Sayap Perwira

Sayap Perwira
89. Tak patah arang.


__ADS_3

Silakan cek wall NaraY jika ingin membaca karya Nara. 'Antara loreng dan dirimu'.


🌹🌹🌹


Bang Wira nampak berantakan cemas melihat Dinda tak kunjung sadar padahal penanganan medis untuknya selesai di lakukan.


Sembari mengadzani putranya, mata Bang Wira terus mengawasi Mira saat perawat itu menjahit bagian rahim Dinda usai persalinan.


"Pelan sedikit Mir..!!" tegur Bang Wira usai menyelesaikan adzan.


"Istrimu tak akan merasakan sakit, dia pingsan. Ngomong-ngomong, ini istrimu yang ke berapa? Kemarin kulihat Nyonya Wiranegara bukan yang ini khan?"


"Bukan urusanmu. Lakukan saja tugasmu..!!" jawab Bang Wira kemudian refleks menciumi jagoan kecilnya.


"Apa Abang diam-diam mendua seperti yang Abang lakukan padaku dulu?" tanya Mira pelan.


"Abang sudah jelaskan hal ini sama kamu, bahkan berkali-kali Mir. Jangan memperkeruh suasana dengan segala hal posesif mu itu" jawab Bang Wira kemudian menyerahkan bayi kecilnya pada Bang Siregar yang juga meliriknya.


"Aahh pot, ngeri gue" ucapnya sembari memperhatikan wajah mungil dan lucu dalam gendongannya.


Bang Wira mengangkat tubuh Dinda perlahan menuju mobilnya karena alat inkubator sudah tiba di rumahnya.


-_-_-_-_-_-


Dokter standby masih memantau keadaan Dinda. Sedangkan Bang Wira masih siaga menjaga bayi kecilnya. Ingin rasanya berteriak dan menangis melihat bayinya harus mendapat perawatan khusus.


"Sabar Wir.. Dinda dan anakmu pasti baik-baik saja" kata Bang Siregar menatap keponakannya.


"Kau tau, untuk mendapatkan jagoan ku ini.. butuh perjuangan yang sangat panjang. Ada rasa berdosa saat melihat wajah kecil ini" ucap Bang Wira menahan tangisnya.


"Kau sudah punya nama?" tanya Bang Siregar.


"Ya.. dia Eltiano Al-Fath. Tian.. jiwa yang kuat" jawab Bang Wira.


Bang Aaron dan Bang Siregar merangkul Bang Wira bersamaan.


"Sekuat Papanya. Semangat Bang, demi Mbak Dinda dan anak-anak" kata Bang Aaron.


"Mirip sekali sama wajah Abang"

__ADS_1


"Seperti inginnya Dinda. Dia ingin sekali wajah ini mirip wajahku" senyum Bang Wira menyentuh pipi baby Tian penuh rasa haru yang akhirnya ia tumpahkan juga tangisnya hingga membasahi pipi.


...


Bang Wira menyeka wajah cantik Dinda yang masih belum juga sadar. Setiap wajah Dinda seakan tangisnya ingin pecah saja.


"Tian butuh kamu sayang, cepat bangun..!!"


Dengan lembut Bang Wira membelai rambut indah berwarna hitam legam.


"Kamu marah sama Abang ya? Kamu ingin Abang tutup auratmu khan?" tanya Bang Wira menahan kuat tangisnya.


Bang Wira meletakan handuknya lalu membuka lemari pakaian. Ia baru tau ternyata di lemari itu sudah banyak pashmina yang tertata rapi,. dengan kata lain, mungkin sang istri memang sudah ada keinginan untuk berhijrah. Tak butuh waktu lama ia mengambil pashmina berwarna hijau army warna kesukaan Dinda.


~


"Cantik sekali sayang, apakah Abang terlalu bodoh sampai baru menyadari kalau istri Abang begitu mempesona" Bang Wira menunduk meremas dadanya yang tak sanggup membayangkan kehilangan Dinda. Istrinya sangat cantik tatkala rambutnya indahnya tertutup pashmina.


