Bang Wira sedikit dalam.
"Wiraaa..!!! Jangan macam-macam kamu Wira..!! Pakai akalmu, ingat Asya anakmu..!!!!!!!" bentak Bang Bayu kemudian menampar pipi Bang Bang Wira dan melumpuhkan suami Dinda itu.
"Uhuukk.. hhgghh.."
Terdengar suara nafas panjang tersengal, mukjizat Allah pun turun dan Dinda kembali bernafas.
__ADS_1
Tepat saat itu Bang Wira menggelinjang merasakan ulahnya sendiri tapi ada seulas senyum saat menyadari Dinda terbangun kembali.
"Terima kasih banyak sayang, sudah sudi kembali demi pria sepertiku. Jika ini cara terakhir ku.. aku rela menukar nyawa demi kamu" ucapnya kemudian kehilangan kesadaran.
"Ya Tuhan Wiraa.. hanya kasusmu ini yang membuat gempar satu Batalyon" gerutu Bang Bayu.
...
Dokter Nick menggeleng merasakan kejadian ini. Ia sampai memberikan kamar VVIP untuk Bang Wira agar perwira satu itu tidak mengacau. Benar saja, Bang Wira tersadar dan langsung mencari Dinda mengalahkan rasa sakitnya yang luar biasa.
"Mau kemana kamu??" tegur Bang Maulana yang berjaga bersama Bang Aaron.
"Kalian bawa Dinda kemana??" Bang Wira memercing menahan perutnya dan turun dari ranjang.
"Allahu Akbar.. sakit sekali Ya Allah" gumamnya.
"Itu hasil karyamu sendiri, mengukir goresan di pinggangmu.." Bang Maulana pun kesal melihat Bang Wira yang biasanya bijak tapi kini menjadi luluh lantah karena cinta. Ia pun juga tidak menyalahkan Bang Wira. Perasaan pria beristri memang begitulah adanya.
"Aku mau cari Dinda" kata Bang Wira tak peduli ucapan Bang Maulana.
"Melek dulu bro.. itu di sebelah mu siapa?"
Bang Wira menoleh melihat sisi sebelah kiri.
"Astagaaaa.. Wiraa..!!!"
...
"Pelan-pelan..!!" Bang Wira menyelipkan sedotan di sela bibir Dinda yang masih sangat lemah.
Dengan telaten Bang Wira menyuapi Dinda makan padahal dirinya sendiri jauh dari kata sehat.
"Anak kita bagaimana Bang??" tanya Dinda lirih.
Hati Bang Wira terasa pahit. Tapi senyum kecil tetap ia sunggingkan demi sang istri.
"Makan dulu. Anakmu nggak apa-apa" jawab Bang Wira.
"Alhamdulillah.. tapi masih pendarahan ya Bang. Sakit sekali"
Bang Wira kembali tersenyum.
"Selama kamu sehat, dia tetap nyaman disana" jawab Bang Wira dengan berbagai makna.
"Iya Bang"
__ADS_1
tok..tok..tok..
"Selamat malam.. Ijin Abang, semuanya sudah...."
Bang Wira memberi kode agar Bang Aaron diam.
"Iya terima kasih"
"Sudah apa Bang?" tanya Dinda.
"Biasa sayang. Urusan pekerjaan laki-laki" jawab Bang Wira kemudian membelai rambut Dinda.
:
"Saya tetap minta proses hukum untuk Rendra dan memberikan syok terapi pada Nesya. Karena dia aku kehilangan istri dan anak dan sekarang anak ku juga jadi korban"
"Siap sudah Bang. Kasusnya sudah naik" kata Bang Aaron.
"Tahan emosi mu Wira. Saat seperti ini sebaiknya kamu bicarakan dengan Dinda" saran Bang Bayu.
"Nanti Bang, kalau Dinda sudah sedikit lebih baik.. baru saya cerita. Sekarang kondisi Dinda belum pulih, saya tidak mau memperburuk keadaannya." jawab Bang Wira tak lepas dari perasaan sedihnya.
Para pria sedang berbincang di luar kamar rawat, tak disangka Nesya datang membawa bayinya hendak menemui Dinda dan itu sukses membuat emosi Bang Wira meledak kembali.
"Mau apa kamu???"
"Saya mau bertemu Dinda. Tolong mengerti perasaan saya Bang..!!" kata Nesya.
"Sungguh tak tau malu. Kamu dan suamimu sudah mengacau rumah tangga saya dan sekarang kamu minta saya mengerti kamu????" bentak Bang Wira sudah habis kesabaran.
"Aku sudah tidak bisa punya anak lagi, sedangkan Dinda.. Dia bisa memberimu anak Bang. Aku yakin Bang Rendra melakukan semua ini karena tidak sengaja. Apa Abang sebagai laki-laki tidak pernah melakukan kesalahan? Jadi tolong Bang. Pertemukan aku dengan Dinda..!!" Nesya ingin menerobos masuk ke dalam kamar tapi Bang Wira mencegahnya.
"Saya mungkin se bejat itu dulu, tapi saya punya perasaan. Saya akui, saya bukanlah orang suci dan seperti kebanyakan pria, masih banyak berbuat dosa. Tapi tidak ada satu orang pun pacar saya.. yang saya 'sentuh' sampai akhirnya berbadan dua dan kau sebagai wanita.. dimana perasaanmu? Jangan buta oleh cinta.. Nesyaaa..!!!!"
"Aku ingin Bang Rendra pulang..!!" teriak Nesya tak terkendali.
"Kamu bisa kembalikan anak ku?? Dinda keguguran karena kamu..!! Kamu tau bagaimana hancurnya hati ku sekarang? Rasanya aku ingin mati saat Dinda menanyakan anaknya" Mata Bang Wira berkilat marah menatap wajah Nesya yang masih terus bertahan pada posisinya.
.
.
.
.
__ADS_1