Sayap Perwira

Sayap Perwira
34. Belajar tegar.


__ADS_3

"Apa Wira baik?" tanya Bang Regar.


"Baik Bang, tadi juga di antar Bang Wira kok pulangnya" jawab Dinda dengan senyumnya yang seperti di paksakan.


"Bagaimana Asya, apa masih rewel?"


"Tadi waktu Dinda tinggal, Asya masih nangis Bang" wajah Dinda pun berubah sendu.


Bang Regar mengangguk dan menganggap semua dalam tahap baik-baik saja.


...


"Dedek kenapa nangis terus?? Papa nggak bisa kerja nih. Asya mau apa sih sayang???" tanya Bang Wira yang kocar-kacir antara menyelesaikan pekerjaan dan merawat putrinya.


Ia pun memberikan susu botol yang tadi pagi di buatkan Dinda untuk putrinya.


//


"Asyaaaa..!!!! Asya kenapa sayang????" Bang Wira kebingungan saat Asya terus muntah, matanya pun sampai melotot. Bang Wira segera mengambil perlengkapan Asya dan menggendongnya lalu membawa putrinya ke rumah sakit.


...


"Ini susu sudah di ambang basi Wir, untung saja kamu segera membawa putrimu ke rumah sakit" kata seniornya yang juga seorang dokter.


"Ya Allah Bang, lemas saya lihatnya" kaki Bang Wira sungguh sulit di gerak kan. Ia langsung terduduk, perasaannya sangat takut terjadi sesuatu pada putri semata wayangnya itu.


"Mungkin kamu harus mempertimbangkan pengasuh untuk Asya. Kamu juga tidak mungkin melihat dan merawatnya setiap saat. Kejadian ini sudah merupakan teguran untuk kamu. Kita sebagai pria tetap sangat membutuhkan makhluk bernama wanita" kata seniornya.


"Akan saya pertimbangkan Bang" jawab Bang Wira.


"Kalau anakmu ini sudah sedikit lebih besar, mungkin dia akan lebih bisa mengerti..Tapi masalahnya bayimu ini masih berusia satu minggu Wira. Kamu juga tidak bisa mengandalkan orang tuamu karena mereka sudah terlalu sibuk dalam kunjungan kerja, tak mungkin membawa putrimu" kata dokter mengingatkan.


"Siap Bang"


...


Malam hari Bang Wira masih terjaga untuk menjaga putrinya. Ia mengingat waktunya untuk libur sudah terlalu panjang. Semua yang di katakan seniornya itu memang benar, tak mungkin dirinya membawa Asya kerja lapangan.


"Asya sayangnya Papa.. maaf ya nak, Papa yang mencelakai kamu. Papa kurang sabar merawatmu. Kalau saja Mamamu tau ada kejadian seperti ini, mungkin Mama akan mengutuk Papa" ucap Bang Wira yang tidak tega melihat putrinya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit karena kelalaiannya.


***


Pagi hari Bang Wira membuka pintu ruang rawat Asya. Tak di sangka Bang Regar sudah berdiri di depan pintu kamar.


"Kamu??? Kenapa ada disini??" tanya Bang Wira.


"Tadinya aku nggak tau kamu ada disini. Nickolas yang kabari aku kalau Asya sakit. Semalam Dinda demam dan terus mengigau memanggil nama Asya.. juga sampai menyebut nama mu. Sebenarnya kemarin pagi ada kejadian apa? Setelah pulang dari rumahmu, Dinda mengurung diri di kamar sampai akhirnya aku tau dia demam" jawab Bang Regar.

__ADS_1


"Boleh aku bertemu Dinda?"


"Boleh saja" Bang Regar pun mengijinkan.


//


Beberapa menit di kamar rawat Dinda. Bang Wira hanya bisa diam menatap wajah Dinda. Paras cantik, kulit putih langsat. Gadis cantik itu masih tidur.


"Apakah Abang harus menjilat ludah Abang sendiri?? Kenapa Allah memberikan pilihan yang sulit untuk Abang" ucap Bang Wira.


Bang Wira menidurkan Asya di samping wajah Dinda. Reaksi yang sama persis seperti saat Bang Wira menidurkan Asya di samping almarhumah istrinya. Sebulir air mata Dinda menetes membasahi pipi. Hati Bang Wira pun kacau balau di buatnya.


Abang tidak tau pertanda apa ini Adinda.. sembilan hari kepergian mu sudah meninggalkan cerita lara. Dunia ini begitu panjang untuk Abang jalani. Apakah harus Dinda ini yang mengasuh putri kita hanya karena jantungmu ada padanya??.


