Sayap Perwira

Sayap Perwira
29. Patah hati


__ADS_3

Peringatan kedua untuk skip bagi yang tidak kuat..!!!! Hargai imajinasi penulis. Percayakan semua pada penulisnya..!!!!


🌹🌹🌹


"Jangan salah paham dek.. Abang hanya bantu Dinda"


"Apa membantu harus diam-diam?????" pekik Mey.


"Mana perempuan itu? Adek banyak dengar rumor tentang Dinda tapi adek berusaha menutup telinga. Tapi kenapa saat adek sudah percaya, malah adek melihat Abang berduaan dengan wanita lain?????"


"Astagfirullah hal adzim.. nggak dek, tolong dengar Abang dulu..!! Abang sudah janji sama Wira untuk membantunya menjaga Dinda karena dia Abang kirim untuk menyelidiki kasus kemarin..!! Abang nggak bisa pergi karena jabatan Abang, jadi terpaksa Wira yang harus pergi." ucap Bang Bayu akhirnya tidak mau menutupi hal ini lagi.


"Kenapa harus kucing-kucingan????"


"Di kehamilan mu ini kamu terlalu perasa dan cemburuan dek, Abang juga memikirkan anak kita" jawab Bang Bayu lalu kemudian membuka bagasi belakang mobilnya untuk memasukkan barang belanjaan Mey. Istrinya itu memang sedang senang-senangnya berbelanja.


"Lho.. mana Dinda?????????" Bang Bayu mulai panik dan kebingungan saat Dinda tak lagi ada di jok mobil depan.


"Apa yah??"


"Dinda hilang ma??? Ayo cari.. kalau tidak, kita akan berurusan dengan Wira."


~


Bang Wira usai melaksanakan sholat Ashar. Entah kenapa terasa begitu berat, sakit dan sesak.


Kenapa hatiku terus gelisah, sejak tadi hatiku terus memikirkan Dinda. Apa dia baik-baik saja disana?.


"Bang, kita sudah mendapatkan lokasi buruannya" kata Bang William.


"Alhamdulillah.. Ayo segera di selesaikan..!!" perintah Bang Wira sampai tidak merasakan ada getaran pada ponselnya.


...


Anggota sudah standby dengan posisi mencari ke arah kota hingga keluar kota. Mey menangis kencang hingga pingsan karena Dinda tak kunjung di temukan dan itu sukses membuat Bang Bayu kalang kabut.


"Mamaaaa.." Bang Bayu pun segera menangani istrinya terlebih dahulu.


...


"Akun bodong. B*****t.. akan ku hancurkan markasnya besok" ucap geram Bang Wira usai memecahkan akun pengacau itu.


Saat itu, ia baru merasakan getaran di ponselnya. Matanya elangnya berubah tajam melihat ratusan panggilan tak terjawab dan juga pesan singkat disana yang isinya.

__ADS_1


Mohon bantuan untuk mencari Istri dari Lettu Wiranegara yang hilang di depan Rumah Sakit Tentara siang tadi.


"Dinda..!! Dindaaaa..!!!!!!" tanpa aba-aba Bang Wira segera berlari keluar dari cafe tempatnya berunding dengan Wiliam.


-_-_-_-_-


Pagi buta Bang Wira sudah sampai Batalyon menggunakan mobil yang ia sewa. Suasana Batalyon masih terang benderang karena semua lampu sorot menyala. Hingga pagi itu kesibukan masih terjadi karena hilangnya istri seorang prajurit. Bang Wira berlari menuju lapangan.


"Dimana istriku Bang??" tanya Bang Wira memegang kedua bahu Bang Bayu.


"Dimana istriku?? Ini hanya bercanda Khan Bang????????"


"Om Wira, ayo duduk dulu. Kita bicara bersama..!!!" bujuk Mey.


"Bukan Abang yang salah, tapi saya..!!"


:


"Pot, sudah pot.. kalau emosi begini, kita nggak akan bisa berpikir tenang" bujuk Bang Rendra mendekap erat tubuh sahabat nya itu.


"Bagaimana aku bisa tenang kalau istriku hilang????????" teriak Bang Wira yang usai menghajar Danyon dengan kalap.


"B******n kalian semua..!!!!!!!!!!" umpat Bang Wira pada Bang Bayu dan Bang Rendra.


