Sayap Perwira

Sayap Perwira
38. Hati yang tertahan.


__ADS_3

Harap kebijakan dalam membaca..!!


🌹🌹🌹


Bang Wira berjalan menuju pos depan membawa kesal dan wajah awut-awutan. Rasa jengkelnya sudah tidak terbendung lagi.


"Biar saya yang ambil apel malam. Kamu besok saja..!!" kata Bang Wira pada juniornya.


"Oohh.. siap Bang" jawab Lettu Aaron kemudian mundur karena melihat wajah seniornya sudah masam.


"Hmm.. yang sudah berumah tangga pasti paham, berantakan begini apalagi kalau nggak masalah lumpang alu" kata Bang Prayitno yang kemudian mendapat lirikan tajam dari Bang Wira.


"Heleeh.. sok tau lah Abang ini" Jawab Bang Wira ketus sembari membuang rokoknya dengan kasar.


:


"Kenapa bisa telat??? tumbling kamu sekarang..!!" bentak Bang Wira yang terlihat jelas sedang meluapkan emosinya.


Bang Aaron mendekap Bang Wira lalu menenangkan seniornya.


"Sabar Bang, telat satu menit jangan di persoalkan. Ayo ngopi dulu lah Bang..!! Me refresh pikiran" bujuk Bang Aaron.


Bang Prayitno pun merangkul Bang Wira dan mengajaknya duduk.


"Kalau kamu seperti ini terus, semua pekerjaanmu bisa berantakan."


"Saya nggak siap kalau Dinda.... sampai nantinya harus terlibat dengan masa lalu saya yang kelam. Saya takut" jawab Bang Wira menahan rasa sesaknya.


Tangan Bang Bayu memegang kedua bahu Bang Wira. Entah sejak kapan Danyon berada disana.


"Wira.. setiap manusia memiliki garis hidup yang berbeda. Adinda dan Dinda adalah dua orang yang berbeda. Nggak apa-apa kalau kamu membuka hatimu kembali. Mungkin dia bukan pilihanmu karena caramu bertemu begitu luar biasa. Tapi harus kamu ingat, Dinda ini pilihan Tuhan dengan segala caranya"


...


"Bismillahirrahmanirrahim" Bang Wira membuka pintu rumahnya.


Tengah malam Bang Wira melihat Dinda usai menata barang-barang Asya. Bang Wira pun mendekati Dinda.


"Sudah malam dek. Besok di lanjut lagi..!!"


Dinda melirik tangan Bang Wira yang melingkar di perutnya, sapaan baru.. juga perlakuan yang tidak biasa dari Bang Wira. Ia pun melepas paksa pelukan Bang Wira tapi sayang, Bang Wira enggan melepasnya.


"Abang tidak tau apakah kamu menyadari hubungan di antara kita selama ini, yang Abang tau, Abang boleh mendekati mu"

__ADS_1


"Kita hanya sebatas hubungan kerja Bang. Dinda disini hanya untuk mengasuh Asya karena almarhumah Mbak Adinda sudah memberi kehidupan kedua untuk Dinda" jawab Dinda sudah menangis.


"Sejak kamu hidup bersama Abang, tanggung jawab itu sudah Abang pegang penuh. Kamu nggak sadar itu dek??" tanya Bang Wira kembali tersulut emosi. Tanpa sadar hatinya yang mulai tidak sabar menghadapi sikap penolakan Dinda dengan segala keluguannya.


"Dinda memang sekolah di luar negeri, tapi Dinda membatasi pergaulan. Lalu kenapa saat Dinda sampai di negeri sendiri.. Dinda malah bertemu majikan kurang ajar seperti Abang..!!" Dinda meronta-ronta membuat Bang Wira kewalahan. Sikap 'liar' Dinda ternyata malah semakin membuat adrenalin Bang Wira tertantang.


"Kamu ini memang sulit di beri pengertian, nggak bisa secara halus.. mungkin cara lain bisa membuatmu diam..!!!" Bang Wira mamanggul Dinda dan membawanya ke dalam kamar belakang.


:


"Nggak mauuu.. Abang mau apa???" Dinda sangat ketakutan saat Bang Wira membuka pakaiannya, seragam loreng itu kini begitu menakutkan baginya.


"Abang mau buat kamu mengerti, kenapa kebersamaan kita selama ini tidak jadi bahan gunjingan orang. Kamu pikir kenapa orang-orang menyapamu dengan sapaan Ibu Wira????" ucap Bang Wira sudah gemas.


"Menghormati Abang sebagai komandan. Kalau nggak bener panggil nya, bisa Abang tempeleng khan??" jawab Dinda dengan polosnya.


