
Bang Wira menggendong senjatanya dengan gagah di dalam pesawat. Ia memilih berdiri daripada harus duduk manis lalu muntah dan lemas yang akan meruntuhkan wibawanya. Beruntung saat perjalanan.. Dinda bisa tidur nyenyak dan ia pun tidak terganggu sedikitpun.
Disana Bang Siregar menggendong Nala. Setelah melalui pertimbangan yang panjang akhirnya Bang Siregar mendapatkan ijin untuk mengasuh Nala bersama Hazna. Nala begitu tenang dalam gendongan 'papanya'.
-_-_-_-
Pukul tiga sore waktu bagian timur.
Bang Wira melirik Dinda. Ia khawatir Dinda akan sulit beradaptasi dengan lingkungan barunya. Sampai sapaan senior dan anggota barunya tidak ia gubris sama sekali.
Bang Wira mengulurkan tangannya membantu Dinda untuk menuruni tangga pesawat. Pertama kali kaki turun, istrinya itu tersenyum.
"Alam yang indah Bang. Dinda suka" ucap Dinda sembari melihat ke sekeliling.
"Alhamdulillah kalau kamu suka" senyum kelegaan akhirnya merekah dari bibir Bang Wira.
"Mohon ijin Komandan.. Bagaimana yang tadi?" tanya Serma Khairil.
"Waduuhh.. maaf saya tadi tidak fokus. Istri saya sedang hamil muda. Masih mabuk-mabuknya pak" jawab Bang Wira.
"Siap Dan"
"Apa lingkungan ini jauh dari kota?" tanya Bang Wira.
"Siap.. dua jam perjalanan darat"
Bang Wira melihat jam tangannya. Siang ini Dinda sama sekali tidak mau makan dan itu membuatnya begitu cemas.
"Kita cari rumah makan dulu. Istri saya belum makan, kalau sampai masuk angin.. saya juga yang repot" kata Bang Wira.
"Setelah keluar bandara ini, ada rumah makan Wir. Kamu mau kesana?" tanya senior.
"Siap Abang"
...
"Di paksa makan. Sedikit saja..!!" bujuk Bang Wira menyuapi Dinda.
Para anggota tersenyum melihat Komandan mereka begitu menyayangi istrinya.
"Nggak suka makanannya ya?" tanya Bang Wira.
Dinda hanya menunduk dan tidak berani menjawab pertanyaan Bang Wira. Sebagai suami yang peka, Bang Wira membelai rambut panjang Dinda.
"Makan dulu apa adanya. Ini khan daerah kecil. Nantinya bisa makan nasi saja Alhamdulillah. Di luar sana masih banyak yang kekurangan dek. Makan dulu yang ada ya, nanti Abang usahakan cari yang lebih"
Dengan segala bujuk rayu akhirnya Dinda menurut dan mau makan.
Tak lama ada pedagang ikan berkeliling menggunakan gerobak lumayan besar. Bang Wira pun menghampiri nya.
"Anggota kita ada berapa?" tanya Bang Wira pada Pratu Cahyadi.
__ADS_1
"Ijin.. Seratus dua orang komandan. Dengan perincian enam puluh orang berkeluarga di antaranya sepuluh orang anggota bujang lokal dan sisanya remaja" jawab Om Cahyadi.
"Oke, kalau begitu.. siapkan tempat. Angkut semua ikan ini dan bawa ke markas..!!" perintah Bang Wira.
"Siap Komandan.
:
Bang Wira sudah sampai di rumah barunya setelah mendokumentasikan rekayasa Sertijab karena Dinda sudah kelelahan.
Rumah mereka bersebelahan dengan rumah Bang Aaron karena Bang Wira mengijinkan wakilnya itu untuk menempati rumah agar bisa di awasi sedangkan Bang Siregar menjabat Kompi A di sebelah Markas dalam kepemimpinan Bang Wira.
"Bi Onah, tolong buatkan susu untuk Dinda ya." perintah Bang Wira sembari memijati istrinya yang tengah menidurkan Asya sampai Dinda pun ikut tertidur.
"Oya Bi, Alena kemana?"
"Tadi Bu Alena sedang membantu Pak Aaron beres-beres di rumah sebelah" jawab Bibi.
"Nanti kalau Asya sudah bangun. Bibi sama Asya main di sana. Kalau perlu kerjakan apapun di rumah Aaron. Kalau Alen tanya, bilang.. Ini perintah saya..!!" kata Bang Wira.
"Baik pak"
...
Sesuai perintah Bang Wira, bibi mengerjakan apapun yang ada di rumah adik majikannya itu. Tak disangka Bang Aaron sangat suka bermain dengan Asya hingga keduanya semakin dekat.
