Sayap Perwira

Sayap Perwira
68. Persiapan.


__ADS_3

"Bisa nggak kalau marah, nggak pakai minggat dari rumah?" tegur Bang Wira sembari mendekap erat Dinda.


"Dinda kesal sama Abang"


"Iyaa.. Nanti ngambeknya lanjut di rumah, kasihan dedek kalau di ajak berantem" bujuk Bang Wira.


"Kenapa Wir?" tegur Bang Siregar yang melihat Bang Wira bersandar sembari memejamkan matanya.


"Lemes ngrasain bini ngambek. Rasane atiku Gar..!!" Bang Wira memijat pelipisnya masih terasa syok.


Dinda merasakan detak jantung Bang Wira begitu kencang. Terlihat sekali suaminya merasakan takut yang teramat sangat.


"Abang sayang Dinda nggak?" tanya Dinda.


"Abang sudah berantakan begini, kamu masih tanya sayang atau tidak? Luar biasa istri Abang ini" jawab Bang Wira.


"Abang tinggal bilang. Abang sayang Dinda atau tidak?"


"Nggak.. istri merepotkan" Bang Wira masih mendekap Dinda meskipun istrinya itu sudah ingin lari saja darinya.


Mata Dinda masih melirik Bang Wira dengan kesal. Bang Wira pun membuka matanya.


"Abang sayang. Sayang sekali sama kamu" Bang Wira mengecup kening Dinda tapi tiba-tiba terdengar bunyi keroncongan dari perut Bang Wira.


"Abang lapar?" tanya Dinda.


"Lapar lah, cari kamu dari pagi sampai malam." jawab Bang Wira.


Dinda terdiam memandangi wajah Bang Wira.


"Bang Regar, kita cari makan dulu ya. Kasihan Bang Wira kelaparan." kata Dinda mulai cemas melihat wajah Bang Wira yang begitu letih.


"Kamu ini. Abang juga lapar nih. Wira saja yang kau urus." protes Bang Regar.


Dinda tak peduli protes dari Abang iparnya itu. Dalam pikirannya hanya ada Bang Wira yang seperti nya sedang tidak enak badan.


...


Dinda menutup mulutnya karena kembali merasa mual dan Bang Wira segera berlari ke toilet rumah makan di susul Bang Siregar.


"Banyak dosa nih, anakmu aja sampai ngambek begitu" ledek Bang Siregar.


"Bisa nggak wajahmu nggak ada di depanku. Rasanya aku pengen menghajarmu..!!" Bang Wira melirik kakak iparnya itu seolah penuh dendam.


Bang Siregar tak menggubris dan secepatnya membantu Bang Wira kembali ke mejanya.

__ADS_1


~


Malam ini sungguh banyak drama, Bang Wira sudah segar seperti sedia kala tapi setiap Dinda tidak menyukai makanan yang di hidangkan di atas meja, seketika itu juga Bang Wira akan mual sampai akhirnya Dinda bisa melahap krengsengan dan barulah Bang Wira bisa makan dengan tenang.


"Dedek sudah nggak marah lagi khan sama Papa? Papa minta maaf. Papa sayang Mama sama dedek" bujuknya sembari mengusap perut Dinda.


"Iya Papa" jawab Dinda akhirnya tidak tega juga melihat Bang Wira begitu tersiksa tapi mau bagaimana lagi, ini semua bukan keinginannya.


"Sampai di rumah, kamu harus istirahat total. Besok siang kita sudah berangkat. Abang pasti akan jaga kamu, tapi kamu juga nggak boleh teledor dengan keadaan badanmu sendiri. Kamu pengen sehat khan?" kata Bang Wira mengingatkan.


Dinda mengangguk menurut. Rasanya ia sudah tidak punya daya lagi untuk ribut dan berselisih pendapat dengan Papa Asya itu.


-_-_-_-_-


Bang Siregar sudah pulang ke rumahnya. Kini hanya tersisa Bang Wira packing barang untuk keberangkatan tugasnya esok. Sejak dalam tugas kemarin, Bang Wira sudah prepare untuk keberangkatan nya esok.