"Allahu Akbar.. Dindaaa..!!!!!" kekesalan Bang Wira pun memuncak, ia menarik selimut yang menutupi tubuh Dinda. Dengan jurus seribu bayangan, tangan lincahnya mengobrak abrik pakaian Dinda.


Dinda terpekik kencang, cemas tetangga akan mendengar.. juga Asya yang bisa saja terbangun, secepatnya Bang Wira membungkam Dinda dengan bibirnya. Kaki itu mengunci tubuh Dinda yang meronta-ronta.


Perlahan Dinda melemah, ada rasa tidak biasa menjalari tubuhnya. Ia sangat takut tapi Bang Wira memperlakukannya begitu lembut. Dinda terhanyut dan terbuai, gelisah mengartikan keadaan dirinya.


"Tolong dek, Abang nggak mungkin kurang ajar kalau belum ada hubungan di antara kita. Malam ini Abang sudah benar-benar nggak kuat menahannya" bisik Bang Wira sudah nyaris putus asa dengan segala frustasi nya membuat Dinda tersadar.


"Nggak dek.. percayalah sama Abang..!!" tak banyak bicara, Bang Wira mengecup kening Dinda.


Mata Dinda terpejam kuat saat Bang Wira membuat tubuh mereka menjadi satu.


"Abaaaanngg..!!" rengek Dinda terdengar manja di telinga Bang Wira.


:


Mata Bang Wira memperhatikan gerak-gerik Dinda sebelum menyudahi kebersamaan nya malam ini. Sesaat kemudian Dinda mulai tidak tenang, Bang Wira pun mengontrol keadaan.


Satu.. dua.. tiga kali tindaka.. Bang Bang Wira menggigit kecil bibirnya, ia terlena melayang-layang menyelesaikan kewajibannya. Hal yang membuatnya uring-uringan tuntas sudah. Tiga belas bulan cukup menyiksa batin bagi seorang pria yang sudah pernah mengecap manisnya madu surga dunia.


"Abang nggak sopan..!!" protes Dinda menangis kesal.


"Dinda takut papa sama Abang Regar marah kalau tau Dinda buka pakaian di depan laki-laki"


Bang Wira masih menggenapkan nyawa dan mengatur nafasnya. Sesaat kemudian baru lah ia merespon kekesalan Dinda.


"Ya nggak usah bilang. Ini urusan kita dek."

__ADS_1


Terdengar suara tangis Asya membuat Dinda panik. Ia pun berniat bangkit dari ranjang.


"Aaawwhh.." Dinda memercing kesakitan.


Bang Wira yang hampir tertidur terpaksa harus bangun. Ia mengenakan kembali pakaiannya lalu menuju kamar Asya dan kemudian memberi susu botol hingga putrinya tertidur kembali.


~


Dinda pucat di ranjangnya, badannya sulit sekali untuk di gerak kan.


"Sini Abang bantu bangun" Bang Wira berniat membantu Dinda tapi nampaknya gadis itu masih marah.


"Kenapa Abang sejahat ini sama Dinda???"


Bang Wira pun berjongkok di samping ranjang Dinda, menekan emosinya dalam-dalam. Tak mudah juga baginya menjelaskan pada gadis lulusan luar negeri tapi dengan kepolosan tiada tanding.


"Abang khan sudah bilang. Abang nggak akan berani macam-macam kalau tidak ada hubungan di antara kita" jawab Bang Wira.


Dengan emosinya Dinda menampari pipi Bang Wira berkali-kali.


"Dinda sudah janji akan mengabdikan hidup Dinda untuk Asya, tapi bukan berarti Abang bisa perlakuan Dinda seperti ini."


Bang Wira hanya diam dan tidak membalas kemarahan Dinda.


"Dinda bukan Mbak Adindanya Abang yang Abang cintai sepenuh hati. Jangan hanya datang karena Abang butuh pelampiasan. Tolong jangan jadikan Dinda ini hanya barang pajangan Abang"


Bang Wira pun akhirnya tidak kuat dan langsung memeluk Dinda.


"Demi Allah Abang nggak pernah berpikir seperti itu. Abang melakukannya secara sadar dek. Tidak ada Adinda lagi, dia hanya hidup dalam kenangan Abang. Yang ada saat ini adalah Dinda.. Nahza Rahma Dinda"


"Lalu siapa Dinda ini dalam hidup Abang??"


Bang Wira kembali terdiam membisu.


"Yaa.. Dinda ngerti Bang. Pengasuh Asya.. dan pe****r nya Abang"


"Lailaha Illallah.. jangan katakan itu dek..!!" Bang Wira mengeratkan pelukannya. Sungguh hati Bang Wira begitu sakit mendengarnya apalagi saat tau istrinya itu masih tersegel rapat membuat hatinya semakin nyeri.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2