Perlahan mata Dinda terbuka, ada wangi bayi yang sangat ia sukai.


"Asyaa??" senyumnya tersinggung tipis saat melihat Asya tidur di sampingnya. Tapi senyum itu mendadak hilang saat melihat pria dingin berwajah datar duduk di sampingnya sambil mengawasi Asya.


"Wajah apa itu? Kamu nggak suka ada Asya?" tanya Bang Wira.


"Jelas saja suka, hanya nggak suka sama papanya. Cepat Abang keluar..!! Bang Regar nanti bisa tunjukan pintu keluar..!!" jawab Dinda seolah membalas sikap Bang Wira kemarin.


"Kamu usir Abang??? Ya sudah sini, Asya Abang bawa lagi" ancam Bang Wira.


"Bawa saja kalau bisa" dengan santai Dinda menjawabnya sembari menyentuh pipi Asya dengan punggung jarinya.


"Gusti Allah.. iki piye sih" Bang Wira sampai menepuk dahinya melihat reaksi usil sang putri.


"Kalau Abang mau berangkat kerja, berangkatlah Bang. Biar Asya sama Dinda" jawab Dinda yang seakan mengerti kegundahan hati Bang Wira.


"Kata siapa Abang kesini untuk bicara masalah itu. Kamu saja tidak kuat menyangga badanmu sendiri" ledek Bang Wira.


"Abang hanya mau bilang, jangan banyak berharap. Karena Asya akan terus bersama Abang"


"Tentu saja. Karena Asya adalah putri Abang, selamanya Asya akan menjadi putri kesayangan Abang" jawab Dinda.


Mata Bang Wira berkaca-kaca. Entah apa sebenarnya keinginannya. Tapi ia segera memalingkan wajahnya.


"Jika kamu memang mau membalas budi istri Abang.. setelah sembuh nanti dan kamu sudah siap.. datanglah ke rumah Abang. Bantu Abang mengasuh Asya..!!"


"Pasti Bang..!!"


"Sebelumnya.. kamu tulis dan tanda tangan disini..!! Ini surat bermaterai. Jika hatimu siap.. hubungi Abang" Bang Wira menyerahkan nomer ponselnya pada secarik kertas yang ia berikan pada Dinda.


"Tulis apa Bang?" tanya Asya.


...

__ADS_1


Bang Wira menengadah, tangisnya bercucuran.


"Bismillahirrahmannirrahiim.. Mudah-mudahan aku tidak salah langkah" Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


***


Satu setengah bulan telah berlalu, Bang Regar harus segera kembali ke kota sebelah. Ia mengantar Dinda ke rumah Bang Wira. Bolak balik antar kota membuatnya benar-benar kewalahan.


Begitu bertemu Asya.. Dinda langsung menggendong bayi mungil itu, bayi yang selama ini hanya ia tenangkan lewat video call kini sudah bisa ia peluk. Dinda pun sudah pulih dan sehat.


"Jaga Asya baik-baik Wir, ini semua kamu yang memintanya..!!" kata Bang Regar.


"Ngomong-ngomong kenapa mendadak??"


"Karena adikmu baru menghubungiku dan memberi kepastian dua hari yang lalu." jawab Bang Wira.


"Baiklah.. aku nggak bisa lama-lama disini. Aku harus lajur. Besok pagi juga harus masuk kerja" kata Bang Regar.


"Oiya, ini surat yang kamu butuhkan" Bang Regar menyerahkan berkas yang Bang Wira minta.


"Oke.. terima kasih" Bang Wira menerima surat-surat itu dan melihat isinya.


"Dinda sudah tau??"


"Taunya hanya jadi 'pengasuh' anakmu saja"


Bang Wira tersenyum tipis, sesaat kemudian matanya terbelalak.


"Dinda lulusan luar negeri???"


"Jangan di pikirkan. Yang penting dia pernah sekolah" jawab Bang Regar.


Bang Wira menutup berkas yang lain dan perhatian nya terfokus pada Dinda dan Asya.


"Repotnya jadi pengasuh orang berduit. Berkasnya banyak betuuull.." ledek Bang Regar.


"Kau mau adikmu aman atau tidak??? Kau lihat dulu, di lingkungan apa kita tinggal?????"


"Oke lah bro. Titip Dinda. Sampai kau buat Dindaku nangis, kau akan berhadapan dengan Abangnya. Siregar..!!!!"


"Iyeeee.. Abang..!!" jawab Bang Wira malas.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2