
"Hmm.. pasti istrimu nggak minum obatnya nih"
"Aku belum check sama sekali Nick. Belakangan ini aku sibuk sekali."
"Ini ada faktor psikis Wir, wajah istrimu ini seperti menyimpan beban pikiran. Lelah badan juga pikiran. Coba nanti setelah sadar, kamu bicara dari hati ke hati bersama istrimu." saran dokter Nick.
"Aku ingin tanya, obatnya Dinda.. apakah nantinya berpengaruh langsung pada janin?" tanya Bang Wira.
"Sedikit banyak, obat medis pasti punya pengaruh. Tapi sejauh ini, aku dan dokternya Dinda sudah mengganti obatnya dengan obat yang sedikit lebih aman" jawab Dokter Nick.
...
Bang Wira memijat kaki Dinda, istrinya itu baru saja sadar.
"Pak, ini air hangat untuk ibu." Bi Onah meletakan gelas itu di atas meja nakas.
"Terima kasih bi"
"Kalau boleh tau, ibu sakit apa ya Pak?" tanya Bi Onah.
"Dulu istri saya ini punya riwayat sakit jantung yang parah, dan baru sehat setelah mendapat donor jantung dari almarhumah istri saya" jawab Bang Wira.
"Mungkin kondisinya sedang drop saja. Biasanya juga nggak apa-apa bi"
"Oohh begitu pak. Baiklah saya akan bantu ibu sebisa mungkin. Insya Allah Neng Asya aman sama saya" kata bibi.
"Terima kasih banyak ya Bu..!!"
"Sama-sama Pak Wira"
...
Malam harinya, Bang Siregar melihat Lena menggendong Nala dengan posisi yang tidak benar dan membuat Nala menangis.
"Biar Nala sama saya saja bi" pinta Hazna yang tidak tega melihat Nala terus menangis.
"Mbak ini siapa? Kita nggak boleh biasakan bayi itu manja. Kita harus buat bayi nurut sama kita" jawab Lena.
Hazna menoleh pada Bang Siregar dan meminta bantuan karena Lena tidak mau menyerahkan Nala padanya.
"Biar Hazna yang gendong" kata Bang Siregar.
"Oohh.. ya sudah. Saya mau mandi dulu. Mau malam mingguan..!!"
__ADS_1
"Kamu nggak boleh pergi kemana-mana Lena. Pagi tadi kamu baru datang dan seenaknya sendiri kamu mau pergi jalan-jalan. Kamu harus belajar mengenal Asya dan Nala..!!!" tegur Bang Siregar.
"Saya bisa laporkan bapak karena melanggar hak asasi manusia" Lena dengan seenaknya melenggang pergi dan berjalan masuk ke kamar belakang.
"Ada apa dia itu?? Sungguh kurang ajar." Bang Wira mulai geram dengan tingkah Lena.
"Kau dapat dia darimana Wira???"
"Kemarin aku posting butuh assisten di medsos. Aku dapat Bi Onah dari lembaga penyaluran tenaga kerja resmi, sedangkan Lena.. langsung masuk di medsos ku" jawab Bang Wira.
"Kamu nggak ada curiga Wir?"
"Sejak tadi aku sudah curiga"
"Ayo kita awasi saja. Cemas sekali aku memikirkan dua wanita ini. Apalagi Dinda sampai pingsan. Parah.. bukannya dia yang kerja.. malah menyuruh tuan rumah. Kurang ajar" umpat gemas Bang Siregar.
...
"Apa yang kamu cari????? Kenapa kamu masuk ke dalam kamar Rendra??????" Bang Wira mencekal tangan Lena dengan kasar. Sejak tadi Bang Wira mengikuti gerak-gerik Bi Lena yang tidak wajar.
"Aku mau ambil semua uang Rendra"
"Ada apa??? Jangan main-main kamu disini..!!" bentak Bang Wira.
