Sayap Perwira

Sayap Perwira
102. Tersayang.


__ADS_3

Yang tidak paham alur Nara mengawinkan beberapa judul.. harap di baca urut dan jangan mencela sebelum cerita selesai. Terima kasih 🙏🙏


🌹🌹🌹


"Kenapa ada kejadian seperti ini lagi sih Wir??" tegur Bang Siregar.


Bibir Bang Wira terasa kelu. Sungguh ia begitu pusing memikirkan masalahnya yang tak kunjung selesai.


"Kamu belum juga baikan sama Dinda? Kamu nggak menjelaskan apapun sama Dinda?" cecar Bang Wira.


"Aku sudah menjelaskan semampu ku, sebisa ku Gar. Kau pikir gampang membujuk istri yang sedang cemburu berat?" tanya Bang Wira mulai kehilangan kesabaran.


"Dinda adik ku. Wajar aku khawatir dengan semua keadaan ini..!!" jawab Bang Siregar juga mulai terpancing emosi.


"Kalian diam dulu..!! Bagaimana aku bisa konsentrasi????" tegur dokter senior Bang Wira.


Bang Wira dan Bang Siregar langsung terdiam. Tak lama Hazna menengahi mereka.


"Emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Jika Hazna di posisi tersebut, mungkin Hazna juga tidak akan kuat."


"Menurutmu harus bagaimana dek?" tanya Bang Siregar.


"Wanita itu makhluk yang lembut Bang, meskipun sulit.. Abang harus telaten merayu d ada memberinya kasih sayang" saran Hazna.


"Akan kulakukan apapun asal Dinda nggak marah lagi sama Abang" kata Bang Wira.


"Kau ini..!!!!" Bang Siregar melirik Bang Wira dengan tatapan tajam dan kesal.


***


Tengah malam Dinda terbangun dan melihat Bang Wira memilih tidur tertelungkup memegang tangannya daripada tidur di sofa.


Dinda kembali menangis melihat sikap Bang Wira padanya.


Dinda nggak mengerti Bang, apakah sikap Abang ini tulus atau hanya rasa bersalah Abang sudah membuat semua kejadian ini terjadi. Kenapa Abang seakan mengunci Dinda agar tidak bisa lepas dari Abang.


Bang Wira terbangun dan langsung duduk sempurna karena mendengar Isak tangis dari Dinda.

__ADS_1


"Kamu kenapa dek? Apa yang sakit?"


"Dinda nggak mau anak ini" ucap Dinda tiba-tiba dan itu begitu memukul perasaan Bang Wira.


Untuk kali ini Bang Wira tidak mengambil hati untuk setiap ucapan Dinda. Ia pahami mental Dinda sedang dalam keadaan tidak stabil.


"Kamu maunya bagaimana sayang?" tanya Bang Wira menyelipkan anak rambut Dinda ke belakang telinga. Bang Wira tau betul Dinda sangat menginginkan anak lagi darinya. Entah kenapa kali ini Dinda menolak janin yang baru tumbuh di rahim istrinya itu.


"Kemarin kamu yang mau dia ada disini khan?" tangan Bang Wira beralih mengusap perut Dinda.


"Nggak.. Dinda nggak mau, Abang nggak cinta sama Dinda." ucapnya dengan tatapan kosong.


Saat ini Bang Wira memilih membiarkan Dinda meluapkan emosi nya dengan segala hal yang mampu membuatnya lebih baik dan akan menanganinya setelah Dinda tenang.


"Abang peluk ya..!! Tidur lagi.. masih tengah malam..!!" bujuk Bang Wira.


-_-_-_-_-


Bang Wira menyisir rambut Dinda. Lembut dan wangi usai istrinya mandi pagi. Dinda terdiam tanpa suara hanya memainkan kuku jarinya saja.


Sebulir air mata Bang Wira menetes melihat Dinda kali ini.


"Kita pacaran" Bang Wira menguatkan hatinya karena memang Dinda sudah kehilangan banyak memori nya. Tekanan batin yang di alaminya sudah menggoncang jiwanya.


"Nggak mau, Dinda mau cerai"


Tak lama Dan Akbar datang dan masuk ke dalam kamar. Raut wajahnya tak bersahabat menatap wajah Bang Wira.


"Dinda.. ini Papa sayang" sapa Dan Akbar.


Tak ada reaksi dari Dinda. Putri Dan Akbar hanya diam membisu. Bahkan saat Dan Akbar memeluknya, Dinda tetap diam.


"Papa mau bicara sama kamu Wira..!!"


"Siap pa..!!"


~

__ADS_1


"Ini keterlaluan Wira..!!" tegur Papa Akbar.


"Mana janjimu untuk Dinda dulu?? Kamu yang sudah meminta nya di hadapan Papa. Kenyataannya ini yang harus Papa terima?? Papa sudah bilang.. menikahi Dinda terlalu cepat apalagi saat itu kamu baru hitungan hari kehilangan istrimu."


"Saya salah Pa"


"Kamu memang salah. Perpisahan karena kematian itu sulit. Karena tidak ada perselisihan di antara kalian. Itulah sebabnya Papa bilang.. Jika kamu tidak kuat menjalani semua ini.. maka tidak hanya satu hati yang hancur, anak-anak juga akan terkena imbasnya." kata Papa Akbar.


"Tapi sungguh pa, saya mencintai Dinda." tak tau lagi bagaimana caranya Bang Wira harus menjelaskan pada keluarga bahwa dirinya sungguh mencintai Dinda.


"Kamu tidak harus menjelaskan sama Papa. Papa pernah mengalami hal sepertimu. Jadi kamu harus bisa mengambil hati Dinda, bukan papa" jelas Papa Akbar.


"Saya sedang berusaha pa" jawab Bang Wira.


"Ingat Wira.. ada calon anakmu dalam rahim Dinda. Kalau mental Dinda down.. bagaimana dengan anakmu. Pikirkan tumbuh kembangnya..!!" Bang Wira merasa lemas mendengarnya.


"Iya pa.. saya paham"


:


Dinda duduk di temani Hazna. Sesaat tadi dokter senior sudah memberikan sugesti untuk Dinda agar istri Wira itu sedikit lebih tenang.


"Dinda.. kita makan yuk..!!" ajak Hazna. Dinda mengunci bibirnya rapat tanpa bicara sepatah katapun.


"Biar Abang yang coba" Bang Wira meminta mangkok yang sedang di pegang Hazna.


Hazna menyerahkan mangkok itu kemudian keluar dari kamar.


Bang Wira menghapus air matanya, kemudian duduk di ranjang Dinda.


"Assalamualaikum istri Sholehah nya Abang..!!" sapa Bang Wira.


Dinda menoleh mendengar suara Bang Wira. Disana Bang Wira ketakutan sikap Dinda akan brutal dan berubah-ubah seperti tadi apalagi tatapan mata itu begitu tajam mengarah padanya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2