
"Kalau Bu Wira merasa kurang sehat, lebih baik ibu istirahat saja.. biar saya yang kerjakan tugasnya, nanti ibu tinggal tanda tangan saja..!!" kata Bu Amar menyarankan.
"Saya nggak apa-apa Bu, sudah sehat" tolak Dinda.
"Bu, berapa bulan kehamilan wanita bisa terlihat?" tanya Dinda. Hari berganti hari namun ia tidak merasakan apapun.
Bu Amar yang memahami keadaan dan pertanyaan Dinda mencoba untuk netral dan logis sebab Kapten Wira juga tidak sedang berada di tempat karena tugas luar terakhir, salah bicara pun nanti akan membuat semuanya runyam.
"Ijin Ibu, kehamilan setiap wanita itu berbeda. Ada yang usia menjelang tiga bulan sudah terlihat, tapi ada juga yang hingga usia kehamilan enam bulan juga belum terlihat. Jadi ibu jangan cemaskan hal itu"
"Hmm.. kalau terasa gerakan atau tendangan bayi, itu umur berapa Bu?" tanya Dinda lagi.
"Biasanya di usia kandungan dua puluh minggu di kehamilan pertama tapi juga tidak menutup kemungkinan akan terasa di minggu ke enam belas" jawab Bu Amar.
Dinda hanya bisa mengusap perutnya yang masih saja terlihat rata, bahkan tanda mual pun tidak ada.
...
"Besok Abang pulang dek. Nggak mungkin lah, sebentar lagi khan kita mau pindah"
"Iya Bang"
"Baju sudah di pack sama bibi?"
"Sudah Bang, hanya baju seragam saja yang di sisakan seperti pesan Abang." jawab Dinda.
"Iya benar. Kamu jangan terlalu capek. Jangan memaksakan tenaga juga untuk jagain Asya, dia mulai gemuk dan banyak tingkah. Kalau kamu sudah lelah.. cepat istirahat..!!"
Bang Wira paham betul Dinda sangat menyayangi Asya, segala kebutuhan Asya perhari nya saja semua Dinda yang menentukan. Makan pun Asya tidak akan mau jika tidak bersama Dinda.
"Iyaa Abang.. Dinda paham"
***
Bang Siregar baru mendapatkan kabar dari Hazna kalau istrinya itu sedang mengandung, rasa bahagia itu terpancar dari wajah Bang Siregar. Melihat kebahagiaan sahabatnya itu, Bang Wira bukannya tidak senang.. tapi dalam pikirannya selalu terbayang wajah Dinda yang begitu menginginkan buah hati tapi sebagai seorang suami dirinya belum bisa memenuhi keinginan sang istri. Saat Dinda sudah mulai berani menghadapi kehamilannya, ia tidak bisa memeluk buah hatinya.
"Broo.. Hazna minta di belikan kelinci. Cari dimana ya?" tanya Bang Siregar.
"Di pasar dekat alun-alun kota Banyak. Nanti kalau pulang khan sekalian lewat" jawab Bang Wira kurang bersemangat.
"Oke.. thanks infonya"
Bang Wira hanya menjawabnya dengan senyum kecut.
-_-_-_-_-
"Ini tehnya Bu..!!" Bu Amar membantu Dinda meminum tehnya bersama obat.
Jantung Dinda terasa berat dan berpacu lebih cepat hingga membuat dadanya sesak.
Beberapa menit berlalu rasa sakit itu tak kunjung mereda hingga kepalanya terasa pening.
~
"Hhhkkkk..!!!" Di dekat pasar Bang Wira memuntahkan isi perutnya membuat para anggota ikut turun dari truk dan sibuk membantu komandan muda itu.
__ADS_1
"Abang masuk angin kali, semalam Abang juga nggak tidur kepikiran istri Abang. Ini mau saya kerokin Bang?" tanya Bang Aaron.
"Nggak, tolong belikan saya es jeruk nipis" pintanya pada Bang Aaron sambil menyerahkan selembar uang.
"Lidah saya pahit sekali"
:
Dalam hitungan detik es jeruk nipis itu langsung habis tanpa sisa.
Bang Siregar yang melihat itu sampai menggeleng kepala.
"Es jeruk nipis yang asamnya tiada rupa kau habiskan sekali teguk. Bukannya sembuh mualmu malah jadi asam lambung"
"Tapi rasa asamnya ini bisa menetralkan rongga mulutku, rasanya pahit sekali tadi" jawab Bang Wira sembari memijat tengkuknya yang terasa tak karuan.
...
Truk sudah tiba di Batalyon. Seakan tidak terjadi apapun, Bang Wira turun dari truk dengan gagah. Matanya menyisir keadaan sekitar mencari Dinda yang tidak terlihat sama sekali padahal banyak ibu-ibu yang berlalu lalang mengerjakan ini dan itu.
Begitu turun dari truk, Bang Siregar langsung mencari Hazna. Nyata terasa kebahagiaan Bang Siregar karena akan segera memiliki momongan.