"Astagfirullah hal adzim.. Rendraaa. Sampai kapan kamu mau berulah terus???" Bang Wira menepuk dahinya, Bang Siregar pun rasanya sampai sulit bernafas karena ulah litting nya itu.
"Bawa saja ke pos POM Wir..!! Jangan ikut campur lagi. Biar nanti bibi pengganti Lena, aku saja yang cari. Kita jangan berurusan dengan apapun yang berhubungan dengan Rendra. Bahaya Wir..!!" saran Bang Siregar.
-_-_-_-_-
"Urus Rendra nggak akan ada habisnya. Kita juga punya urusan sendiri Wir"
"Iya, capek banget gue mikir Rendra. Rendra itu sosok yang pendiam, tapi siapa sangka Rendra malah lebih banyak buat ulah" jawab Bang Wira.
"Lena itu genit sekali, untung adikmu itu nggak lihat ulah Lena, kalau tadi Dinda tau.. mungkin sudah di hantamnya itu si Lena seperti Sahara"
"Hmm.. persiapan pernikahanku sudah final. Ngomong-ngomong.. kamu buat acara apa sih?" tanya Bang Siregar.
"Nggak ada, hanya syukuran saja. Masih banyak anggota yang belum melihat wajah Ibu Wira dengan jelas. Saya mau semua mengenal Dinda dan tidak ada lagi pertanyaan soal istri Kapten Wira"
***
"Ini saudara bibi Pak, namanya Bi Asti. Bibi sendiri yang menjamin kalau Bi Asti tidak akan berulah seperti Lena.
__ADS_1
"Baiklah Bi, saya menerima nya. Tapi tolong jangan sampai kejadian seperti kemarin terjadi lagi. Ini semua anak-anak saya, jangan sampai teledor menjaganya..!!" pesan Bang Wira.
"Saya ngerti Pak Wira" jawab Bi Onah dan Bu Asti bersamaan.
...
Tanpa sepengetahuan Bibi, Bang Wira mengawasi kedua bibi melalui kamera cctv. Hatinya perlahan tenang karena kedua bibi memang benar-benar bisa di percaya dan mampu mengurus Asya serta Nala dengan baik.
"Biar Bi Asti sama aku aja Wir, nggak enak juga khan Bi Asti ada di rumah Rendra sedangkan Rendra masih 'pendidikan' dan Nesya masih proses 'pemulihan'." kata Bang Regar.
"Gitu ya..!! Ya sudah terserah mu saja. Saat ini pikiran ku hanya mau fokus sama Dinda saja. Aku harap kamu ngerti"
"Iya, aku paham. Lanjut saja..!! Aku mau ajak Hazna dan bibi pulang"
"Kamu nggak tinggal di mess????" tanya Bang Wira melihat Bang Siregar memboyong Hazna dan bibi ke rumah Dinas.
Bang Siregar hanya mengedipkan mata dengan tatapan mata nakal.
"Aseemm.. dasar predator berwajah malaikat"
***
"Ijin Ibu, Pak Wira meminta saya untuk mengantarkan perias ini" kata Om Ody.
"Di rias?? Saya hanya akan mendampingi kakak saya di acara resepsi pernikahan. Untuk apa saya di rias?" tanya Dinda.
"Ijin ibu, saya kurang tau. Perintah Komandan hanya begitu saja"
Dinda melihat para perias masuk ke rumahnya membawa pakaian adat Jawa tengah namun sangat indah. Pakaian yang sangat indah menurut Dinda.
"Ini Pak Wira sendiri yang meminta desain nya khusus untuk ibu" kata seorang perias yang melihat Dinda masih terpaku.
"Benarkah itu Bu?" tanya Dinda tidak percaya.
"Ini benar Bu, Pak Wira sendiri yang mengatur semuanya. Saya baru melihat pria yang begitu detail mengatur ini dan itu agar istrinya nyaman"
Dinda tersenyum tersipu malu belum juga menyadari hadiah istimewa dari sang suami.
.
.
.
__ADS_1
.