"Cepat bangun, dunia ini terasa hampa tanpamu"


tok..tok..tok..


"Masuk..!!" perintah Bang Wira.


"Ijin Dan.. saya mau aplosan" kata seorang perawat pria ( dari anggota kesehatan ).


"Siapa gantinya?" tanya Bang Wira.


"Ijin Dan. Perawat yang baru saja datang dari Jawa, namanya Mira." jawab anggota tersebut.


"Cari perawat pria, atau perawat wanita yang sudah senior. Jangan Mira..!! Kalau belum ada yang sesuai dengan kriteria yang saya minta, kamu tetap disini. Saya kasih kamu bonus dua kali gaji, asal jangan Mira yang datang kesini" ucap tegas Bang Wira.


"Siap laksanakan Dan" wajah perawat pria tersebut terlihat sumringah. Tentu saja perawat pria itu senang akan mendapat bonus dua kali gaji.


***


Hingga siang hari belum ada tanda Dinda akan sadar. Bahkan perubahan tanda gerak pun tidak, dan hingga di pagi ini Bang Wira juga belum bisa memejamkan matanya. Ia masih terjaga memandangi wajah Dinda.


"Bang, makan dulu ya..!!" bujuk Alena.

__ADS_1


"Abang nggak lapar" tolak Bang Wira sendu.


"Abang bisa sakit. Kalau Abang sakit, siapa nanti yang akan jaga Mbak Dinda, Asya dan Tian" bujuk Alena lagi.


"Abang nggak lapar Alen..!! Kamu dengar atau tidak??? Sekarang kamu lihat Dinda seperti ini. Ini khan keinginanmu selama ini??" ucap Bang Wira penuh emosi.


Tangan Alena sampai bergetar membawa baki. Bang Aaron yang sempat melihat itu segera mengambil baki dari tangan Alena.


"Ada apa Bang? kenapa marah sama Alen? Dia hanya mengantar makan siang Abang"


"Bilang sama dia, jangan pernah mengganggu ku. Jangankan untuk makan, bernafas pun aku tak nyaman" jawab Bang Wira.


Bang Aaron memahami keadaan kakak iparnya. Ia segera membawa Alena pergi agar tidak sampai membuat keadaan keduanya lebih buruk.


:


"Jangan di ambil hati semua ucapan Bang Wira. Abangmu sedang stress berat karena Mbak Dinda belum juga sadar. Mungkin Abang juga akan bersikap sama jika berada di posisi seperti itu"


"Tapi Bang Wira sudah tidak peduli padaku lagi Bang" Alena sungguh sedih melihat perubahan sikap Bang Wira padanya.


Bang Aaron memeluk Alena dengan erat, bobot Alena kini jauh lebih terasa di pangkuannya.


"Beri Bang Wira ruang untuk tenang. Hatinya sedang gelisah luar biasa. Seharusnya kamu bisa lebih bijak menanggapi sikap Abangmu. Sekarang alihkan pikiranmu untuk si kecil kita, melihat Mbak Dinda sakit buat Abang jadi was-was"


...


"Bang.. ini aku bawakan makan siang. Mau aku suapi??" tanya Mira yang entah sejak kapan bisa masuk ke dalam kamarnya.


"B*****t.. Siapa yang mengijinkanmu masuk ke kamar ini?????" bentak Bang Wira menutupi tubuhnya dengan handuk. Amarah meledak saat Mira masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.


"Kenapa sikap lembut Abang mendadak hilang. Apa istrimu sudah jauh mengubah dirimu Bang?"


"Jaga bicaramu Mira..!!!!!" tegur Bang Wira.


"Istrimu punya sakit jantung yang parah. Usianya tidak mungkin lama lagi. Apa yang Abang harapkan dari wanita seperti ini??" tanya Mira lebih tenang. Mata itu terus memperhatikan wajah Dinda yang tetap cantik bagaikan putri yang sedang tidur.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2