Bang Wira melangkah tidak pasti. Rindu pasti ada dan akan selalu terasa tapi ia sangat takut mengatakan kebenaran yang akan mempengaruhi jantung Dinda.
"Cari siapa Pak?" .
Refleks Bang Wira menoleh ke arah suara yang menyapanya. Senyum Bang Wira mengembang.
Dari jauh Dinda melihat seorang gadis menarik Bang Wira di suatu tempat lalu memeluk Bang Wira dengan erat.
"Kamu harus tahan Dinda.. Mata mungkin saja salah, tapi tidak mungkin suamimu mengkhianatimu" gumamnya menguatkan hatinya, tapi hati wanita tetaplah hati yang lembut. Ada rasa sakit yang sungguh tidak bisa ia hindari.
~
"Jangan begini Alen..!! Kakak iparmu bisa salah paham..!!" tegur Bang Wira menegur adik kandungnya.
"Dia jauh lebih muda dariku"
"Tidak ada alasan..!! Kamu tidak hormat dengan kakak iparmu, Abang sendiri yang akan memberi mu pelajaran" ancam Bang Wira.
"Aku mau tau rupa si janda itu..!!" kata Alena kemudian melepas pelukan Bang Wira dan berjalan menemui Dinda.
"Jangan macam-macam Alen.. Dinda itu bukan janda. Yang sopan kamu..!!" Bang Wira menarik tangan Alena.
"Iiiihh... lepas Abang.. Sakit..!! Lagi pula kenapa juga sih Abang pilih dia. Seperti nggak ada perempuan lain saja" kata Alena.
"Sekali lagi Abang ingatkan, jangan bertingkah. Kamu yang memilih pergi ke luar negeri tidak mau tau berita apapun tentang Abang disini. Dinda hanya tau namamu di medsos sebagai Renata dan bukan Alena. Jangan memperkeruh situasi..!!!"
"Iyaaaa...."
Bang Wira pun melepaskan tangan Alena dan percaya dengan adik kandungnya itu.
"Yang mana ruangan Dinda??"
"Mbak Dinda..!!!" Bang Wira mengajarkan sopan santun pada adik perempuannya itu.
__ADS_1
"Itu, ruangan yang ada ibu-ibu berdiri di depan pintu"
Alena pun berjalan ke tempat yang di tunjukan Bang Wira.
"Bang.. itu siapa ya??" tanya Bang Aaron.
Bang Wira mengeryitkan dahi sembari melihat ekspresi adik littingnya.
"Beban mental Abang. Kenapa??"
"Oohh.. Hmm.. Ijin Bang, boleh saya kenalan sama beban mental Abang itu?" tanya Bang Aaron.
"Buat apa? Kelakuannya nggak beda jauh sama Dinda. Bisa jungkir balik kamu di buatnya"
"Ijin Bang, kalau memang boleh saya lebih mengenal beban mentalnya Abang. Saya rela di jungkir balik" jawab Bang Aaron.
"Pak Wira..!!! Ibu Pak..!!" tiba-tiba Bu Amar berteriak memanggil Bang Wira.
Tak peduli dengan apapun lagi, Bang Wira segera melihat apa yang terjadi.
"Astagfirullah.. Dindaa..!!" Bang Wira membetulkan posisi tidur Dinda di atas sofa karena tidak ada yang berani banyak menangani istri Kapten Wira.
Bang Wira kelabakan mencari obat Dinda.
"Pak, ibu juga belum lama minum obat. Dari tadi ibu sudah tidak enak badan" kata Bu Amar.
"Ya Allah, aku harus bagaimana ini??" Bang Wira mencari oksigen kecil di tas Dinda yang biasanya selalu Dinda bawa kemana-mana.
"Dinda kenapa Bang??" tanya Alena cemas dan takut.
"Kamu bilang apa sama Mbak mu??" tanya Bang Wira.
"Nggak bilang apa-apa Bang" jawab Alena takut.
"Jangan bohong..!!!!"
"Alen bilang selingkuhan Abang" Alen memainkan jemarinya sambil menyembunyikan sesuatu di balik bajunya. Bang Wira segera berdiri dan mencari apa yang ada di balik baju Alena lalh mengambilnya.
"Apa ini Alena??" Bang Wira mengangkat bantal leher tipis dari perut Alena.
"Kamu bermain-main dengan hal ini untuk mengerjai Dindaa??????" bentak Bang Wira.
"Alen nggak sengaja Bang" Alena sudah menangis karena Abangnya sudah begitu marah.
"Makanya di pakai pikiranmu itu..!!"
Alena berlari keluar kamar karena ini adalah kali pertama Bang Wira begitu marah padanya. Saat Alena pergi Bang Wira kembali fokus pada Dinda yang sudah dalam keadaan sangat lemah.
"Dindaa.. Ayo bangun dek..!! Jangan buat Abang takut..!!"
.
.
.
__ADS_1
.