"Istriku itu belum pernah kubahagiakan, dan sekarang aku tidak tau dia dimana"


"Jangan banyak bicara kau Rendra. Kau menyakiti hati Dinda sampai seperti itu. Beranikah kau katakan pada Nesya kalau itu adalah bayi Dinda????????" bentak Bang Wira sudah tak sanggup membendung perasaannya lagi.


Nesya begitu terkejut mendengar kabar itu, ia melihat putri semata wayangnya. Wajah itu memang begitu mirip dengan Bang Rendra tapi ia tidak bisa memungkiri jika mata Nala sangat mirip dengan Dinda. Tapi ada satu yang sungguh tidak bisa di pungkiri, si kecil Nala terus merengek saat Dinda 'tidak ada'. Dengan langkah tak pasti, Nesya mendekati Bang Rendra.


"Benarkah itu Bang?? Nala bukan putriku?" tanya Nesya dalam sesaknya perasaan.


Bang Wira yang sudah kesal segera berlari pulang ke rumah dan mengikuti arahan Danyon untuk mencari hilangnya 'istri dari Lettu Wiranegara'.


:


"Katakan Bang, jangan diam saja..!! Apa benar Nala bukan putriku..!!" pekik Nesya terus mendesak Bang Rendra dengan pertanyaan yang bertubi-tubi" suara tangis Nala semakin membuat suasana kian mencekam.


"Nala putrimu atau bukan, jika kamu memang tulus mencintainya.. kamu akan tetap mencintainya meskipun Nala tidak terlahir dari rahim mu..!!" tegur Bang Wira kemudian meminta Nala dari gendongan Nesya.


"Uusshh.. cantiknya Papa kenapa? Nala rindu Mama? Jangan nangis nak, berilah tanda yang baik agar mama baik-baik saja disana. Nala jangan rewel sama Bunda ya..!! Papa akan bawa Mama kembali" janji Bang Wira kemudian mencium pipi Nala. Sungguh ajaib, Nala berhenti menangis dan menurut ucapan papanya.


Bang Wira pun mengembalikan Nala pada bundanya.

__ADS_1


"Jaga dan sayangi Nala, dia ini anak suamimu. Saya tau semua pahit bagimu. Tapi anak ini tidak minta untuk bernasib seperti ini Nesya.. jadi tolong, besarkan dia"


Tangis Nesya begitu pilu hingga para istri anggota yang lain ikut menangis.


"Aku akan menyayanginya Bang, Nala putriku"


"Terima kasih banyak Nesya" Bang Wira berbalik badan lalu bergabung dengan pasukan yang lain.


"Wira.. kamu jangan berangkat..!!" cegah Bang Bayu yang sudah babak belur di hajar Bang Wira.


"Sampai ujung dunia pun, saya akan mencari Dinda sampai ketemu" jawab Bang Wira.


"Atas nama pribadi.. saya mohon maaf Wira..!!" ucap Bang Bayu penuh sesal.


Bang Wira tidak menggubris ucapan Bang Bayu dan terus berlalu menaiki truk yang sudah menunggu.


bruuuuggghh...


"Ayaaaahh.." Mey sangat kaget melihat suaminya pingsan di tempat.


"Ayo cepat tolong komandan..!!" perintah anggota yang lain.


...


Sepanjang perjalanan, tangis Bang Wira terus mengalir. Doa tak pernah lepas darinya. Rindu, cemas gelisah dan takut memikirkan Dinda serta calon anak yang masih ada dalam kandungan. Usia kandungan itu masih terlalu kecil untuk menghadapi situasi seberat ini.


Tunggu Abang ya dek..!! Abang pasti akan menjemputmu pulang. Maafin Abang yang lalai menjagamu.


"Aaaaaaaaaaaaaahhh.. Dindaaaaaaa...!!!!!!" Bang Wira berteriak sekencang nya di dalam truk di pagi buta. Tangannya mengepal kuat meluapkan frustasi yang bergemuruh dalam dada.


"Istighfar Dan.. kita tetap ikhtiar mencari ibu" bujuk seorang anggota.


"Kamu dimana Dinda? Tolong jangan pergi. Abang nggak kuat kamu tinggal sendiri..!!" ucapnya mulai melemah.


"Tidurkan komandan..!!" Serma Amar melonggarkan ikat pinggang Bang Wira kemudian mengusap perutnya menggunakan minyak kayu putih yang mereka bawa dari unit kesehatan.


"Yang kuat Dan. Cobaan ini memang berat, kencangkan doa, insya Allah Tuhan akan mendengar segala doa."


Bang Wira menangis sampai rasanya ia tak mengingat masih hidup atau sudah mati.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2