"Ron.. Ayo ke kantor, kita bantu bakar ikan sekalian kenalan dengan anggota..!!" ajak Bang Wira.
"Hello broo.. Apa kabar" sapa pria tersebut.
"Jaangkriiikk... Aseemm.. Bang Righan sob" gumam pelan Bang Wira karena dirinya tak pernah akur dengan seniornya itu.
"Ijin Bang, selamat sore" jawab Bang Wira memberi hormat.
"Sore bro.. Abang dengar mau ada bakar-bakar nih, Abang ikutan donk" kata Bang Righan.
"Siap.. Abang minta di bakar apanya?" tanya Bang Wira dengan ledekan dendamnya.
"Kau ini bisa saja lawak dari dulu. Bakar kenanganmu bersama mantan. Hahahaha..." jawab Bang Righan dengan tawanya yang menyebalkan.
"Allahu Akbar.. Abang.. Istriku lagi tidur, jangan bicara macam-macam. Dia pencemburu sekali" Bang Wira mulai cemas.
"Oohh begitu.." Bang Righan mengangguk sambil mengunyah kacang goreng di tangannya.
"Bu Wira.. ini suamimu nggak bisa lupa sama mantan" teriaknya sekencang mungkin.
"Ya salam.. Abaaang..!!!" Bang Wira berjongkok meraup wajahnya saking cemasnya.
"Hahahaha... kau dulu sering mengerjaiku. Sekarang giliran mu sudah tiba Maung" ucap Bang Righan penuh ancaman.
"Mantan siapa??" tanya Dinda yang juga sudah bersiap menuju tempat kerja Bang Wira yang baru.
__ADS_1
"Mantannya Bang Righan, biasa lah curhat masa lalu" Jawab Bang Wira dengan cepat.
"Memangnya Papa punya berapa mantan??" tanya Icha saat mendengar Bang Wira menyebut mantan suaminya.
"Astagfirullah hal adzim.. ini fitnah ma. Sumpah cintanya Papa cuma sama Mama" jawab Bang Righan resah.
"Iya kali. Yang nggak kehitung entah ada berapa mbak" Bang Wira semakin menanasi suasana sedangkan Bang Righan harus menerima lirikan tajam dari sang istri.
"Makanya Bang, jangan adu skill sama Maung" ledek Bang Wira.
...
"Kalau kipasin ikannya jangan begitu, percikan apinya bisa kemana-mana..!!" Bang Wira ikut membantu dan mengawasi Dinda yang ingin belajar membakar ikan.
Ternyata ide Bang Wira membawa banyak barang dari Jawa ada gunanya juga. Bukan tanpa tujuan ia membawa barang dari Jawa. Selain karena adaptasi dengan kebutuhan, membawa istri hamil juga butuh perhatian khusus.
"Awas dek..!! Jangan terlalu dekat..!!"
Para anggota menahan tawa melihat Komandan mereka memisahkan Dinda dari kesibukan para ibu karena Dinda sedang belajar membakar ikan.
"Ini punya Dinda sudah matang Bang" ucap Dinda dengan bangganya.
"Yo jelas to dek, besarnya ikanmu hanya dua jari dan panjangnya cuma setelapak tangan. Baby tongkol kamu panggang. Iku wae gosong kabeh"
"Abang nggak menghargai usaha Dinda yang sudah keringatan masak bareng anggota disini????" tanya Dinda sudah memasang wajah perang.
Mata Bang Wira membulat besar karena cemas sudah salah bicara. Tanpa pikir panjang ia bertepuk tangan.
"Waahh.. salut saya buat Bu Dansat yang bisa bakar ikan" jawab Bang Wira bertepuk tangan sembari memelototi anggotanya.
Tak lama para anggota ikut bertepuk tangan bahkan beberapa anggota yang tidak paham dengan kejadian itu pun ikut bertepuk tangan karena wajah komandan mereka sudah penuh ancaman tapi wajah itu berubah tersenyum manis jika bertatap mata dengan sang istri.
Innalilahi.. kalau ini tadi Dinda sampai ngamuk, habislah aku.
"Mana lagi ikannya, Bu Dansat pengen bakar lagi" perintah Bang Wira meskipun akhirnya harus mengorbankan lima ekor ikan tongkol sebagai bahan praktek istri tercinta.
"Nanti Abang yang makan ya..!!"
"Siaapp.." jawab Bang Wira.
"Tolong para anggota siapkan tandu dan obat cidera lambung buat saya" imbuh Bang Wira membuat para anggota menahan tawa.
"Byuuuuhh.. pembunuhan berencana Iki ceritane" gumam Bang Wira lirih saat melihat ikan negro di atas piring.
.
.
.
.
__ADS_1