"Bang, apa Alen kembali saja ke rumah kita di Bogor. Papa masih ada tugas ke Rusia sama Mama" Tanya Alena.


"Kamu ikut Abang..!!" jawab Bang Wira sembari mengebulkan asap rokok dari sela bibirnya.


"Alena nggak enak sama Mbak Dinda"


"Kalau kamu nggak enak sama Mbak mu ya kamu bantu jaga Asya. Dinda khan sedang hamil pasti rasa capeknya berlipat-lipat, sering pusing bawaannya mual terus" kata Bang Wira beralasan.


"Alena nggak ada hubungan apa-apa sama Bang Aaron kok Bang"


"Kamu pengen Abang apakan Alen???? Jangan pernah membohongi Abang tentang masalah seperti ini. Kamu sudah mencoreng nama Papa. Kamu juga sudah menampar wajah Abang dengan kelakuanmu. Pokoknya besok kamu harus ikut dengan Abang. Pakai pakaian yang sopan. Kita naik pesawat militer, sesuaikan dengan aturan yang berlaku..!!" perintah tegas Bang Wira.


"Iya Bang. Alen ngerti"


***


Pagi hari Dinda melihat Bang Wira duduk dan tertidur memegang tasbih masih bersandar di sisi ranjang. Mungkin usai sholat subuh.


Dinda pun akhirnya bangkit dan melaksanakan kewajibannya juga.


:


Dinda menyentuh punggung tangan Bang Wira tapi tanpa sadar Bang Wira refleks berjingkat dan hampir menampar Dinda.


"Astagfirullah.. ada apa dek? Kena tangan Abang nggak??" tanya Bang Wira mencari disana sini jika mungkin dirinya menyakiti sang istri.


"Nggak Bang. Abang kenapa nggak tidur di ranjang?"


"Abang ketiduran dek." Bang Wira membelai rambut Dinda.

__ADS_1


"Kamu cantik sekali pakai mukena ini" ada rasa rindu yang mendera batinnya. Bang Wira mendekatkan bibirnya, menggigit kecil bibir Dinda dengan sayang kemudian Bang Wira tersenyum membawa Dinda ke atas ranjang.


"Kita sapa dulu si kecil kita..!!"


...


Bang Wira memberikan penghormatannya untuk Danyon dan Bang Bayu membalasnya.


"Selamat menjalankan tugas di tempat yang baru Kapten"


"Siap.. Terima kasih Komandan..!!"


"Semoga di tempat yang baru kamu semakin tenang menjalani hidup bersama keluarga"


"Aamiin.. Insya Allah Bang."


:


"Selamat jalan Komandan..!!" Pak Amar memberikan penghormatan pada Bang Wira. Kapten luar biasa yang sudah berhasil membongkar sindikat dan kejahatan besar hingga anak dan istri menjadi korban. Rekan team seperjuangan Bang Wira pun tak kalah sedihnya harus berpisah dari Komandan yang memiliki dedikasi tinggi, namun hidup harus terus berjalan.


...


"Dinda pusing Bang" rasa mual Dinda semakin menjadi saat mencium aroma bahan bakar pesawat.


Tak tahan lagi, seperti biasa Bang Wira selalu tertular rasa dari Dinda sampai Bang Aaron dan dan Bang Siregar harus membantunya.


"Enam jam perjalanan. Kamu harus kuat..!!" kata Bang Siregar.


"Aku kuat saja, asal adikmu jangan mual" jawab Bang Wira.


"Jangan suka membicarakan Dinda di belakang, kalau anakmu ngambek.. kamu juga yang susah"


Di tempatnya, Alena menggosok punggung Dinda sembari mengunyah jambu air bersama Hazna tanpa rasa bersalah sedangkan ketiga pria tengah sibuk sendiri.


"Mbak Dinda, apa jabatan Abang di sana?" tanya Alena.


"Dansat Pasukan Khusus. Wilayah distrik penuh konflik" jawab Dinda.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2