
"Marto dan istrinya bertengkar hebat. Isu yang sempat mengudara.. Bu Marto berselingkuh dengan anggota Matra lain" lapor seorang anggota.
"Astagfirullah.. kenapa bisa begitu. Apa ada masalah keuangan atau hal lain?? Pembinaan personel nya bagaimana ini?" tegur Bang Wira.
"Siap.. tidak tau"
"Parah sekali.. Marto dimana?" tanya Bang Wira.
"Siap.. sedang tidak ada di tempat Dan..!!"
"Cari..!!!!" perintah Bang Wira tegas.
...
Bang Wira mendadak mual melihat rambut menjuntai dan setengahnya tertutup lumpur.
"Ya Allah.. jangan sampai Dinda lihat. Dinda pasti ketakutan"
"Ijin Dan.. mohon untuk mundur, identifikasi akan segera di lakukan. Kami juga akan meminta keterangan dari Ibu" kata seorang anggota POM.
"Jangan bawa istri saya kesini. Istri saya nggak akan kuat..!!" belum sempat mulut Bang Wira tertutup.. ternyata Dinda sudah ada di belakang punggung Bang Wira dan melongok melihat lubang galian.
"Itu rambut Bang???" tanya Dinda mengagetkan Bang Wira.
"Laahdalaahh... kamu kenapa ada disini dek??" tanya Bang Wira panik.
Dinda belum menjawabnya tapi nafasnya terasa sesak.
"Abang.. Dindaa.. takuuutt..!!!" ucapnya sebelum akhirnya terjungkal masuk ke dalam lubang galian.
"Ya Allah.. Dindaaaaa..!!!!!!" Bang Wira panik bukan main.
"Bantu angkat Ar..!!" Bang Aaron mengangkat dompet kecil yang di pegang Dinda.
"Dindanya Ar..!!! Bukan dompetnya..!!!!!!" pekik kesal Bang Wira.
:
"Kenapa kalian memutuskan sendiri tanpa konfirmasi???? Kalian lihat sekarang istri saya seperti ini. Terus bagaimana sekarang???"
"Maaf Bang.. kami nggak tau kalau istri Abang ada riwayat...."
"Makanya kamu tanya.. jangan asal melambung tanpa sepengetahuan saya" tegur Bang Wira pada seorang perwira anggota POM.
__ADS_1
"Siap salah"
Tak lama seorang perawat menghampiri Bang Wira.
"Ijin Dan.. ibu sudah sadar"
Bang Wira segera berjalan cepat menemui Dinda.
"Sudah enakan dek?" tanya Bang Wira.
"Bang.. benarkah itu Bu Marto?"
"Masih di selidiki" jawab Bang Wira yang sebenarnya enggan membicarakan masalah ini.
"Pak Marto selingkuh Bang"
"Hhsstt.. kamu nggak boleh bicara aneh-aneh kalau nggak ada bukti. Fitnah bisa mencelakai kamu sendiri" tegur Bang Wira.
"Benar Bang, minggu lalu Om Marto memergoki istrinya baru keluar dari supermarket bersama pria lain. Mungkin itu yang di maksud orang-orang" kata Dinda.
"Kamu tau darimana?"
"Iiihh.. kita khan baru keluar dari supermarket waktu itu. Abang bagaimana sih?"
"Abang sibuk telepon. Jadi nggak fokus"
Bang Wira mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat mengantar Dinda dari supermarket untuk membeli kebutuhan Asya dan Tian.
"Benar juga. Abang nggak perhatikan soal itu"
"Ijin Dan.. Marto sudah datang, ada di ruangan komandan"
...
"Darimana kamu??"
"Siap.. kerja di luar..!!" Jawab Marto.
"Dimana istrimu? Kenapa tidak ikut kegiatan?" tanya Bang Wira.
"Siap.. pulang kampung Dan" jawab Marto sedikit berhati-hati.
"Tidak ada surat ijin cuti ke istri saya, juga tembusan untuk bagian terkait" kata Bang Wira.
__ADS_1
Marto terdiam tak bisa mengelak, pandangannya kosong.. matanya memerah. Bang Wira sudah paham kalau pria ini sedang mabuk. Ada sisa bau alkohol tercium dari tubuhnya.
"Kemana istrimu??" tanya Bang Wira mengulang lagi.
"Kamu tau.. kompi kita ini jadi sorotan karena berita di temukan nya potongan tubuh seorang wanita.. kepala yang terpenggal" ucap Bang Wira.
"Sa_saya tidak paham Dan" jawab Marto terbata.
"Katakan sekarang juga dan saya yang menangani atau kamu saat ini juga berurusan dengan penjara militer..!!" perintah Bang Wira.
Marto terdiam lalu mengatur nafasnya sebelum bicara.
"Istri saya selingkuh dan hamil dengan pria lain saat saya berdinas ke luar kota. Saya dinas enam bulan.. dan istri saya hamil empat bulan. Saya sakit hati Komandan..!!"
Astagfirullah hal adzim.
Bang Wira ikut berpikir sejenak meresapi kejadian ini. Menjadi pasangan seorang abdi negara tidaklah mudah, harus setia dan kuat mental. Siap apapun yang akan terjadi nanti. Mulut bisa mengatakan siap, tapi hati.. belum tentu. Hati adalah masalah pribadi manusia dengan Yang Di Atas.
"Saya mengerti perasaanmu. Tapi kamu sudah melakukan kesalahan fatal dan harus siap menebusnya." kata Bang Wira.
"Baik komandan.. tapi sebelum itu, saya ingin mempersiapkan kepulangan putra saya satu-satunya." pinta Marto.
"Pihak dinas akan membantu, asal kamu juga kooperatif" jawab Bang Wira.
"Siap Dan"
"Katakan.. dimana saja kamu sembunyikan bagian tubuh almarhumah istri mu..!!"
***
Bang Wira membantu Marto memulangkan putra semata wayangnya. Dinda membawakan tas berisi titipan dari sang suami. Ada baju yang bagus, makanan, sampai uang untuk putra Marto.
"Tante, Papa sama Mama kemana?" tanya putra Marto pada Dinda.
Dinda menghapus air matanya tak tega melihat anak sekecil itu sudah menerima takdir yang pahit.
"Papa sama Mama kerja nak" jawab Dinda.
.
.
.
__ADS_1
.